Survei internet APJII 2025 menunjukkan gen Z paling banyak menggunakan AI untuk keperluan belajar. Namun, tingkat literasi AI-nya masih kurang baik.
14 Agt 2025 12:04 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
JAKARTA, KOMPAS — Penggunaan konten berbasis kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) di Indonesia meningkat signifikan. Penggunanya kebanyakan generasi Z dan milenial. Namun, isu literasi AI dan keamanan data masih menjadi tantangan ke depan.
Hal itu disoroti Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam hasil survei internet APJII 2025. Dari 8.700 responden yang disurvei, 27,34 persen menyatakan telah menggunakan AI. Angka ini naik dari tahun sebelumnya, yakni 24,73 persen.
Kelompok usia yang paling banyak menggunakan AI adalah generasi Z, yakni 43,7 persen, dan milenial sebanyak 22,3 persen. Konten AI paling sering mereka akses untuk edukasi dan pembelajaran, yakni 43,98 persen, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yang baru mencapai 21,84 persen. AI juga mereka gunakan untuk hiburan (29,52 persen), asisten virtual (13,48 persen), dan untuk produktivitas (12,37 persen).
Ketua Umum APJII Muhammad Arif Angga mengatakan, peningkatan signifikan ini terjadi karena generasi Z menganggap AI sebagai bentuk hiburan baru. Kehadiran AI memudahkan anak-anak muda dalam belajar dan bekerja hingga mempelajari teknologi baru yang juga mendorong mereka untuk mengeksplorasi kreativitasnya.
”AI kini bukan hanya menjadi konsumsi golongan tertentu, melainkan telah menjadi konsumsi digital harian generasi muda Indonesia,” kata Arif, Kamis (14/8/2025).
Namun, peningkatan tren penggunaan AI belum dibarengi dengan peningkatan literasi AI masyarakat. Mereka baru bisa menggunakan AI, tetapi belum banyak yang mampu membedakan keputusan AI dengan keputusan manusia.
Tugas kita saat ini adalah memastikan masyarakat Indonesia tak hanya menjadi konsumen.
Survei ini juga mengukur indeks literasi AI yang skornya masih 49,96. Ini menunjukkan tingkat literasi AI responden masih berada pada kategori kurang baik dan belum cukup siap untuk menghadapi perkembangan teknologi AI secara optimal. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar responden masih dalam tahap awal memahami konsep dasar AI.
Selain itu, aspek keamanan data juga menjadi tantangan dalam penggunaan AI. Sebanyak 24,89 persen responden mengalami pencurian data pribadi, sementara 22,12 persen melaporkan perangkat terkena virus, dan 16,09 persen mengalami kasus penipuan daring (phishing) atau peretasan (hacking). Bahkan, lebih dari 41 persen tidak pernah mengganti kata sandinya secara berkala.
”Semua pihak terkait mulai dari pemerintah, penyedia layanan, hingga masyarakat harus mulai sadar dan turut memperhatikan keamanan data digital. Ini bukan hanya soal teknologi, melainkan juga soal kepercayaan publik yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekosistem digital nasional,” ujar Arif.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/25/9aca44d3-fedf-4689-9b7b-f150c7cf03b9_jpg.jpg)
Hal ini direspons pemerintah dengan menerapkan mata pelajaran koding dan AI mulai dari pendidikan dasar dan menengah yang bersifat pilihan. Generasi penerus bangsa diharapkan bisa menggunakan teknologi dengan baik dan benar atau bahkan menjadi pencipta teknologi tersebut.
Direktur Sekolah Menengah Atas di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Winner Jihad Akbar mengatakan, penerapan mata pelajaran koding dan AI bukan hanya mempelajari cara penggunaannya, melainkan melatih peserta didik untuk bisa berpikir secara komputasional.
Mengajarkan berpikir komputasional akan mendorong siswa untuk menyelesaikan masalah secara sistematis dan efisien dengan melakukan proses dekomposisi dalam penyelesaian masalah dan pengenalan pola, abstraksi, serta algoritma yang membantu siswa memahami dan menangani tantangan digital.
Dia menjabarkan, pada tingkat SD, pendekatan berbasis permainan dan pembelajaran unplugged (tidak menggunakan perangkat digital) dapat digunakan untuk mengenalkan dasar-dasar berpikir komputasional. Di tingkat SMP, pembelajaran lebih diarahkan pada pemrograman berbasis blok, eksplorasi algoritma sederhana, dan pengenalan konsep AI dalam kehidupan sehari-hari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/30/b7fac7aa-b74c-42f6-ae37-da86f19bb08f_jpg.jpg)
Sementara di SMA dan SMK, peserta didik mulai diperkenalkan pada pemrograman berbasis teks, konsep machine learning, serta aplikasi dalam berbagai bidang industri. Dengan pendekatan yang bertahap dan kontekstual, peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam proyek nyata yang dapat meningkatkan kreativitas dan keterampilan memecahkan masalah.
Pemerintah meyakini, koding dan AI akan membuka peluang ekonomi baru, mendukung inovasi, dan mendorong pertumbuhan industri digital sehingga memungkinkan generasi muda berkontribusi pada ekonomi kreatif. Untuk itu, kata Winner, koding dan AI adalah kebutuhan demi masa depan peserta didik.
”Kami ingin dengan menguasai keterampilan tersebut siswa tidak hanya menghadapi revolusi industri yang terjadi, tetapi juga siap menjadi pemimpin teknologi masa depan Indonesia,” kata Winner.
Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Digital juga tengah menyusun Buku Putih Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional dan Konsep Pedoman Etika Kecerdasan Artifisial. Ini menjadi pedoman tata kelola pengembangan dan pemanfaatan AI di Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/10/01/b42dba9d-9a3d-4ced-a7fb-94b313bd17f5.jpg)
Tak hanya keamanan data, lanjut Arif, kesenjangan akses internet di Indonesia masih menjadi persoalan tersendiri. Di Indonesia timur, kawasan seperti Maluku dan Papua, baru mencatatkan angka penetrasi akses internet sebesar 69,26 persen. Jauh berbeda dibandingkan dengan Pulau Jawa yang mencapai 84,69 persen.
Menurut Arif, kemajuan digital nasional tidak boleh meninggalkan satu daerah pun. Pengembangan teknologi seperti AI sangat bertumpu pada akses internet sehingga pemerataan internet hingga ke daerah tertinggal, terdepan, danterluar (3T) sangat penting dilakukan.
”Tugas kita saat ini adalah memastikan masyarakat Indonesia tak hanya menjadi konsumen, tetapi sebagai produsen dalam ekosistem AI global. Semua ini dapat kita capai dengan mendorong konektivitas yang merata, literasi digital yang inklusif, serta kolaborasi dengan sektor publik dan swasta,” kata Arif.
Adapun temuan utama dalam survei internet APJII 2025 ini adalah sebanyak 80,66 persen (229 juta jiwa) masyarakat telah terhubung ke internet. Jumlah ini meningkat sebanyak 1,16 persen dibandingkan tahun 2024, yakni 79,50 persen (225 juta jiwa).
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan