Dua aksi unjuk rasa dengan dua isu berbeda di Kota Jayapura berlangsung kondusif kendati diterpa sejumlah narasi provokatif di medsos.
02 Sep 2025 16:17 WIB · Politik & Hukum
Awal September 2025 diwarnai dua demonstrasi dengan dua isu berbeda di Jayapura, Papua. Aksi demonstrasi yang diinisiasi oleh dua kelompok mahasiswa berbeda ini berlangsung di tengah terpaan narasi-narasi provokatif di media sosial. Namun, selama dua hari ini aksi justru berlangsung dengan penuh kesejukan dan kondusif.
Rangkaian demonstrasi di Jayapura berlangsung pada 1-2 September 2025. Polda Papua mengerahkan 700 personel untuk mengamankan sejumlah titik rawan di wilayah Kota Jayapura.
Pada Senin (1/9/2025), demonstrasi dari 100-an mahasiswa Cipayung Plus berlangsung di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Papua dan markas Polda Papua di daerah Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura.
Sementara itu, pada Selasa (2/9/2025), sebanyak 300-500 orang yang tergabung dalam aliansi solidaritas mahasiswa Papua beraksi di kawasan Tugu Pendidikan, Distrik Abepura. Dalam aksi ini, massa menyoroti sejumlah isu hak asasi manusia, termasuk stigmatisasi makar kepada warga sipil.
Dalam dua aksi di Jayapura ini sempat dikhawatirkan terjadi kerusuhan dan insiden buruk lain. Apalagi, beberapa hari ini di sejumlah platform media sosial tersebar sejumlah narasi provokatif terkait demonstrasi.
Narasi-narasi yang berkembang mulai dari mobilisasi warga di berbagai daerah di Papua, isu pembakaran fasilitas publik, hingga penyebaran ketakutan terkait demonstrasi yang tidak kondusif.
Pada hari pelaksanaan demonstrasi, sejumlah pertokoan serta pusat aktivitas masyarakat lainnya di sekitar lokasi aksi sempat tutup. Tidak sedikit warga juga yang membatasi aktivitas di luar rumah.
Namun, nyatanya saat demonstrasi dilaksanakan, peserta aksi mampu menjaga kondusivitas. Mereka hanya fokus pada narasi yang ingin disampaikan terkait masalah situasi politik nasional dan lokal Papua.
Aksi dari Cipayung Plus yang disampaikan di DPRD Papua dan Polda Papua berfokus pada situasi politik dan arah pemerintahan dalam negeri. Massa beraudiensi dengan dua unsur pimpinan lembaga ini, yakni Ketua DPRD Papua Denny Henrry Bonai dan Wakil Kepala Polda Papua Brigadir Jenderal (Pol) Faizal Ramadhani.
Massa terlebih dulu memulai aksi di kantor DPRD Papua pada pukul 11.00-12.30 WIT. Setelah itu, massa bergerak ke Polda Papua yang berjarak sekitar 500 meter dari kantor DPRD Papua. Penyampaian orasi selama sejam ini berlangsung kondusif hingga massa membubarkan diri sekitar pukul 13.30.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/01/1d60aa90-9ac9-4a27-abee-4ab7cfee5c6f_jpeg.jpg)
Aksi di Tugu Pendidikan Abepura oleh mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Jayapura juga berlangsung kondusif. Warga setempat ikut bergabung menyaksikan orasi-orasi yang disampaikan mahasiswa.
Dalam aksi yang berlangsung sejak pukul 09.00, massa membawa sejumlah spanduk, poster, dan selebaran terkait kondisi politik dan isu hak asasi manusia di Papua.
Sementara itu, para orator fokus menyampaikan kritik terkait penetapan terdakwa makar kepada empat warga di Sorong. Keempatnya adalah anggota dan pimpinan dari kelompok yang mengatasnamakan Negara Federal Republik Papua Barat (NFRPB).
Massa meyakini, aktivitas yang dilakukan oleh empat orang ini hanya ingin membuka dialog secara terbuka dan damai kepada Pemerintah Indonesia.
Ini yang harus kita pertahankan dengan bahu-membahu dan bersinergi antara seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dan aparat keamanan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/63f1ed88-f8a7-4e1d-b1f7-c73e54a8a8d4_jpeg.jpg)
Selain itu, peserta unjuk rasa juga menyoroti sejumlah isu terkait pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua yang masih terus berlangsung. Mereka meminta pemerintah pusat menghentikan berbagai eksploitasi sumber daya alam yang mengancam kehidupan masyarakat adat.
Sekitar pukul 14.00, massa mengakhiri mimbar orasi dengan membacakan penyataan sikap yang sekaligus diberikan kepada perwakilan Komisi Nasional HAM Papua.
Sebelum bubar, massa menari dan menyanyikan lagu-lagu tentang pergerakan dan perjuangan rakyat Papua. Secara bertahap, massa kemudian meninggalkan lokasi aksi dan kembali ke tempat masing-masing.
Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Cahyo Sukarnito mengapresiasi dua demonstrasi yang berlangsung kondusif di Jayapura. Selain itu, Cahyo menyampaikan, sejumlah demonstrasi lainnya di wilayah Polda Papua juga berlangsung kondusif.
Menurut Cahyo, beberapa hari ini memang ada berbagai narasi provokatif terkait demonstrasi yang disebarkan di media sosial. Namun, narasi-narasi yang berkembang ini berhasil dipatahkan berkat kekuatan dan kolaborasi berbagai pihak.
”Ini yang harus kita pertahankan dengan bahu-membahu dan bersinergi antara seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dan aparat keamanan. Masyarakat kita yang sekarang sudah cerdas. Kami selalu mengajak masyarakat untuk bijak dalam bermedia sosial,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/01/986aeccc-9b96-4d2c-9b9a-d3278c123684_jpeg.jpg)
Sementara itu, Kepala Kantor Komisi Nasional HAM Papua Frits Ramandey mengatakan, demonstrasi dari elemen mahasiswa ini merupakan bentuk respons atas situasi politik nasional dan lokal Papua. Di sisi lain, dia mengapresiasi penyampaian aspirasi yang tetap mengutamakan kondusivitas di tengah masyarakat.
Terkait aksi oleh solidaritas mahasiswa Papua di Tugu Pendidikan Abepura, Frits juga mengingatkan agar aksi tidak disusupi oleh kelompok tertentu. Apalagi demonstrasi yang fokus pada isu-isu lokal Papua ini diikuti oleh massa yang lebih banyak.
”Saya meyakini, ini merupakan aksi solidaritas dari mahasiswa atas situasi dan permasalahan lokal di Papua. Sesuai namanya, gerakan solidaritas harus menyebarkan kedamaian dan simpati,” ucap Frits.
Penulis:
Nasrun KatingkaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar