Para atlet, terutama atlet muda, tetap mendapatkan pengalaman bertanding dan mencicipi atmosfer ajang multicabang di level Asia. Ini modal menatap Asian Games 2026.
01 Mei 2026 14:56 WIB · Olahraga
KOI/NAIF MUHAMMAD AL AS
SANYA, JUMAT — Kendati Indonesia hanya membawa pulang medali dari satu cabang olahraga, yakni panjat tebing, pencapaian di Asian Beach Games 2026 dinilai tetap menjadi modal penting untuk seluruh atlet demi menatap Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Hal itu karena para atlet, terutama yang masih berusia muda, mendapatkan pengalaman bertanding dan mencicipi atmosfer kompetisi di level Asia.
Indonesia mengakhiri perjalanan di Asian Beach Games 2026 di Sanya, China, dengan menempati peringkat ke-11 klasemen perolehan medali. Skuad ”Merah Putih” membawa pulang satu emas dan dua perak, yang semuanya berasal dari panjat tebing.
Peringkat pertama diraih tuan rumah China dengan 24 emas, 17 perak, dan 13 perunggu. Adapun negara Asia Tenggara, Thailand, mampu menempati urutan kedua lewat raihan 10 emas, 9 perak, 8 perunggu. Iran menysul dengan 9 emas dan 1 perak di peringkat ketiga.
”Setiap pertandingan yang dijalani menjadi bagian penting dari proses peningkatan kualitas dan mental bertanding atlet kita,” ujar Ketua Kontingen (Chief de Mission) Indonesia Krisna Bayu selepas penutupan, Kamis (30/4/2026) malam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/01/e20a94c84155d7e5e581857563ceb96c-20260422_NOC_ABG26_NMA_Opening_Ceremony_di_Yasha_Park_Sanya_China_06.jpg)
Ke Sanya, Indonesia mengirim 22 atlet dari tiga cabang olahraga, yaitu panjat tebing, basket 3x3, dan bola voli pantai. Indonesia hanya mengirim kontingen yang minim karena keterbatasan anggaran. Adapun ketiga cabang olahraga yang diberangkatkan, kata Bayu saat pengukuhan kontingen, dipilih secara selektif sesuai dengan potensi prestasi.
Asian Beach Games merupakan salah satu acara multiolahraga terbesar di Asia yang berfokus pada olahraga pantai dan air. Ajang yang merupakan satu dari lima acara multiolahraga utama Asia yang diselenggarakan oleh Dewan Olimpiade Asia (OCA) ini mempertandingkan total 14 cabang olahraga, terdiri dari 15 disiplin dan 62 nomor pertandingan.
Bayu menekankan, capaian tim Indonesia menjadi bagian dari proses pembinaan jangka panjang olahraga nasional. Setiap partisipasi internasional akan memberikan pengalaman berharga bagi atlet, terutama atlet-atlet muda, untuk berkembang dan meningkatkan daya saing di level sama atau lebih tinggi.
Selain itu, kata Bayu, hasil di Sanya menjadi fondasi penting untuk menghadapi agenda besar selanjutnya, yaitu Asian Games Aichi-Nagoya 2026. ”Kami melihat hasil ini sebagai batu pijakan. Dalam waktu dekat, kita akan menghadapi ajang yang lebih besar, yaitu Asian Games Aichi-Nagoya 2026 pada 19 September hingga 4 Oktober mendatang,” kata Bayu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/30/7b17d5e3-15b8-4956-9e05-c361ed572e84.jpg)
”Oleh karena itu, evaluasi dan persiapan akan terus dimatangkan agar Indonesia dapat tampil lebih optimal,” ujar mantan judoka yang pernah tampil di Olimpiade Atlanta 1996, Olimpiade Sydney 2000, dan Olimpiade Athena 2004 ini.
Medali emas dipersembahkan pemanjat speed putri, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Kadek Adi Asih, dari nomor perlombaan estafet. Prestasi mereka dilengkapi dengan pemecahan rekor dunia dan Asia dengan catatan waktu 13,174 detik.
Sementara itu, perak dipersembahkan Antasyafi Robby Al Hilmi pada nomor perlombaan individu putra. Satu perak lainnya dipersembahkan Robby saat berlomba pada nomor estafet putra bersama Rajarjati Nursamsa.
”Hasil hari ini menjadi indikator yang baik untuk kesiapan parat atlet menghadapi ajang-ajang selanjutnya, terutama dari segi catatan waktu. Terutama para atlet muda kita, saya melihat ada peningkatan dan membuat saya selaku pelatih juga merasa cukup bangga,” kata pelatih tim panjat tebing disiplin speed, Galar Pandu Asmoro.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/28/010957850a09ae3e36fa78a292a2c1a4-20260428_NOC_ABG26_NMA_Sport_Climbing_Men_s_Speed_Individual_Qualification_Heat_12_32_Ramaski_Aswin_Kristanto_INA_5.182s_6.819s_vs_Antasyafi_Robby_Al_Hilmi_INA_4.94s_6.68s_12.jpg)
Bagi pemanjat-pemanjat muda, seperti Asih (19) dan Robby (18), Asian Beach Games merupakan pengalaman kedua mereka berlomba di ajang level Asia senior. Namun, ini menjadi ajang mutlicabang pertama mereka di kancah Asia. Untuk itu, atmosfer dan pengalaman bertanding menjadi bekal berharga mereka untuk menghadapi ajang multicabang serupa di level Asia, yaitu Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Timnas basket 3x3 putri berhasil memperbaiki capaian di Asian Beach Games sebelumnya meski terhenti di babak 16 besar. Dewa Ayu Made Sriartha Kusuma dan kawan-kawan dihentikan Taiwan dengan skor 10-21 di Gimnasium Pusat Olahraga Sanya, Selasa (28/4/2026).
Menurut timnas basket 3x3 putri Fandi Andika Ramadhani, para pemain sudah bermain maksimal dan sesuai dengan rencana permainan yang disiapkan. Namun, ada kendala saat pemain berhadapan satu lawan satu. Pertahanan tim kurang kokoh, baik penjagaan saat ada bola maupun tanpa bola.
”Situasi ini menjadi evaluasi penting kami agar para pemain lebih disiplin lagi saat hadapi pertandingan di ajang selanjutnya,” kata pelatih yang akrab disapa Rama ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/01/7050c94ee6b695498c2e2586367065af-20260427_NOC_ABG26_NMA_Basketball_3x3_Women_s_Group_C_Match_6_Indonesia_17_12_Macao_China_08.jpg)
Kendati demikian, timnas basket 3x3 putri memperbaiki pencapaian sebelumnya di Asian Beach Games edisi pertama tahun 2008. Saat itu, Indonesia menempati posisi juru kunci dengan koleksi 4 angka. Indonesia kalah dari Jepang, Thailand, Malaysia, dan India.
Pada Asian Beach Games edisi 2012, 2014, dan 2016, timnas basket 3x3 putri tidak ambil bagian. Adapun pada Asian Beach Games 2010, basket 3x3 tidak dipertandingkan.
Ketika timnas putri melaju ke babak 16 besar, timnas basket 3x3 putra terhenti di penyisihan grup. Mereka terpaksa hanya menempati posisi juru kunci setelah gagal meraih satu pun kemenangan dalam tiga pertandingan.
Harapan besar sebenarnya diberikan kepada bola voli pantai. Selain punya rekam jejak gemilang di Asian Beach Games dengan koleksi tiga emas dan satu perunggu, timnas bola voli pantai sedang dalam tren positif dengan kemunculan duet Bintang Akbar dan Sofyan Rachman Efendi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/01/2319c524d2b5f975c60fe5e29419f9f8-20260427_NOC_ABG26_NMA_Beach_Volleyball_Men_s_QF_Bintang_Akbar_Sofyan_Rachman_INA_1_2_Wachirawit_Muadpha_Netitorn_Muneekul_THA_02.jpg)
Bintang/Sofyan pun sempat menjaga harapan itu dengan melaju ke perempat final selepas mengalahkan pasangan Jepang, Kosuke Fukushima/Nassim Malki, dua set langsung (21-19, 21-15) di babak 16 besar. Namun, pasangan juara Volleyball World Beach Pro Tour 2024 seri Qingshan, Wuhan, China, ini kalah dari Thailand lewat pertarunan tiga set, 1-3 (13-21, 23-21, 14-16).
Sementara itu, pasangan Indonesia lainnya yang baru berduet tahun ini, Fairuz Bayhaqly/Imam Ahmad Faisal, sudah terhenti lebih dulu pada babak penyisihan grup. Pada sektor putri, Indonesia yang diperkuat Nur Atika Sari/Josephine Selvina terhenti pada babak 16 besar. Nur Atika/Josephine ditaklukkan pasangan tuan rumah, Dong Jie/Jiang Kaiyue, 0-2 (11-21, 9-21).
Kendati demikian, hasil di Sanya juga jadi modal penting bagi timnas bola voli pantai yang mulai melakukan regenerasi. Baik di sektor putra maupun putri, wajah-wajah baru mulai bermunculan dan disiapkan untuk meneruskan prestasi gemilang voli pantai.
”Untuk Imam dan Fairuz, ajang seperti ini memang untuk memberikan mereka jam terbang, sebagai bagian dari regenerasi juga,” ujar pelatih timnas voli pantai putra, Andy Ardiyansyah.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra