LIGA SPANYOL

Pendekatan Baik Hati Arbeloa, Potensi Bumerang Real Madrid

Alvaro Arbeloa dikenal dengan pendekatannya yang melindungi para pemain bintang Real. Dalam jangka panjang, kebaikan hati Arbeloa bisa saja menghancurkan tim.

09 Feb 2026 12:16 WIB · Olahraga

AFP

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Alvaro Arbeloa punya pendekatan unik dalam menangani tim sebesar Real Madrid. Alih-alih menunjukkan wibawa, pelatih berusia 43 tahun itu justru lebih sering pasang badan terhadap pemain saat tim bermain buruk. Dalam jangka pendek, pendekatan ini memang bisa menjaga kondusivitas tim. Namun, efek jangka panjangnya sangat mungkin merugikan Real.

Dengan melindungi pemain, Arbeloa berupaya menjauhkan mereka dari terjangan kritik. Menimpakan tanggung jawab sepenuhnya kepada pelatih berarti memberikan kesempatan bagi pemain untuk fokus memperbaiki performanya.

Pendekatan tersebut cukup efektif. Hal itu terbukti dari keberhasilan Real bangkit dari kekalahan memalukan 2-4 dari Benfica pada laga terakhir fase liga Liga Champions Eropa. Setelah hasil negatif itu, Real bangkit dengan mengalahkan Rayo Vallecano, kemudian menang atas Valencia pada Senin (9/2/2026) dini hari WIB.

Kebangkitan itu sulit terwujud jika Arbeloa tidak mencegah pers menyalahkan para pemainnya seusai kalah dari Benfica. Media saat itu meminta pendapat Arbeloa terhadap performa Vinicius dan Kylian Mappe yang dinilai tidak maksimal sehingga beberapa peluang emas tidak dapat dikonversi jadi gol. Selain itu, mereka dinilai tidak aktif membantu pertahanan.

”Jika menurut Anda pertandingan hari ini (berakhir dengan kekalahan) seperti itu karena dua pemain depan tidak cukup berlari, saya sama sekali tidak setuju,” kata Arbeloa dalam konferensi pers seusai laga kontra Benfica.

Itu bukan pertama kali Arbeloa berinisiatif melindungi para pemainnya. Pada laga debutnya melawan Albacete, Arbeloa juga menimpakan kesalahan sepenuhnya pada diri sendiri.

Arbeloa menyadari, performa para pemainnya akan jadi sasaran empuk kritik karena kalah melawan tim papan tengah dari divisi kedua. Dengan menimpakan kesalahan pada pelatih, hal itu bisa mengurangi tekanan kepada pemain.

Pelatih kepala Real Madrid, Alvaro Arbeloa, menyaksikan pertandingan sepak bola La Liga Spanyol antara Real Madrid dan Levante dari pinggir lapangan di Madrid, Spanyol, Sabtu, 17 Januari 2026. (AP Photo/Jose Breton)

”Di klub ini, hasil imbang pun buruk, itu sebuah tragedi. Jadi, bayangkan kekalahan seperti ini, terutama ketika Anda kalah dari lawan yang peringkatnya lebih rendah. Jika ada yang bertanggung jawab, itu saya, karena sayalah yang membuat keputusan tentang susunan pemain, bagaimana kami ingin bermain, dan pergantian pemain,” ujarnya.

Kaset rusak

Kurangnya pengalaman melatih tim senior bisa jadi menempatkan Arbeloa pada posisi yang tidak sama dengan para pemainnya. Tidak heran jika setiap kali Real tampil buruk, kata-kata Arbeloa untuk melindungi para pemainnya dari serangan kritik sudah seperti kaset rusak yang diputar berkali-kali.

Dengan menjadikan dirinya tameng, Arbeloa berupaya mendapatkan kepercayaan lebih banyak dari para pemainnya. Akan aneh jika seorang pelatih baru secara tiba-tiba mengkritik performa para pemain. Dengan demikian, menimpakan tanggung jawab sepenuhnya pada diri sendiri merupakan langkah paling aman bagi Arbeloa.

Arbeloa bisa saja mengkritik pemain, tetapi tidak dia lakukan di depan media. Namun, sekali lagi kemungkinan itu sangat kecil karena seperti disebutkan di awal, posisi Arbeloa dengan para pemain tidak setara.

Ditambah lagi kenyataan bahwa dia merupakan sosok dekat Presiden Florentino Perez yang sangat berusaha menjaga kenyamanan para pemain bintangnya. Bagi Perez, pemain adalah aset terpenting klub yang jika berhasil memaksimalkan potensi mereka akan berarti menaikkan nilai tawarnya pada bursa transfer.

Pemecatan yang dialami pendahulu Arbeloa, Xabi Alonso, sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa di Real pemainlah yang harus diutamakan. Alonso memaksakan sistem yang ia bawa dari Bayer Leverkusen yang mendapat penolakan dari para pemain Real.

Langkah Arbeloa dalam melindungi aset terpenting klub memang baik dalam jangka pendek. Namun, semua itu berpotensi jadi bumerang dalam jangka panjang. Hak itu lantaran semakin lunak pendekatan Arbeloa, kian serius pula potensi dia akan termakan oleh ego besar pemain.

Butuh keseimbangan

Dalam mengelola skuad papan atas seperti Real, dibutuhkan keseimbangan ideal untuk memaksimalkan potensi pemain sekaligus membuat mereka menghormati pelatih. Hal itu sukses dilakukan Carlo Ancelotti. Sayangnya, Arbeloa belum mampu menemukan keseimbangan tersebut. Kini, ia terkesan hanya berpegang pada satu sisi dengan pada dasarnya menuruti kebutuhan para pemain.

Sikap terlalu baik atau bahkan memanjakan justru akan berdampak negatif pada Arbeloa. Ia sudah mulai banyak dikritik oleh para suporter Real karena dianggap sebagai manajer boneka saking sering menyalahkan diri sendiri seraya menolak untuk menghukum pemain yang berkinerja buruk di timnya.

Terus-menerus melindungi pemain bisa sangat berbahaya. Itu karena para pemain bintang akan mendapatkan lebih banyak kepercayaan diri karena mengetahui bahwa meskipun lengah dan tampil buruk, Arbeloa tidak akan memberi teguran atas kesalahan mereka.

Kondisi itu justru meningkatkan kekuatan pengaruh pemain di dalam tim, yang pada akhirnya memberi mereka lebih banyak kesempatan untuk mengintervensi keputusan Arbeloa.

Pada dasarnya, setiap pemain yang berkinerja buruk seperti Vinicius atau bahkan Jude Bellingham merasa semakin percaya diri bahwa kecerobohan mereka nantinya akan diabaikan oleh Arbeloa karena obsesinya dalam menjaga suasana ruang ganti daripada menegur para pemain karena membiarkan performa mereka menurun.

Meskipun banyak pelatih hebat di masa lalu telah menggunakan taktik mengambil tanggung jawab atas hasil buruk untuk melindungi pemain, melakukan hal itu berulang kali hampir selalu membuat tim mendapat masalah.

Intinya, menjadi seorang manajer adalah mampu membuat keputusan sulit demi kesejahteraan tim. Jika Arbeloa terus mempertahankan pendekatannya semata karena rasa takut terhadap reaksi negatif dari para pemain, dia tidak akan pernah benar-benar mampu mengendalikan ruang ganti dengan cara berwibawa seperti yang seharusnya dilakukan seorang pelatih.

(Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti