Zaki dan Jonatan kalah pada perempat final Malaysia Masters. Meski demikian, Zaki tampil baik saat melawan Christo Popov.
22 Mei 2026 17:57 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
KUALA LUMPUR, JUMAT — Mohammad Zaki Ubaidillah tersingkir pada perempat final turnamen bulu tangkis Malaysia Masters. Namun, anak muda berusia 18 tahun itu mendapat pelajaran berharga dari lawannya untuk memasuki persaingan lebih sulit.
Zaki kalah dari tunggal putra ranking keempat dunia asal Perancis, Christo Popov, pada pertandingan di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (22/5/2026). Meski demikian, tunggal putra nomor tiga Indonesia, di bawah Jonatan Christie dan Alwi Farhan, tersebut bisa menunjukkan performa cukup baik dalam kekalahan 21-23, 19-21.
Jonatan juga tak dapat melanjutkan perjalanan setelah dikalahkan pemain muda China, Hu Zhe An. Atlet yang seusia dengan Alwi itu menang dengan skor 14-21, 21-13, 21-16.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/22/872456d1e194d143ac0f54b84255ee50-WhatsApp_Image_2026_05_22_at_15.38.58.jpeg)
Dengan kekalahan Jonatan dan Zaki, Indonesia tak lagi punya wakil dalam turnamen BWF World Tour berlevel Super 500 tersebut. Hasil ini lebih buruk dibandingkan Thailand Terbuka dengan level sama pada pekan sebelumnya ketika Indonesia meraih satu gelar juara dari Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin.
Walaupun kalah dengan selisih tipis, perbedaan pengalaman Zaki dan Christo terlihat pada laga yang menjadi pertemuan pertama mereka. Zaki bisa menekan Christo, terutama melalui adu drive. Dia juga bisa merancang serangan melalui permainan net yang membuat Christo harus melambungkan kok hingga Zaki mendapat kesempatan melancarkan smes.
Melalui permainan tersebut, Zaki unggul sejak awal hingga pertengahan gim pertama dan kedua. Dia bahkan membuat game point 20-19 pada gim pembuka.
Namun, kelemahan Zaki terlihat justru saat unggul dan ketika skor berselisih tipis. Setelah unggul 14-10 pada gim awal, misalnya, Zaki membuat kesalahan beruntun dengan mudah hingga berbalik tertinggal 14-16. Setelah itu, Zaki berulang kali gagal mengantisipasi permainan Christo yang menyerangnya sejak pukulan-pukulan awal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/22/39979cd8d6bd8e1a1b197c3351f7e8d6-WhatsApp_Image_2026_05_22_at_15.38.59_1_.jpeg)
”Mendekati akhir, Christo bisa lebih tenang mengontrol permainan. Saat skor ketat, dia lebih kuat pikirannya. Ini pelajaran yang sangat berharga buat saya, banyak yang bisa saya pelajari untuk ke depan, terutama bagaimana mengatur mental dan pikiran di laga ketat,” tutur Zaki.
Christo, atlet berusia 24 tahun, kian matang dalam persaingan tunggal putra level atas. Dia menjadi finalis Perancis Terbuka dan menjuarai Final BWF pada 2025. Pada awal Mei tahun ini, Christo bersama skuad Perancis, seperti Alex Lanier dan Toma Junior Popov, mengantarkan negara mereka ke final kejuaraan beregu Piala Thomas. Mereka mengalahkan Indonesia, Jepang, dan India sebelum dikalahkan China di final.
Dari penampilan pada dua turnamen dalam dua pekan beruntun, Zaki menilai, dirinya tampil lebih baik di Malaysia Masters dibandingkan dengan Thailand Terbuka. Di Thailand, dia tersingkir pada babak kedua dalam penampilan buruk saat melawan Jeon Hyeok-jin (Korea Selatan).
Sementara Jonatan menuturkan sulit mengembangkan permainan pada gim kedua dan ketiga ketika Hu sudah bisa membaca permainannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/22/5cf174024734002633cb42e422b50807-WhatsApp_Image_2026_05_22_at_11.52.12.jpeg)
Jonatan bertanding di Malaysia Masters setelah tampil dalam ajang beregu Piala Thomas dan Uber di Horsens, Denmark, 24 April-3 Mei. Dari tiga pertandingan, dia hanya sekali menang, yaitu ketika Indonesia melawan Aljazair pada penyisihan grup. Setelah itu, Jonatan kalah dari pemain-pemain yang selevel, Kunlavut Vitidsarn (Thailand) dan Christo Popov (Perancis).
Setelah ini, Jonatan dan skuad utama bulu tangkis Indonesia lainnya akan menjalani persaingan lebih tinggi di Singapura Terbuka, 26-31 Mei, lalu Indonesia Terbuka pada pekan berikutnya. Dengan level Super 750 dan Super 1000, kedua turnamen itu diikuti pemain-pemain top, di antaranya atlet peringkat sepuluh besar dunia.
”Persiapan ke Singapura dan Indonesia harus dimatangkan lagi. Setiap hari pasti akan berjalan berbeda. Di sini, di Singapura, dan di Indonesia, kondisi lapangan dan shuttlecock berbeda, jadi penyesuaiannya harus cepat,” tutur Jonatan.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul