SOROTAN MANCA

Peluang Baru Energi Terbarukan dari Perang Timur Tengah

Negara-negara dengan adopsi luas energi terbarukan bisa menahan dampak guncangan akibat perang di Timur Tengah.

22 Mar 2026 15:00 WIB · Internasional

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Kris Mada

Penutupan Selat Hormuz membuat energi fosil dalam kondisi yang selama ini hanya dihadapi energi terbarukan: tak selamanya tersedia. Bara perang di Timur Tengah dipandang menjadi peluang mempercepat transisi energi bersih dan terbarukan.

Wajar jika guncangan akibat serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran, yang memasuki pekan keempat pada Sabtu (21/3/2026), berdampak luas. Hingga 75 persen populasi Bumi tinggal di negara-negara pengimpor minyak dan gas bumi. Sementara negara-negara Teluk memasok hingga 27 persen gas dan minyak global.

Dalam kajian Ember Energy, lembaga di Inggris, setiap harga minyak naik 10 dolar AS per barel, biaya impor energi global naik 160 miliar dolar AS per tahun. Dalam tiga pekan perang, harga minyak telah naik hingga 40 dolar AS per barel.

”Masalah keamanan energi tidak pernah seakut sekarang. Hingga beberapa minggu lalu, pasar menganggap sumber daya Teluk sebagai sesuatu yang pasti. Itu tidak akan terjadi ke depannya,” kata Geoffrey Pyatt, mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS bidang Energi dan kini menjadi Direktur Pelaksana Senior pada McLarty Associates, seperti dikutip Reuters.

Ember Energy mencatat, gangguan pasokan energi kini mengguncang Asia seperti dulu serangan Rusia ke Ukraina mengguncang Eropa. Sebab, 40 persen minyak dan gas Asia diimpor melalui Selat Hormuz. Selat itu kini hanya bisa dilewati kapal-kapal yang diizinkan Iran melintas.

Wakil Ketua S&P Global Daniel Yergin menulis, dunia sedang menghadapi gangguan terbesar dalam sejarah produksi minyak serta guncangan dahsyat terhadap pasar gas global. ”Pertanyaan kunci bagi pasar energi global saat ini adalah berapa lama perang besar ini akan berlangsung,” tulis Yergin, yang juga pakar geopolitik energi.

Infografik Jalur Penting Pengiriman Minyak dan Gas

Tepat di awal pekan keempat serangan, Presiden AS Donald Trump mengancam serangan besar-besaran fasilitas energi Iran. Ancaman dilontarkan selepas Iran meledakkan sejumlah lokasi di Dimona, Israel. Selama puluhan tahun, daerah di tengah Gurun Negev itu disebut sebagai pusat teknologi nuklir Israel.

Tak pernah ada verifikasi resmi atas fasilitas di Dimona. Israel menolak pemeriksaan pengawas independen, baik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun negara lain, untuk fasilitas nuklir itu.

Bagi Menteri Luar Negeri Oman Badr Hamad Albusaidi, solusi diplomatik atas serangan AS-Israel ke Iran mungkin memerlukan nuklir. Nuklir sipil dan untuk keperluan damai, tulis Albusaidi di The Economist, bisa menjadi jawaban atas siklus permusuhan di kawasan

Perundingan AS-Iran diperluas menjadi kerangka kawasan untuk kerja sama energi nuklir dan transisi energi. ”Semua negara di kawasan ini melihat ke masa depan pascakarbon bersama mereka, inovasi dan pembangunan yang aman mungkin bergantung pada beberapa kesepakatan dasar tentang peran yang akan dimainkan teknologi nuklir,” tulis Albusaidi

Menurut Rachel Bronson, penasihat senior di Bulletin of the Atomic Scientists, serangan AS-Israel ke Iran adalah momentum percepatan transisi energi global. ”Hal ini akan semakin mendorong para pemimpin untuk berinvestasi dalam sumber energi baru, termasuk energi terbarukan dan tenaga nuklir. Tren ini sudah berlangsung setelah serangan Rusia terhadap Ukraina,” tulisnya.

Bronson tak salah. Eropa pekan lalu meluncurkan jaminan keuangan baru untuk tenaga nuklir setelah puluhan tahun menutup pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Sementara Menteri Ekonomi Taiwan Kung Ming Hsin mengatakan, Taipei sedang mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali PLTN terakhirnya. Pembangkit itu ditutup pada Mei 2025.

Pernyataan itu disampaikan setelah kubu oposisi, di tengah guncangan energi saat ini, mengecam keputusan tersebut. Setidaknya 30 persen gas alam Taiwan dipasok Qatar. Perang di Timur Tengah memaksa Qatar memangkas produksi gas alamnya.

Kung mengatakan, penggunaan tenaga nuklir harus didasarkan pada jaminan keselamatan nuklir. Taiwan akan terus memperluas energi terbarukan dan fasilitas penyimpanan gas alam untuk meningkatkan cadangan keselamatan.

Energi terbarukan

Sebagian negara lain memilih fokus pada energi terbarukan. Peneliti senior di Beijing Club for International Dialogue, Wang Jin, menuturkan, China harus semakin mempercepat transisi ke energi terbarukan.

Selama bertahun-tahun, China menjadi pemimpin global dalam penambahan daya listrik dari sumber energi terbarukan. Pembangkit listik tenaga air (PLTA) hingga lapangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menambah daya dalam skala gigawatt setiap tahun.

Dosen energi dan iklim pada Oxford University, John Rosenow, menyebut bahwa beberapa negara menghadapi guncangan pasokan kini dengan lebih baik. Sebab, mereka telah bertahun-tahun mempercepat transisi energi. ”Minyak dan gas mungkin naik. Walakin, matahari dan angin tak peduli dengan apa yang terjadi pada Selat Hormuz,” ujarnya menggambarkan ketahanan energi terbarukan dari konflik gepolitik.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menguatkan pendapat Rosenow. Madrid tak terlalu terdampak guncangan akibat penutupan Selat Hormuz.

Spanyol sudah bertahun-tahun memacu transisi energi terbarukan. ”Spanyol menunjukkan contoh investasi pada energi terbarukan membantu warga mendapat dampak lebih rendah dari kenaikan harga gas,” katanya.

Harga listrik di Spanyol disebut tujuh kali lebih rendah dibandingkan dengan di Perancis dan Jerman. Di kedua anggota Uni Eropa itu, listrik dan pemanas terutama menggunakan gas. Dulu mayoritas dari Rusia, kini gas Eropa terutama dipasok AS dan Qatar.

Di Spanyol, 57 persen listrik dari sumber energi terbarukan. Ini di atas rata-rata target yang ingin dicapai EU.

Spanyol punya limpahan sinar matahari, angin yang konstan berembus, dan sungai-sungai yang deras mengalir. Semua itu memungkinkan Madrid menghasilkan energi terbarukan secara berkelanjutan.

Dosen teknik industri Comillas Pontifical University di Madrid, Pedro Linares, mengingatkan, cerita energi terbarukan tak selamanya indah. Harga listrik di Spanyol bisa naik apabila sungai mengering selama musim panas.

This photograph shows gas flares at the Repsol oil refinery in A Coruna, northwestern Spain, on March 11, 2026. The US-Israeli war on Iran has expanded across the Gulf and beyond, upending global energy markets and trade, and virtually halting traffic in the Strait of Hormuz, through which a fifth of the world's crude oil travels. The 32 member countries of the International Energy Agency (IEA) decided to unlock 400 million barrels of oil from their reserves - the biggest such release ever- to ease the impact of the Middle East war. (Photo by MIGUEL RIOPA / AFP)

Di berbagai negara, adopsi energi terbarukan juga meluas. Penggunaan PLTS hingga PLTA serta mobil listrik jadi pelindung dari kenaikan harga energi. ”Sekali punya PLTS, tak perlu membayar matahari. Walakin, jika memiliki PLTU, setiap saat harus membayar bahan bakar,” kata Kingsmilll Bond, peneliti pada Ember Energy.

Menteri Energi Pakistan Awais Ahmad Khan Leghari mengklaim, perluasan penggunaan PLTS menjadi salah satu resep Pakistan tahan menghadapi guncangan pasokan energi saat ini. Ketahanan energi Pakistan hasil dari keputusan berpuluh tahun lalu untuk mengembangkan PLTA, PLTS, energi nuklir, hingga penggunaan PLTU batubara.

Analis pada Zero Carbon Analytics, Amy Kong, menyebut kapasitas PLTS Pakistan naik 300 persen pada 2021-2024. Guncangan pasar energi global akibat serangan Rusia ke Ukraina menjadi salah satu pemicu percepatan itu. Dari importir besar gas, Pakistan menjadi importir besar panel PLTS.

Petugas membersihkan panel surya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atas atap pabrik terigu milik PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari Jakarta, Cilincing, Jakarta, Selasa (25/11/2025). Kapasitas terpasang PLTS di pabrik Bogasari Jakarta sebesar 1.88 Megawatt-peak (MWp), sehingga bisa menghasilkan penghematan energi sebesar 1.920.000 kilowatt-hour (kWh) per tahun. *** Local Caption ***

Sementara Sekretaris Kabinet Kenya, Musalia Mudavadi, mengungkapkan, perang akibat serangan AS-Israel ke Iran adalah krisis yang seharusnya jadi pemicu bagi Afrika. ”Kita harus mempercepat transisi ke energi terbarukan. Mari membayangkan masa depan, jika Afrika ditenagai energi bersih—tenaga surya, panas bumi, tenaga air—akankan krisis di Timur Tengah tetap berdampak buruk?" katanya dalam pidato di forum yang digelar Chatham House di London, Inggris.

Meski tak sekeping pun pecahan rudal dan bom dari perang jatuh di Afrika, tetap saja benua itu terdampak berat. Sebab, Afrika bergantung pada impor untuk pasokan energi hingga pangan.

Pasar global atas kedua komoditas itu terhubung erat. Gangguan di satu titik, apalagi di lokasi sepenting Selat Hormuz, akan berdampak buruk pada pasar global.

Laporan Ember Energy menaksir, hingga 70 persen biaya impor energi bisa dipangkas dengan adopsi meluas energi terbarukan. Sejak Rusia menyerang Ukraina pada 2022, adopsi ke energi terbarukan dan kendaraan listrik melaju.

Penurunan harga energi terbarukan dan kendaraan listrik serta gangguan pasokan energi fosil menjadi pemicunya. Harga mobil listrik kini bersaing dengan mobil BBM.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan, harga baterai terpangkas sampai 36 persen. Pada 2019, harga listrik PLTS rata-rata 68 sen dolar AS per kWh. Kini, secara global, harga rata-ratanya tak sampai 20 sen dolar AS per kWh.

Pasokan panel dan baterai murah dari China jadi kunci penurunan harga itu. ”Dalam satu kapal, bisa diangkut panel PLTS yang menghasilkan energi 100 kali lebih banyak dari batubara,” kata dosen Ekologi Brown University, Stephen Porder.

Dosen University of California, Paasha Mahdavi, menyebutkan, banyak negara lelah dengan guncangan harga energi fosil setiap kali ada konflik. Negara-negara tak berdaya tiap kali harga minyak dan gas naik. Mereka pun lantas memacu penggunaan energi terbarukan. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto