LIGA ITALIA

Pekan-pekan Pertaruhan AC Milan, Masih Lupa Kekalahan?

Empat pekan di Liga Italia akan jadi pertaruhan AC Milan. Jika mampu atasi tantangan ini, Milan di jalur tepat untuk terus menempel Inter Milan di perburuan gelar.

12 Feb 2026 18:30 WIB · Olahraga

AP

Oleh Rebiyyah Salasah

AC Milan boleh saja lupa rasanya kekalahan. Masalahnya, meski tak tersentuh kekalahan, AC Milan juga payah ketika berhadapan dengan peluang untuk meraih kemenangan. Empat pekan yang akan diwarnai pertemuan dengan tim yang di atas kertas lebih lemah pun akan menjadi tantangan sekaligus pertaruhan ”Si Merah Hitam”.

AC Milan akan mengawali empat pekan krusial ini dengan berkunjung ke markas Pisa di Stadion Romeo Anconetani, Sabtu (14/2/2026) dini hari WIB. Selanjutnya, Milan akan menjamu Como dan Parma, lalu bertamu ke Cremonese.

Klub berjulukan ”I Rossoneri” atau ”Si Merah Hitam” datang ke kandang Pisa dengan status tim yang tak terkalahkan dalam 22 laga di liga musim ini plus tim yang perkasa saat bermain tandang. Selama 23 pekan Liga Italia 2025-2026 berjalan, hanya sekali AC Milan menelan kekalahan.

Hasil negatif itu dialami Mike Maignan dan kawan-kawan pada pekan perdana ketika melawan Cremonese, 1-2. Setelah itu, mereka selalu menang atau imbang.

AC Milan players react at the end of a Serie A soccer match between AC Milan and Cremonese, at the San Siro stadium in Milan, Italy, Saturday, Aug. 23, 2025. (AP Photo/Luca Bruno)

Dari rentetan laga tak terkalahkan itu, 12 di antaranya dilakoni ketika bermain di markas lawan. Rinciannya, Milan meraih tujuh kemenangan dan lima hasil imbang. Torehan tersebut menjadi yang terbaik bagi klub ini sejak musim 2003-2004.

Namun, kekalahan dari Cremonese sebenarnya jadi alarm awal tentang tantangan bertemu tim yang notabene lebih lemah. Cremonese, saat ini menghuni posisi ke-16 klasemen dengan hanya lima kemenangan, merupakan tim yang baru saja promosi ke Serie A untuk musim 2025-2026. Alih-alih percaya diri, Milan justru tampil gugup, gagal bermain klinis, dan akhirnya takluk.

Tim asuhan Pelatih Massimiliano Allegri ini tercatat hanya mampu meraih 15 poin dari total 11 laga melawan tim-tim paruh bawah klasemen, mulai dari Sassuolo, Parma, Genoa, Cremonese, hingga Pisa. Padahal, ketika melawan tim-tim papan atas, mulai dari Inter Milan, Napoli, Juventus, dan AS Roma, Milan mampu meraup 18 poin dari 8 laga.

Pada awal bulan, saat bertandang ke kandang Bologna di Stadion Renata Dall’Ara, Milan baru mencatatkan lagi kemenangan dengan lebih dari satu gol setelah dua laga. Milan menang 3-0, tetapi kemenangan itu tak cukup membuat Allegri puas maupun menjadi jaminan hasil serupa pada laga-laga setelahnya.

AC Milan's Italian coach Massimiliano Allegri reacts during the Italian Serie A football match between AC Milan and Cremonese at San Siro stadium in Milan, on August 23, 2025. (Photo by PIERO CRUCIATTI / AFP)

”Kami harus bisa mengontrol bola dengan lebih baik. Selain itu, umpan-umpan kami harus presisi dan kami harus mengambil keputusan yang tepat di atas lapangan,” kata Allegri dikutip dari La Gazzeto dello Sport.

Wajar jika Allegri menuntut lebih. Apalagi, meski tak tersentuh kekalahan, Milan lebih banyak meraih hasil imbang ketimbang menang. Dari 23 laga, I Rossoneri tercatat delapan kali meraup satu poin. Alhasil, mereka pun tertinggal lima angka dari Inter Milan yang sudah empat kali kalah di musim ini.

Perburuan gelar

Pada pertemuan sebelumnya dengan Pisa, Parma, Como, maupun Cremonese, Milan hanya bisa meraih satu kemenangan. Tiga poin itu dihasilkan saat laga kontra Como yang berakhir dengan skor 3-1. Sisanya, selain kalah, Milan hanya bisa bermain imbang.

Sejak awal, Allegri memang selalu merendah ketika ditanya soal target juara. Ia mengatakan, target utama Milan di Serie A musim ini adalah mengakhiri musim di posisi empat besar agar bisa kembali berlaga di Liga Champions.

Sikap ini disebut Fabio Capello, yang pernah mengantarkan AC Milan meraih empat scudetto dan satu trofi Liga Champions, sebagai bermain petak umpet. Namun, menurut Capello, sikap Allegri tersebut merupakan pendekatan yang bijak karena ada risiko ketika mengucapkan kata scudetto di hadapan publik.

AC Milan's American forward #11 Christian Pulisic plays the ball during the UEFA Champions League football match SK Slovan Bratislava vs AC Milan in Bratislava, Slovakia on November 26, 2024. (Photo by -STR / AFP)

Meski begitu, peluang besar sebenarnya terbuka bagi Milan untuk fokus dalam perburuan gelar. Tidak hanya menjaga tren tanpa kekalahan, Milan juga seharusnya mampu menyapu bersih empat laga melawan tim-tim papan bawah, ditambah Como sebagai penghuni papan tengah, sehingga dapat menjaga peluang bersaing ketat dengan Inter.

Terlebih, Milan juga dapat kembali diperkuat pencetak gol terbanyak klub musim ini dengan 10 gol, Christian Pulisic. Sejumlah sumber di Italia, termasuk Milan News, melaporkan, Pulisic sudah kembali berlatih bersama tim pada Rabu (11/2/2026) pagi. Pada laga lawan Bologna, Pulisic menepi akibat cedera.

Selain itu, tidak seperti Inter atau Juventus, Milan juga tidak punya agenda di ajang Eropa. Bahkan, Milan telah tersingkir dari Coppa Italia sehingga bisa mencurahkan energi sepenuhnya ke Serie A.

”Targetnya adalah finis di posisi empat besar. Namun, bermain untuk Milan berarti selalu ada keinginan untuk menang. Jadi wajar kalau saya memikirkannya (scudetto),” kata bek tengah Milan, Koni De Winter, kepada Tuttomercatoweb.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto