Pencarian 26 Korban Longsor Banjarnegara Dilakukan dengan Alat Berat dan Manual

Pencarian terhadap 26 korban tanah longsor di Banjarnegara terus dilanjutkan. Petugas melakukan pencarian secara manual dan menggunakan alat berat di lokasi.

19 Nov 2025 11:39 WIB · Lingkungan

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO

Oleh Ambrosius Harto

BANJARNEGARA, KOMPAS — Operasi pencarian dan pertolongan korban tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, telah memasuki hari keempat pada Rabu (19/11/2025). Dalam operasi itu, petugas melakukan pencarian secara manual serta memakai alat berat berupa ekskavator.

Pada operasi tersebut, tim SAR membagi area tanah longsor menjadi tiga sektor operasi, yakni A, B, dan C. Operasi dengan ekskavator dilaksanakan di sektor C. Di sektor A, operasi dilakukan secara manual dengan pacul dan sekop. Di sektor B, operasi juga dilaksanakan secara manual sekaligus untuk penanganan genangan air yang meningkatkan risiko gerakan tanah.

Bencana tanah longsor itu terjadi pada Minggu (16/11/2025) sekitar pukul 15.30 WIB. Sampai Rabu pagi, terdapat dua korban meninggal yang telah ditemukan, sedangkan 26 warga lain diduga tertimbun longsoran dan masih dalam pencarian. Bencana itu juga memaksa 937 warga mengungsi.

Berdasarkan asesmen tim SAR, di sektor A diduga ada 16 warga yang tertimbun. Mereka adalah Dangseng, Faiz, Tuwi, Kaswanto, Maruni, Mistri, Intan, Warjono, Soliah, Hono, Kasno, Esiah, Raya, Tia Ario, Lipah, dan Suheri.

Suasana di lokasi tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025).

Di sektor B, diduga enam korban tertimbun, yakni Sutono, Wanto, Tumen, Marsiah, Aminah, dan Watri. Adapun di sektor C, diduga ada empat korban yang tertimbun, yaitu Tarmi, Susanti, Jonatan, dan Suwi.

Di antara tiga sektor itu, sektor C paling mudah ditembus sehingga tim SAR dapat mendatangkan dan mengoperasikan dua ekskavator. Adapun area sektor A dan sektor B belum bisa dijangkau alat berat sehingga operasi SAR masih harus dilakukan secara manual.

Menurut komandan tanggap darurat tanah longsor Pandanarum, Letnan Kolonel (CZI) Teguh Prasetyanto, tim SAR di setiap sektor dibagi rata, yakni terdiri atas 100 orang. Jumlah ini sudah mempertimbangkan risiko gerakan tanah dan kecepatan tim SAR untuk evakuasi mandiri ketika ada longsor susulan.

”Di dekat sektor A dan sektor B ada embung (danau) yang kalau airnya terus merembes akan meningkatkan risiko pergerakan tanah,” ujar Teguh, yang juga Komandan Komando Distrik Militer 0704/Banjarnegara.

Petugas mencari korban di lokasi tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025).

Koordinator Manajemen Informasi Kantor SAR Semarang Heri Sunandar mengatakan, cakupan tanah longsor di wilayah tersebut seluas 11 hektar. Bentang dari mahkota atau puncak bukit yang runtuh sampai ujung bagian tanah longsor sepanjang 1 kilometer.

”Ada problem besar kondisi tanah yang gembur karena jenuh air sehingga pola operasi SAR berbeda,” kata Heri. Di sektor C yang bisa dijangkau ekskavator, petugas lebih mengoptimalkan pengoperasian alat berat. Jika ada tanda temuan korban, tim yang bersiap akan melakukan evakuasi secara manual.

Heri menambahkan, di sektor A dan sektor B terdapat embung. Oleh karena itu, tim terpadu harus mengalihkan aliran air di sana agar tidak meningkatkan risiko pergerakan tanah. ”Kami berusaha agar di hari keempat ini dapat menemukan dan mengevakuasi korban sebanyak-banyaknya,” ucap Heri.

Suasana di lokasi tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025).

Di antara kesibukan tim SAR, masyarakat terdampak diizinkan datang ke rumah untuk menyelamatkan barang, harta benda, atau dokumen yang tertinggal. Mereka datang dengan sepeda motor atau berjalan kaki, kemudian mengambil barang-barang.

Ada juga sejumlah warga yang datang lalu menangis karena kerabat dan keluarga mereka termasuk dalam daftar korban yang tengah dalam pencarian. ”Ibu saya belum ketemu. Saya berharap dia bisa ketemu, jadi bisa dimakamkan dengan baik,” ujar Partini, salah seorang warga.

Quote

Ada problem besar kondisi tanah yang gembur karena jenuh air sehingga pola operasi SAR berbeda.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ambrosius Harto
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti