Indonesia mendapat gelar kedua dari turnamen BWF World Tour. Jafar/Felisha menjuarai Taiwan Terbuka melalui final sesama pemain Indonesia.
11 Mei 2025 20:11 WIB · Olahraga
TAIPEI, MINGGU – Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu meraih gelar kedua bagi Indonesia dari turnamen bulu tangkis BWF World Tour. Mereka dan Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti, yang tampil di final turnamen Taiwan Terbuka Super 300, menjadi pelita di tengah menurunnya pamor ganda campuran dalam persaingan dunia.
Final sesama ganda campuran Indonesia itu berlangsung di Taipei Arena, Taiwan, Minggu (11/5/2025). Jafar/Felisha mengalahkan rekan latihan mereka di pelatnas bulu tangkis, Cipayung, Jakarta dengan skor 18-21, 21-13, 21-17. Pada gim ketiga, Dejan/Fadia unggul lebih dulu hingga selisih terjauh 14-7, tetapi, Jafar/Felisha bangkit.
Sebelum Jafar/Felisha menjuarai Taiwan Terbuka, Indonesia hanya meraih satu gelar dari turnamen BWF World Tour pada 2025. Gelar itu didapat Fadia/Lanny Tria Mayasari dari Thailand Masters yang juga berlevel Super 300, pada awal Februari. Pada ajang lain, Indonesia kalah bersaing dengan banyak negara, seperti Korea Selatan, China, Jepang, dan Thailand.
Kemenangan Jafar/Felisha di Taiwan menjadi hasil berkebalikan dibandingkan pertemuan sebelumnya dengan Dejan/Fadia yang berlangsung di semifinal Thailand Masters. Saat itu, Dejan/Fadia menang dalam tiga gim, tetapi kalah dari wakil tuan rumah, Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran, di final.
“Puji Tuhan, sangat bersyukur dikasih juara Super 300. Ini memang jadi target terdekat saya dan senang bisa tercapai. Setelah ini, akan membidik gelar di level yang lebih tinggi,” komentar Felisha.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/11/e97259e92d780ddfcd66fb3f1e4c5214-WhatsApp_Image_2025_05_11_at_17.49.13.jpeg)
Ke depannya, ingin lebih baik, ingin juara di turnamen yang lebih besar. Saya punya target tersendiri yang ingin saya capai, ingin terus lebih berproses.
Jafar mengatakan hal serupa. Dalam struktur BWF World Tour, turnamen yang lebih tinggi dari Super 300 adalah yang berlevel Super 500, 750, dan 1000. Ganda campuran Indonesia yang terakhir kali mendapat gelar dari level tersebut adalah Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dari All England Super 1000 pada 2020.
Sejak berpasangan pada Agustus 2024, Jafar/Felisha mendapat kesempatan tampil dalam kejuaraan yang lebih tinggi dari Super 300 dalam turnamen Indonesia Masters Super 500, Januari 2025. Mereka kalah pada babak kedua.
“Ke depannya, ingin lebih baik, ingin juara di turnamen yang lebih besar. Saya punya target tersendiri yang ingin saya capai, ingin terus lebih berproses,” kata Jafar.
Berdasarkan agenda yang telah dibuat tim pelatih ganda campuran, Jafar/Felisha mendapat kesempatan tersebut pada empat turnamen Tur Asia dalam empat pekan ke depan. Turnamen tersebut adalah Thailand Masters dan Malaysia Masters Super 500, Singapura Terbuka Super 750, dan Indonesia Terbuka Super 750.
Jafar/Felisha adalah salah satu dari tujuh ganda campuran anggota pelatnas utama. Meski berusia 22 dan 19 tahun, mereka adalah ganda campuran Indonesia dengan ranking dunia tertinggi, yaitu di posisi ke-22 dalam daftar peringkat per 6 Mei.
Potensi mereka terlihat sejak awal berpasangan dengan menjuarai tiga turnamen pada level international challenge dan Super 100. Dejan/Fadia juga memperlihatkan potensi mereka sejak berduet pada 2025 dengan mencapai dua final, Thailand Masters dan Taiwan Terbuka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/11/28b2ef71795545a926928d24b557fbca-WhatsApp_Image_2025_05_11_at_17.49.12_1_.jpeg)
Kedua pasangan itu lebih menonjol dibandingkan pasangan lain, seperti Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil dan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, yang meraih perempat final Thailand Masters sebagai hasil terbaik.
Pemain-pemain senior lain seperti Rinov Rivaldy, Pitha Haningtyas Mentari, dan Lisa Ayu Kusumawati, bahkan, harus melalui perombakan pasangan pada 2025. Rinov, yang dipasangkan dengan Lisa pada awal tahun, berpartner lagi dengan pasangan lama, Pitha. Adapun Lisa diduetkan dengan pemain muda, Verrell Yustin Mulia.
Rinov, Pitha, dan Lisa sebenarnya diharapkan menjadi penerus era Praveen/Melati. Akan tetapi, mereka kesulitan berkembang untuk menembus level elite dunia, salah satunya karena tak ada senior yang mumpuni di pelatnas yang bisa dijadikan contoh.
Dalam kejuaraan dunia beregu campuran Piala Sudirman di Xiamen, China, 27 April-4 Mei, ganda campuran menjadi sorotan karena hanya menyumbang satu kemenangan dari lima pertandingan sejak penyisihan grup hingga semifinal. Satu kemenangan itu didapat saat melawan Inggris yang kualitas pemainnya di bawah Indonesia. Setelah itu, ganda campuran Indonesia kalah saat melawan India, Denmark, Thailand, dan Korea Selatan, meski telah mengubah formasi.
Maka, meski final sesama Indonesia di Taiwan Terbuka hanya terjadi pada level Super 300, hal itu menjadi pelita bagi sektor yang membuat Indonesia bisa meraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 melalui Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir ini.
“Semoga final ini ini menjadi pembakar semangat ganda campuran Indonesia yang prestasinya menurun akhir-akhir ini. Semoga tim ganda campuran bisa lebih yakin dalam bersaing dan bisa berprestasi lebih baik seperti senior-senior dahulu,” kata Dejan.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Retma Wati