Seorang warga tertembak di Sorong, sedangkan satu warga lainnya di Manokwari tewas diduga karena terdampak gas air mata saat pembubaran massa oleh polisi.
04 Sep 2025 16:12 WIB · Politik & Hukum
JAYAPURA, KOMPAS — Warga sipil menjadi korban saat pembubaran demonstrasi oleh polisi di dua wilayah berbeda di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Seorang warga tertembak di Sorong, Papua Barat Daya, dan satu warga lainnya tewas diduga terdampak gas air mata di Manokwari, Papua Barat. Dua kasus ini masih diinvestigasi.
Dua kejadian pada hari berbeda ini terjadi saat unjuk rasa pemindahan empat tahanan politik kasus makar dari Sorong ke Makassar, Sulawesi Selatan. Di Sorong, saat demonstrasi berlangsung pada Rabu (27/8/2025), seorang pengemudi ojek yang bukan merupakan peserta aksi tertembak. Saat ini korban masih dirawat di rumah sakit.
Sementara itu, di Manokwari, dalam demo yang berlangsung Kamis (28/8/2025), Septinus Sesa (55) tewas. Ada dugaan, Septinus yang sedang berada di sekitar lokasi demonstrasi terdampak gas air mata saat polisi membubarkan massa.
Hingga Kamis (4/9/2025), dua kejadian ini masih diinvestigasi, baik oleh internal polisi maupun pihak independen. Sorotan agar pengusutan secara tuntas disuarakan dalam kasus ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/28/b8e48d8c-f521-4e91-a5d0-6d42fa3b73b5_jpeg.jpeg)
Kepala Bidang Humas Polda Papua Barat Komisaris Besar Ignatius Benny Ady Prabowo menyatakan, Polri melakukan investigasi internal terkait tewasnya Septinus Sesa. Adapun investigasi dan pengumpulan data yang dilakukan sehari setelah kejadian masih terus berlangsung.
”Semoga dalam dua hari ini hasil investigasinya sudah bisa disampaikan kepada publik,” ucapnya.
Investigasi ini, lanjut Benny, untuk mengungkap penyebab pasti kematian Septinus. Di sisi lain, Benny mengatakan, pengamanan hingga pembubaran massa aksi oleh aparat hingga sudah sesuai ketentuan.
Septinus merupakan warga sipil yang bukan bagian dari massa aksi. Septinus merupakan warga yang tinggal di lokasi yang berdekatan lokasi demonstrasi. Pada Kamis malam polisi membubarkan massa aksi dengan gas air mata.
”Sejatinya massa aksi pada saat itu didorong untuk menjauh dari lokasi demo. Jadi penembakan gas air mata juga menjauh dari rumah korban,” ucap Benny. Septinus dinyatakan meninggal saat dibawa ke rumah sakit pada Jumat (29/8/2025) pagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/28/18b533fa-2098-4581-b7ea-5b40af7124d3_jpeg.jpeg)
Benny menuturkan, berdasarkan informasi rumah sakit, Septinus memiliki riwayat perawatan sakit stroke ringan. Namun, kata Benny, pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi kepada korban.
”Ini juga menjadi kendala bagi kami. Kami sudah melakukan (olah) tempat kejadian perkara. Kemudian, kami pelajari kembali sembari melakukan pemeriksaan dan pengumpulan bukti-bukti lagi,” katanya.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengecam tindakan represif aparat keamanan dalam pengamanan unjuk rasa. Usman menyerukan agar dua insiden di Pulau Papua tersebut segera diusut tuntas.
Tindakan seperti ini dinilai tidak menghargai hak asasi manusia (HAM) yang akan berdampak buruk bagi upaya penyelesaian konflik berkepanjangan di Pulau Papua.
”Investigasi yang dilakukan harus bersifat independen dan melibatkan tokoh-tokoh dan unsur masyarakat yang memiliki integritas dan keahlian. Komisi Nasional (Komnas) HAM juga harus segera melakukan penyelidikan pro justitia untuk menindaklanjuti kasus kematian warga sipil tersebut,” kata Usman.
Tindakan seperti ini dinilai tidak menghargai HAM yang akan berdampak buruk bagi upaya penyelesaian konflik berkepanjangan di Tanah Papua.
Dihubungi secara terpisah, Kepala Kantor Komnas HAM Papua Frits Ramandey mengatakan, investigasi independen dimulai di Sorong. Saat ini pihaknya mulai mengumpulkan bukti-bukti dari kericuhan demonstrasi ini.
Frits juga menuturkan, pihaknya fokus mengumpulkan keterangan dari warga lain yang diduga menjadi korban luka saat pengamanan aksi oleh aparat.
”Untuk korban yang tertembak, kami belum bisa mintai keterangan karena korban masih menjalani operasi hari ini. Kami agendakan bertemu besok,” ujar Frits.
Selain itu, Frits menegaskan, pihaknya juga akan melanjutkan investigasi independen ke Manokwari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/04/7bb07366-6340-4d04-ba11-9f34d571781b_jpeg.jpeg)
Penulis:
Nasrun KatingkaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto