Kompas.id Brief
”KOMPAS” BRIEF

Ada Apa di Pulau Kharg, Iran, yang Jadi Target Serangan AS?

Pulau Kharg merupakan salah satu sasaran serangan Amerika Serikat di Iran. Apa sebenarnya yang ada di pulau itu sehingga Presiden AS Donald Trump mengincarnya?

19 Mar 2026 08:00 WIB · Internasional

AFP

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?

1. Di mana letak Pulau Kharg?

2. Ada apa di Pulau Kharg sehingga diincar oleh AS?

3. Bagaimana ancaman Donald Trump untuk menghancurkan fasilitas di Pulau Kharg?

4. Setelah diserang oleh militer AS, bagaimana kondisi Pulau Kharg saat ini?

5. Jika infrastruktur minyak di Pulau Kharg dihancurkan, apa dampaknya bagi ekonomi global?

Di mana letak Pulau Kharg?

copy title

Pulau Kharg terletak di Teluk Persia, Iran. Pulau karang ini berjarak sekitar 25 kilometer dari daratan Iran. Lokasinya berada sekitar 480 kilometer barat laut dari Selat Hormuz, jalur vital energi global.

Luasnya sekitar 22 kilometer persegi dengan panjang 8 kilometer dan lebar berkisar 4-5 kilometer. Pulau yang berada di Provinsi Bushehr tersebut tidak bisa diakses warga kebanyakan. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengawal pulau itu selama 24 jam penuh.

Sebutan Kharg berubah-ubah selama berabad-abad. Pulau itu pernah disebut Kharg, Khark, Kharaj, dan Kharej. Pulau ini dijadikan pembuangan bagi musuh politik Shah Reza Pahlevi pada abad ke-20.

Warga Iran mengenal Pulau Kharg sebagai ”Pulau Terlarang”. Pulau ini dikelilingi oleh kawat berduri. Selain itu, terdapat sejumlah menara pengawas dan berbagai fasilitas keamanan di sana. Jadi, tidak semua orang bisa memasukinya.

Ada apa di Pulau Kharg sehingga diincar oleh AS?

copy title

Terdapat sejumlah fasilitas militer di Pulau Kharg. Militer bertugas menjaga terminal pengiriman minyak di sana. Setidaknya, 90 persen minyak yang diproduksi Iran diekspor melalui Kharg.

Pulau Kharg mempunyai peran yang sangat strategis bagi Iran. Dengan memusatkan pengiriman minyak lewat jalur laut, Iran tidak perlu bergantung pada jaringan pipa yang melintasi wilayah negara lain. Kapasitas instalasi minyak di pulau itu pun terus dikembangkan.

Oleh sebab itu, Iran menerapkan penjagaan ketat di Pulau Kharg. Iran langsung bereaksi keras saat AS menyerang fasilitas militer di pulau tersebut, Sabtu (14/3/2026). Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengatakan, serangan terhadap perbatasan selatan Iran, termasuk di Pulau Kharg, akan dibalas oleh Iran.

Selama ini, kapasitas penyimpanan minyak harian di Kharg mencapai 7 juta barel dengan jumlah ekspor harian sebesar 1,6 juta barel. Namun, pada Mei tahun lalu, Iran menambah kapasitas penyimpanan sebesar 2 juta barel di pulau itu.

Bagaimana ancaman Donald Trump untuk menghancurkan fasilitas di Pulau Kharg?

copy title

Serangan AS ke Pulau Kharg tidak bisa dilepaskan dari keputusan Iran menutup Selat Hormuz yang telah mengganggu pasokan minyak global. Harga minyak dunia pun meroket hingga di atas 100 dolar AS per barel.

Dalam serangan 14 Maret lalu, AS mengklaim hanya menyasar fasilitas militer Iran. Namun, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memperluas target serangan ke infrastruktur energi jika Iran terus memblokade Selat Hormuz. Trump bahkan mendesak negara-negara sekutu mengirimkan kapal perangnya untuk menekan Iran.

Namun, sejumlah negara menolak ajakan Trump itu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, pihaknya didekati oleh sejumlah negara yang mencari jalur aman bagi kapal-kapal mereka. Beberapa kapal dari beberapa negara telah diizinkan lewat.

Dilansir dari The New York Times, Trump menyebut Pulau Kharg sebagai ”permata mahkota”. Pulau itu telah menjadi titik penting dalam perang AS-Israel melawan Iran. Perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026 itu telah menewaskan lebih dari 2.000 orang.

Setelah diserang oleh militer AS, bagaimana kondisi Pulau Kharg saat ini?

copy title

Serangan AS ke Pulau Kharg membuat perang semakin memanas. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut telah melumpuhkan 90 persen kekuatan militer Iran di Pulau Kharg, seperti kekuatan rudal dan ranjau laut. Belum ada laporan kerusakan pada fasilitas minyak.

Hingga saat ini, Pulau Kharg masih dikuasai militer Iran. Pemerintah Iran menegaskan, jika AS menghancurkan fasilitas perminyakan di Kharg, Teheran akan menyerang fasilitas energi milik perusahaan-perusahaan yang terkait dengan AS.

Perang telah meluas ke sejumlah negara di kawasan Teluk. Selain menembakkan rudal dan drone ke wilayah Israel, serangan Iran juga menyasar aset-aset AS di Timur Tengah. Bagi Iran, negara-negara yang digunakan sebagai lokasi asal serangan AS-Israel atau setidaknya memfasilitasi serangan itu sah untuk diserang.

Pada 2 Maret 2026, drone Iran menyasar kantor penyedia komputasi awan (cloud) Amazon Web Services (AWS) di Bahrain dan Uni Emirat Arab. AWS selama ini dituding Iran melayani kebutuhan militer AS dan Israel.

Jika infrastruktur minyak di Pulau Kharg dihancurkan, apa dampaknya bagi ekonomi global?

copy title

Menghancurkan infrastruktur minyak di Pulau Kharg jelas akan merugikan Iran. Negara itu akan kehilangan mayoritas ekspor minyaknya. Namun, hal ini juga berisiko mengguncang perekonomian global karena lonjakan harga minyak.

Hancurnya terminal minyak di Kharg, menurut analisis Christian Emery, Lektor Kepala Bidang Politik Internasional di University College London (UCL) dalam The Conversation, bisa membuat harga minyak melonjak hingga 150 dolar AS per barel. Sebagai pembanding, ketika Rusia menyerang Ukraina, pada Februari 2022, harga minyak melonjak dan berada di kisaran 100 dolar AS per barel selama empat bulan. Kondisi itu mendorong inflasi mencapai 9 persen. Biaya hidup pun melonjak.

Serangan ke Iran juga menguak kerentanan ketergantungan terhadap energi fosil. Negara-negara di dunia perlu mengurangi ketergantungan itu dan beralih pada sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

”Ketergantungan pada bahan bakar fosil merampas keamanan dan kedaulatan nasional serta menggantinya dengan kepatuhan dan kenaikan biaya,” ujar Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Simon Stiell.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan