Trigol diciptakan Mateta yang bermakna satu poin bagi Crystal Palace. Di sudut lain, Eli Junior Kroupi berpotensi menjadi permata baru yang ditempa Bournemouth.
19 Okt 2025 00:42 WIB · Olahraga
LONDON, SABTU — Jean-Philippe Mateta menjalani pekan paling berkesan dalam 10 tahun karier profesionalnya. Setelah mengecap laga debut dan gol perdana bersama tim nasional Perancis, Mateta mencetak hat-trick keduanya di Liga Inggris demi menghindari Crystal Palace dari kekalahan saat jumpa Bournemouth, Sabtu (18/10/2027), di Stadion Selhurst Park.
Mateta memulai pekan ini dengan mendapat menit pertama berseragam timnas Perancis, 11 Oktober lalu. Durasi 11 menit pada gim kontra Azerbaijan menjadi penanda dirinya mulai diperhitungkan sebagai bagian skuad ”Les Bleus” menyambut Piala Dunia 2026.
Pemain berusia 28 tahun itu menjejaki kesempatan perdana sebagai pemain utama timnas Perancis ketika kontra Eslandia di Stadion Laugardalsvöllur, kota Reykjavik. Kepercayaan Pelatih Perancis Didier Deschamps itu tidak disia-siakan Mateta untuk mencetak gol perdananya di gim internasional.
Hanya berselang empat hari setelah mencetak gol debut untuk Les Bleus, Mateta membantu Palace mengemas satu poin dalam gim penuh drama berakhir 3-3 menghadapi Bournemouth. Trigol itu membuktikan Mateta bisa mengangkat timnya sekaligus menjadi pemain pembeda bagi ”Si Elang”, julukan Palace.
Tim tuan rumah tertinggal sepasang gol melalui sumbangan gol penyerang remaja Bournemouth, Eli Junior Kroupi. Pemain berusia 19 tahun itu mencetak dua gol dari dua tembakan yang dihasilkannya pada menit ketujuh dan ke-38.
Di babak kedua, panggung sepenuhnya milik Mateta. Penyerang setinggi 1,92 meter itu menyamakan kedudukan melalui dwigol yang hanya berjarak lima menit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/19/7f90c93896c4e63a574fa23226a6575b-1000021927.jpg)
Sepasang gol itu merupakan bukti Mateta telah tumbuh menjadi penyerang klinis yang pintar mencari ruang di kotak penalti lawan. Pada gol pertama, ia menyontek umpan silang enak dari bek sayap Palace, Daniel Munoz, di menit ke-64.
Kemudian pada menit ke-69, tembakan Munoz bisa ditepis kiper Bournemouth, Dorde Petrovic. Bola tepisan itu jatuh di posisi Mateta berdiri sehingga ia tak kesulitan menggetarkan jala gawang ”The Cherries”, julukan tim tamu, untuk kali kedua.
Bournemouth sempat lebih dekat dengan tiga poin melalui gol pemain pengganti, Ryan Christie, satu menit sebelum waktu normal babak kedua rampung. Namun, Mateta mampu memanfaatkan peluang penalti untuk kembali menyakan angka di papan skor pada menit 90+7.
”Saya menjalani mimpi yang terwujud bersama Perancis. Sekarang saya sudah kembali ke Crystal Palace dan melanjutkan kerja keras. Ada semangat fantastis di tim ini, kami tidak menyerah,” ucap Mateta kepada BBC seusai pertandingan.
Sejak membela Palace pada musim 2021-2022, Mateta sudah mengalami koleksi hattrick kedua untuk Si Elang. Trigol pertamanya dalam sebuah laga tercipta pada gim pamungkas musim 2023-2024 menghadapi Aston Villa.
Berselang 17 bulan, Mateta kembali menghadirkan hattrick untuk Palace di Liga Inggris. Lima gol sudah dicetak penyerang asal Sevran, Perancis, itu di kompetisi sepak bola tersengit musim ini dari delapan penampilan.
Mateta telah mencetak lima gim berbuah trigol dalam karier profesionalnya yang dihiasi membela lima klub. Satu hattrick dihasilkan ketika membela tim Liga Perancis, Le Havre, kemudian dua catatan gol cemerlang itu dicetak saat mengenakan seragam Mainz 05 di Liga Jerman.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/19/410a72f516955740abb09f2d4aa0dd25-Britain_Soccer_Premier_League_3_.jpeg)
Torehan hattrick di Jerman sudah disejajarkannya di Inggris. Tak ayal, Mateta bisa mengoleksi lebih banyak trigol dalam satu gim bersama Palace.
”Saya sangat frustrasi menghadapi kesempatan terakhir, tetapi saya berbicara dengan rekan setim untuk menenangkan diri, lalu berusaha sebaik mungkin memanfaatkan itu,” kata Mateta, yang sudah mencetak 53 gol dari 165 gim untuk Palace.
”Untuk pendukung, ini gim yang menghibur. Di sisi lain, situasi tentu tidak menyenangkan bagi manajer ketika kami tertinggal 0-2. Kami baik bisa terhindar dari kekalahan, tetapi tujuan kami tetap tiga poin,” tambahnya.
Satu poin di pekan kedelapan membuat Palace tertahan di peringkat kedelapan. Mereka gagal merangsek ke empat besar. Sementara Bournemouth untuk sementara berada di posisi keempat.
Manajer Palace Oliver Glasner tidak pernah meragukan karakter timnya. Ia pun senang dengan cara bermain dan kreasi peluang yang dihasilkan anak asuhannya.
”Saya pikir tidak ada hal yang bisa kami lakukan meskipun lawan tampil lebih efektif. Jika melihat detail permainan, kedua tim memainkan performa yang seimbang. Setelah tertinggal, kami tetap menjalankan rencana kami dan ini hasil yang kami dapatkan,” tutur Glasner.
Adapun Manajer Bournemouth Andoni Iraola menyebut masing-masing tim menguasai pertandingan di babak yang berbeda. Bournemouth unggul pada paruh pertama, sedangkan Palace lebih baik pada babak kedua.
”Saya tidak bisa bahagia, saya tidak puas. Saya kecewa dan marah karena mereka mencetak gol pada menit ke-96. Itu tidak bisa diterima,” kata Iraola seperti dikutip Sky Sports.
Terlepas dari dua poin menguap pada pengujung laga, Iraola memetik satu hal positif. Iraola memiliki sumber gol baru pada diri Kroupi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/19/d03ac18a65e3da5cb057c0f50c20cb44-1000021929.jpg)
Serupa dengan Mateta, Kroupi juga menjalani pekan yang patut dikenang dalam kariernya. Ia mencetak brace pada kesempatan pertama tampil sebagai pemain utama Palace. Pada tengah pekan lalu, Kroupi mencetak dua gol pula untuk membantu tim U-21 Perancis unggul 6-1 atas Estonia pada kualifikasi Piala Eropa U-21.
Di musim perdana tampil di Liga Inggris, penyerang berusia 19 tahun itu sudah mencetak tiga gol. Kuantitas gol itu disajikan pada dua penampilan terakhirnya bersama Bournemouth.
”Gol itu penting untuk kepercayaan dirinya. Ia adalah pemain yang sangat penting bagi kami. Masih sangat muda dan menjadi opsi pemain inti, itu menunjukkan kualitasnya,” kata Iraola tentang Kroupi. (AFP)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto