Permintaan yang stabil jelang Ramadhan dan stimulus pemerintah menjadi faktor pendukung daya tahan sektor ini.
16 Feb 2025 18:21 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS -Saham perusahaan barang kebutuhan pokok dinilai cenderung stabil di tengah pelemahan pasar saham akibat derasnya arus keluar investor asing. Stabilitas sektor ini diperkirakan tetap terjaga menjelang Ramadan, meskipun permintaan masyarakat masih dibayangi oleh perlambatan ekonomi.
Pasar saham terus melemah hingga pekan ketiga Februari 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Jumat (14/2/2025), ditutup di level 6.638, melemah 1,54 persen dari 6.752 pada pekan sebelumnya dengan nilai jual bersih investor asing mencapai Rp 3 triliun.
Adapun sejak awal tahun 2025, level IHSG sudah turun 6,2 persen karena tekanan nilai jual bersih investor asing yang mencapai Rp 10,52 triliun. Efek kebijakan Presiden AS Donald Trump, arah kebijakan penurunan suku bunga AS hingga Indonesia yang sulit ditebak, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kebijakan pemerintahan baru Indonesia menjadi faktor koreksi pelemahan pasar saham.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/16/000c36a2ec2d8631f9da0805a3580641-20250213_160648.jpg)
Analis Pasar Modal Stocknow.id, Hendra Wardana, kepada Kompas, Minggu (16/2/2025), menyatakan, dalam situasi tersebut, saham-saham dari sektor konsumen harian atau barang cepat habis relatif masih menunjukkan ketahanan. "Hal ini terjadi karena permintaan terhadap produk-produk kebutuhan sehari-hari tetap stabil, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri, ketika konsumsi masyarakat meningkat signifikan," ujarnya.
Beberapa emiten yang berpotensi diuntungkan, menurut Hendra, adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).
ICBP, yang harganya tumbuh 1,32 persen sejak awal tahun hingga Rp 15.525 per saham, diperkirakan tetap tumbuh kuat secara domestik. Produk makanan instannya, dinilai tetap menjadi kebutuhan utama masyarakat. Dengan diversifikasi produk dan strategi harga yang baik, ICBP dapat menjaga margin keuntungan.
Sementara itu, harga saham AMRT sebagai operator minimarket terbesar di Indonesia juga berpotensi tumbuh kendati sejak awal tahun terkoreksi 2,41 persen. Hal ini karena layanan tersebut menjadi proksi kebutuhan pokok masyarakat yang akan tetap tinggi sepanjang Ramadan, yang diprediksi mulai awal Maret 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/03/24/84d6f57d-e029-4951-a0be-38db20e8164a_jpg.jpg)
Saham emiten JPFA yang telah tumbuh 2 persen sejak awal tahun ini juga berpeluang terus menguat karena meningkatnya konsumsi protein hewani saat Ramadan, terutama daging ayam dan produk olahannya.
Saham-saham seperti itu, menurutnya, akan diincar oleh investor institusi asing yang cenderung mencari saham-saham defensif dengan harga yang sudah rendah, dibandingkan investor ritel yang preferensinya lebih bervariasi.
”Secara keseluruhan, meskipun IHSG berada dalam tren pelemahan, saham konsumsi pokok tetap bertahan karena permintaannya yang stabil dan meningkat di momen Ramadan," ujarnya.
Analisis senada juga diutarakan Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Abyan Habib Yuntoharjo, dalam pemaparan analisis bertajuk "Consumer Trends for the 2025 Fasting Month: Building Smarter Investors", di Jakarta, Kamis (13/2/2025).
”Saham seperti ICBP itu pertumbuhan secara domestiknya masih robust. Kedua, AMRT adalah proksi dari kebutuhan pokok konsumen. Mereka bisa menjaga margin, masih bisa berjualan dan orang akan tetap belanja,” tutur Abyan.
Abyan menilai, kuatnya saham-saham konsumen selain karena didukung kenaikan permintaan musiman jelang Ramadhan, juga karena adanya program pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Program itu, salah satunya melalui diskon tarif listrik 50 persen bagi pelanggan sampai 2.200 VA (volt ampere) selama Januari-Februari. Stimulus ini pada Januari berkontribusi pada deflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) secara bulanan sebesar - 0,76 persen, dari 106,80 pada Desember 2024 menjadi 105,99 pada Januari 2025.
Program lain yang diharapkan bisa membantu daya beli masyarakat adalah bantuan pangan kepada 16 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) berupa beras 10 kilogram selama dua bulan. Penyaluran yang awalnya dijadwalkan turun Januari-Februari, kabarnya ditunda beberapa bulan ke depan untuk menjaga harga beras di level petani.
”Sebesar apa sih dampaknya? Kalau misalkan kita hitung-hitungan kasar, mereka (penerima bantuan) bisa menyimpan Rp 150.000 - Rp 170.000 per bulannya karena dari diskon tarif listrik ini. Kalau misalkan kita lihat dari dua hal ini saja, itu bisa membantu masyarakat kelas menengah ke bawah dalam membeli kebutuhan sehari-hari, tidak hanya di barang-barang primer, namun bisa di barang-barang sekunder juga," tuturnya.
Di sisi lain, Abyan juga mengingatkan investor untuk tetap mempertimbangkan faktor penurunan ekspektasi pasar, seperti pemburukan ekonomi makro hingga pelemahan daya beli masyarakat.
Pemburukan ekonomi makro sejauh ini membuat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah. Pada Jumat (14/2), kurs rupiah ada di level Rp 16.260, setelah bergerak fluktuatif di kisaran Rp 16.253 sampai Rp 16.308 per dollar AS. Kondisi ini juga bisa menaikkan harga komoditas bahan dasar yang sebagian juga terdampak faktor lain, seperti gangguan iklim dan distribusi.
”Adanya faktor di bawah ekspektasi kemungkinan datang dari dua hal, pertama harga bahan dasar yang masih naik. Ternyata, masih tekanan dari harga bahan baku, kemudian juga tekanan dari dollar yang masih menguat," kata Abyan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/16/0f04f513cc816ad2cf67d7638d6ba997-Screenshot_20250216_163232_Chrome.jpg)
Faktor pelemahan daya beli juga bisa mengancam. Berkaca pada data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia periode Januari 2025, terjadi penurunan indeks dari 127,7 di Desember 2024 menjadi 127,2 pada Januari 2025.
Meski indeks tersebut masih menunjukkan optimisme konsumen terhadap ekonomi, pergerakan IKK di Januari 2025 berlawanan dengan IKK di bulan sama tahun 2023 dan 2024 yang naik dari bulan Desember di tahun sebelumnya.
Penurunan ini tercermin pada mayoritas kelompok masyarakat berdasarkan tingkat pengeluarannya. Dari data itu, hanya kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp 2,1-3 juta yang mengalami peningkatan IKK dari 119,1 menjadi 126,6. Sementara, masyarakat dengan tingkat pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan mengalami penurunan IKK yang terdalam hingga 5 poin.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari