Penjabat Gubernur Jateng: Korban Tewas Longsor Pekalongan 20 Orang, 8 Orang Masih Dicari

Ratusan petugas dikerahkan untuk mencari dan mengevakuasi korban longsor di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Korban tewas bertambah menjadi 20 orang.

22 Jan 2025 16:00 WIB · Nusantara

Oleh Kristi Dwi Utami, Haris Firdaus

PEKALONGAN, KOMPAS — Jumlah korban tewas akibat bencana longsor di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, kembali bertambah. Hingga Rabu (22/1/2025) siang, total korban meninggal 20 orang. Sementara itu, delapan orang masih dalam pencarian.

”Yang meninggal, yang saat ini ditemukan ada 20 orang. Kemudian yang masih dalam pencarian ada delapan orang. Yang luka-luka saat ini ada yang pulang, yang berat kita arahkan ke rumah sakit terdekat,” kata Penjabat Gubernur Jateng Nana Sudjana, Rabu, di Pekalongan.  

Nana memaparkan, bencana longsor ini diakibatkan cuaca ekstrem dan hujan dengan instensitas tinggi. Berdasarkan informasi dari masyarakat, hujan turun 2-3 jam.

”Jadi, kecamatan ini merupakan daerah perbukitan yang memang rawan longsor. Apalagi dengan hujan yang cukup besar,” katanya.

Akses jalan alternatif Pekalongan -Banjarnegara yang menghubungkan Kecamatan Doro engan Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, terputus karena timbunan longsor, Rabu (22/1/2025). Dari lokasi ini, sukarelawan harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer menuju lokasi longsor. Bencana longsor terjadi pada Selasa (21/1/2025) karena curah hujan ya

Nana menambahkan, sekitar 500 petugas gabungan dan sukarelawan dikerahkan ke lokasi longsor untuk mencari dan mengevakuasi para korban. Selain itu, petugas juga terus berupaya membuka jalan yang terdampak longsor. 

Menurut Nana, terdapat tiga jembatan yang rusak akibat banjir yang cukup besar. Salah satu yang rusak adalah Jembatan Tembelan yang merupakan akses menuju ke lokasi longsor di Kecamatan Petungkriyono, Pekalongan.

Melihat kondisi itu, pemerintah berencana melakukan perbaikan dengan memasang jembatan bailey yang bersifat sementara. Jembatan bailey itu memiliki panjang sekitar 40 meter.

”Ini jembatan darurat, jembatan sementara yang nanti bisa dijadikan akses yang menghubungkan Kecamatan Petungkriyono dengan Kecamatan Doro. Masyarakat meminta itu segera dilakukan perbaikan,” kata Nana.

Akses jalan alternatif Pekalongan -Banjarnegara yang menghubungkan Kecamatan Doro engan Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, terputus karena timbunan longsor, Rabu (22/1/2025). Dari lokasi ini, sukarelawan harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer menuju lokasi longsor. Bencana longsor terjadi pada Selasa (21/1/2025) karena curah hujan ya

Nana juga memaparkan, bantuan untuk para korban longsor telah disiapkan. Bantuan tersebut berasal dari sejumlah instansi, seperti Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Pemerintah Kabupaten Pekalongan.   

”Bantuan banyak dari Kemensos ada kasur lipat, pakaian, selimut, ada alat mandi juga, mainan anak juga kami siapkan. Terus ada bantuan dari pemprov, pemda, dan instansi lain,” ucapnya.

Pemerintah juga telah menyiapkan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makanan warga terdampak longsor. ”Dapur umum sudah kami siapkan. Petugas juga sudah siap. Mulai tadi pagi sudah beroperasi. Korban atau pengungsi yang terdampak akan segera kami berikan bantuan terkait masalah makan,” katanya.

Tanggap darurat

Bupati Pekalongan Fadia Arafiq mengatakan, pihaknya telah menetapkan status tanggap darurat terkait bencana longsor. Status tersebut ditetapkan sejak Selasa sore (21/1/2025) hingga 14 hari ke depan.

”Fokus penanganan itu mencari korban hilang dan evakuasi,” kata Fadia. Jumlah korban yang hilang masih terus didata karena pada saat kejadian banyak warga yang berada di sekitar lokasi longsor.  

Menurut Fadia, Pemkab Pekalongan terus berupaya melakukan langkah penanganan bencana longsor, antara lain, dengan membersihkan lumpur dan tanah dari permukaan jalan. Jembatan darurat juga disiapkan untuk mendukung mobilitas petugas dan warga.  

Di sisi lain, Fadia menilai, warga yang tinggal di wilayah rawan longsor itu sulit jika harus direlokasi ke tempat lain. Hal ini karena mereka sudah bertahun-tahun tinggal di wilayah tersebut.

Quote

Jadi, kecamatan ini merupakan daerah perbukitan yang memang rawan longsor.

”Mereka sudah bertahun-tahun hidup di sini dan risiko tanah longsor itu juga mereka sudah tahu. Sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Sulit kalau kami pindahkan mereka turun ke bawah. Mereka tidak mau,” paparnya.

Fadia menambahkan, pemerintah terus mengimbau agar masyarakat berhati-hati dan mewaspadai potensi bencana. ”Yang bisa kami lakukan adalah mengimbau masyarakat untuk berhati-hati karena ini musim hujan baru dimulai. Menurut kami baru dimulai karena baru sekitar satu mingguan ini hujan deras, mungkin sampai Februari,” ujarnya.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami, Haris Firdaus
 | 

Editor:

Haris Firdaus