WASHINGTON DC, KAMIS — Departemen Pertahanan Amerika Serikat meminta tambahan dana 200 miliar dolar AS atau Rp 3.397 triliun. Dana itu untuk melanjutkan serangan ke Iran. Anggaran juga termasuk untuk membiayai pengiriman pasukan tambahan ke Timur Tengah.
Kabar permintaan itu disiarkanThe Washington Post pada Rabu (18/3/2026) siang waktu Washington atau Kamis dini hari WIB. Wakil Menteri Pertahanan AS Steve Feinberg memimpin upaya pencarian dana itu.
Gedung Putih dan Departemen Pertahanan AS atau Pentagon belum menjawab permintaan konfirmasi. Redaksi The Washington Post tak menjelaskan apakah permintaan 200 miliar dolar AS itu berbeda dengan permintaan 50 miliar dolar AS yang diajukan di pekan pertama serangan AS-Israel ke Iran.
Trump mengetahui serangan itu, tetapi memilih untuk mengabaikannya setelah ketegangan meningkat.
Di pekan pertama, menurut sejumlah pejabat AS, serangan ke Iran menghabiskan 11 miliar dolar AS. Dana itu termasuk harga ribuan rudal penyerang dan penangkis yang ditembakkan AS. Dana itu juga termasuk biaya bahan bakar ratusan jet tempur dan pesawat serta helikopter lain.
Di pekan ketiga perang, AS telah setidaknya 7.800 kali menyerang berbagai sasaran di Iran. Meski demikian, belum ada tanda Iran akan menyerah atau mengendurkan pembalasan.
Di AS, semakin banyak penolak serangan itu. Bahkan, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS Joseph Clay Kent mengundurkan diri karena tak mendukung perang itu. Kent menyebut, AS menyerang Iran semata karena desakan Israel.
”Jika pemerintah meminta lebih banyak uang, akan ada pertarungan politik besar. Sebab, semua sentimen antiperang akan terfokus pada permintaan itu,” kata penasihat senior CSIS AS, Mark Cancian.
Beberapa pejabat Gedung Putih tidak berpikir permintaan Pentagon memiliki peluang realistis untuk disetujui di Kongres. Pentagon, menurut sejumlah sumber The Washington Post, telah mengajukan beberapa usulan permintaan pendanaan yang berbeda selama dua minggu terakhir.
Senator AS Chris Van Hollen memastikan akan menolak permohonan tambahan dana itu. ”Cara terbaik untuk mengakhiri perang ini, melindungi pasukan kita, menyelamatkan nyawa warga sipil, dan mengendalikan pemerintahan yang melanggar hukum adalah dengan memotong pendanaan. Saya sangat menolaknya,” tulisnya di media sosial pada Kamis (19/3/2026) pagi waktu Washington DC.
Tentara tambahan
Sementara Reuters melaporkan, Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan tambahan ribuan tentara di Timur Tengah. Pasukan tambahan itu tidak termasuk 2.500 marinir yang telah bergerak dari Jepang menuju Timur Tengah.
Gedung Putih menyebut, tak ada keputusan apa pun soal pengerahan pasukan darat ke Iran. Meski demikian, Trump tetap mempertimbangkan semua opsi.
Sumber Reuters menyebut, Pentagon kini gelisah dengan pengurangan drastis kekuatan di kawasan kala serangan ke Iran masih berlangsung. Kebakaran di kabin memaksa Pentagon memindahkan kapal induk USS Gerald Ford dari pesisir Israel ke Yunani.
Di Yunani, kapal induk itu akan diperbaiki selepas kebakaran yang menurut Pentagon terjadi di ruang binatu tersebut. Sejumlah sumber di Angkatan Laut AS menyebut, butuh lebih dari sehari untuk memadamkan api di kabin USS Gerald Ford. Penyebab kebakaran tak diungkap sampai sekarang.
Penarikan kapal itu membuat AS kehilangan setidaknya 4.000 prajurit dan 75 unit aneka pesawat dan helikopter dari kawasan. Kapal itu bisa menjadi pangkalan peluncuran antara 160 sampai 270 penerbangan setiap hari.
Jet tempur dari geladak kapal itu berperan dalam menyerang dan mencegat pembalasan Iran. Selain rudal-rudal dari artileri pertahanan udara di darat, pencegatan pembalasan Iran juga dilakukan dengan rudal dari aneka pesawat dan pesawat nirawak AS-Israel.
Kapal itu juga mengangkut aneka pesawat perang elektronika. Pesawat itu berfungsi sebagai pengintai, pengacak sinyal, hingga peringatan dini serangan lawan.
Kerusakan lebih dari 10 radar di kawasan membuat sistem peringatan dini AS-Israel terganggu. Kini, gangguan meningkat dengan penarikan pesawat elektronika di geladak Gerald Ford.
Di kawasan, AS kini hanya memiliki kapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal induk itu di Laut Arab sejak akhir Februari 2026.
Tidak ragu
Peneliti senior Institute for National Security Studies (INSS) Israel, Danny Citrinowicz, mengatakan, perkembangan di lapangan menunjukkan Iran tak ragu meningkatkan eskalasi. Perang juga terus menunjukkan ketidakjelasan strategi koheren AS-Israel.
Kecaman Trump pada serangan Israel terhadap ladang gas Iran, South Pars, menjadi penanda tambahan ketidakselarasan tujuan AS-Israel. Apalagi, menurut Citrinowicz, sejak awal memang tak ada kejelasan tujuan serangan itu.
”Trump mengetahui serangan itu, tetapi memilih untuk mengabaikannya setelah ketegangan meningkat. Ini mencerminkan kesenjangan yang berkelanjutan antara Washington, yang mungkin masih tertarik untuk mempertahankan Iran yang berorientasi masa depan, dan Israel, yang pendekatannya tampaknya bertujuan untuk secara sistematis merusak seluruh infrastruktur negara tersebut,” kata mantan Kepala Bagian Iran pada Intelejen Pertahanan Israel itu.
Ia menilai, serangan ke ladang gas di Selat Hormuz itu lebih mencerminkan rasa frustrasi dibandingkan dengan alasan strategis. Iran tak kunjung menyerah, pemerintahannya bertahan, dan Selat Hormuz tetap tertutup.
”Peristiwa semalam (serangan Israel ke ladang gas) menggarisbawahi betapa tidak terstrukturnya kampanye ini—kurangnya kejelasan strategis, perencanaan jangka panjang, dan tujuan akhir yang jelas,” lanjutnya. (REUTERS)
WASHINGTON DC, KAMIS — Departemen Pertahanan Amerika Serikat meminta tambahan dana 200 miliar dolar AS atau Rp 3.397 triliun. Dana itu untuk melanjutkan serangan ke Iran. Anggaran juga termasuk untuk membiayai pengiriman pasukan tambahan ke Timur Tengah.
Kabar permintaan itu disiarkanThe Washington Post pada Rabu (18/3/2026) siang waktu Washington atau Kamis dini hari WIB. Wakil Menteri Pertahanan AS Steve Feinberg memimpin upaya pencarian dana itu.
Serial Artikel
Pentagon Cari Tambahan 50 Miliar Dolar AS untuk Dana Serang Iran dan Konflik Lain
Sejak terlibat dalam perang Ukraina lalu serangan Israel ke sejumlah negara di Timur Tengah, cadangan persenjataan AS terkuras.
Gedung Putih dan Departemen Pertahanan AS atau Pentagon belum menjawab permintaan konfirmasi. Redaksi The Washington Post tak menjelaskan apakah permintaan 200 miliar dolar AS itu berbeda dengan permintaan 50 miliar dolar AS yang diajukan di pekan pertama serangan AS-Israel ke Iran.
Trump mengetahui serangan itu, tetapi memilih untuk mengabaikannya setelah ketegangan meningkat.
Di pekan pertama, menurut sejumlah pejabat AS, serangan ke Iran menghabiskan 11 miliar dolar AS. Dana itu termasuk harga ribuan rudal penyerang dan penangkis yang ditembakkan AS. Dana itu juga termasuk biaya bahan bakar ratusan jet tempur dan pesawat serta helikopter lain.
Di pekan ketiga perang, AS telah setidaknya 7.800 kali menyerang berbagai sasaran di Iran. Meski demikian, belum ada tanda Iran akan menyerah atau mengendurkan pembalasan.
Di AS, semakin banyak penolak serangan itu. Bahkan, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS Joseph Clay Kent mengundurkan diri karena tak mendukung perang itu. Kent menyebut, AS menyerang Iran semata karena desakan Israel.
”Jika pemerintah meminta lebih banyak uang, akan ada pertarungan politik besar. Sebab, semua sentimen antiperang akan terfokus pada permintaan itu,” kata penasihat senior CSIS AS, Mark Cancian.
Beberapa pejabat Gedung Putih tidak berpikir permintaan Pentagon memiliki peluang realistis untuk disetujui di Kongres. Pentagon, menurut sejumlah sumber The Washington Post, telah mengajukan beberapa usulan permintaan pendanaan yang berbeda selama dua minggu terakhir.
Senator AS Chris Van Hollen memastikan akan menolak permohonan tambahan dana itu. ”Cara terbaik untuk mengakhiri perang ini, melindungi pasukan kita, menyelamatkan nyawa warga sipil, dan mengendalikan pemerintahan yang melanggar hukum adalah dengan memotong pendanaan. Saya sangat menolaknya,” tulisnya di media sosial pada Kamis (19/3/2026) pagi waktu Washington DC.
Serial Artikel
Ada Apa di Pulau Kharg, Iran, yang Jadi Target Serangan AS?
Pulau Kharg merupakan salah satu sasaran serangan Amerika Serikat di Iran. Apa sebenarnya yang ada di pulau itu sehingga Presiden AS Donald Trump mengincarnya?
Sementara Reuters melaporkan, Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan tambahan ribuan tentara di Timur Tengah. Pasukan tambahan itu tidak termasuk 2.500 marinir yang telah bergerak dari Jepang menuju Timur Tengah.
Gedung Putih menyebut, tak ada keputusan apa pun soal pengerahan pasukan darat ke Iran. Meski demikian, Trump tetap mempertimbangkan semua opsi.
Sumber Reuters menyebut, Pentagon kini gelisah dengan pengurangan drastis kekuatan di kawasan kala serangan ke Iran masih berlangsung. Kebakaran di kabin memaksa Pentagon memindahkan kapal induk USS Gerald Ford dari pesisir Israel ke Yunani.
Di Yunani, kapal induk itu akan diperbaiki selepas kebakaran yang menurut Pentagon terjadi di ruang binatu tersebut. Sejumlah sumber di Angkatan Laut AS menyebut, butuh lebih dari sehari untuk memadamkan api di kabin USS Gerald Ford. Penyebab kebakaran tak diungkap sampai sekarang.
Penarikan kapal itu membuat AS kehilangan setidaknya 4.000 prajurit dan 75 unit aneka pesawat dan helikopter dari kawasan. Kapal itu bisa menjadi pangkalan peluncuran antara 160 sampai 270 penerbangan setiap hari.
Jet tempur dari geladak kapal itu berperan dalam menyerang dan mencegat pembalasan Iran. Selain rudal-rudal dari artileri pertahanan udara di darat, pencegatan pembalasan Iran juga dilakukan dengan rudal dari aneka pesawat dan pesawat nirawak AS-Israel.
Kapal itu juga mengangkut aneka pesawat perang elektronika. Pesawat itu berfungsi sebagai pengintai, pengacak sinyal, hingga peringatan dini serangan lawan.
Kerusakan lebih dari 10 radar di kawasan membuat sistem peringatan dini AS-Israel terganggu. Kini, gangguan meningkat dengan penarikan pesawat elektronika di geladak Gerald Ford.
Di kawasan, AS kini hanya memiliki kapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal induk itu di Laut Arab sejak akhir Februari 2026.
Serial Artikel
Belum Serang Iran, Tentara AS Sudah Menderita
Rencana AS menyerang Iran terkendala antrean toilet dan tentara yang rindu keluarga. Tentara ”kena mental” oleh faktor nonteknis.
Peneliti senior Institute for National Security Studies (INSS) Israel, Danny Citrinowicz, mengatakan, perkembangan di lapangan menunjukkan Iran tak ragu meningkatkan eskalasi. Perang juga terus menunjukkan ketidakjelasan strategi koheren AS-Israel.
Kecaman Trump pada serangan Israel terhadap ladang gas Iran, South Pars, menjadi penanda tambahan ketidakselarasan tujuan AS-Israel. Apalagi, menurut Citrinowicz, sejak awal memang tak ada kejelasan tujuan serangan itu.
”Trump mengetahui serangan itu, tetapi memilih untuk mengabaikannya setelah ketegangan meningkat. Ini mencerminkan kesenjangan yang berkelanjutan antara Washington, yang mungkin masih tertarik untuk mempertahankan Iran yang berorientasi masa depan, dan Israel, yang pendekatannya tampaknya bertujuan untuk secara sistematis merusak seluruh infrastruktur negara tersebut,” kata mantan Kepala Bagian Iran pada Intelejen Pertahanan Israel itu.
Ia menilai, serangan ke ladang gas di Selat Hormuz itu lebih mencerminkan rasa frustrasi dibandingkan dengan alasan strategis. Iran tak kunjung menyerah, pemerintahannya bertahan, dan Selat Hormuz tetap tertutup.
”Peristiwa semalam (serangan Israel ke ladang gas) menggarisbawahi betapa tidak terstrukturnya kampanye ini—kurangnya kejelasan strategis, perencanaan jangka panjang, dan tujuan akhir yang jelas,” lanjutnya. (REUTERS)