PERANG

Pentagon Minta Tambahan Rp 3.397 Triliun untuk Serang Iran

Serangan ke Iran telah menghabiskan lebih dari 10 miliar dolar AS. Kini, Pentagon minta tambahan 200 miliar dolar AS.

19 Mar 2026 16:43 WIB · Internasional

USS New Orleans (LPD 18)

Oleh Kris Mada

WASHINGTON DC, KAMIS — Departemen Pertahanan Amerika Serikat meminta tambahan dana 200 miliar dolar AS atau Rp 3.397 triliun. Dana itu untuk melanjutkan serangan ke Iran. Anggaran juga termasuk untuk membiayai pengiriman pasukan tambahan ke Timur Tengah.

Kabar permintaan itu disiarkan The Washington Post pada Rabu (18/3/2026) siang waktu Washington atau Kamis dini hari WIB. Wakil Menteri Pertahanan AS Steve Feinberg memimpin upaya pencarian dana itu.

Gedung Putih dan Departemen Pertahanan AS atau Pentagon belum menjawab permintaan konfirmasi. Redaksi The Washington Post tak menjelaskan apakah permintaan 200 miliar dolar AS itu berbeda dengan permintaan 50 miliar dolar AS yang diajukan di pekan pertama serangan AS-Israel ke Iran.

Quote

Trump mengetahui serangan itu, tetapi memilih untuk mengabaikannya setelah ketegangan meningkat.

Di pekan pertama, menurut sejumlah pejabat AS, serangan ke Iran menghabiskan 11 miliar dolar AS. Dana itu termasuk harga ribuan rudal penyerang dan penangkis yang ditembakkan AS. Dana itu juga termasuk biaya bahan bakar ratusan jet tempur dan pesawat serta helikopter lain.

Di pekan ketiga perang, AS telah setidaknya 7.800 kali menyerang berbagai sasaran di Iran. Meski demikian, belum ada tanda Iran akan menyerah atau mengendurkan pembalasan.

Deputy Secretary of Defense Steve Feinberg swears in Under Secretary of Defense for Policy Elbridge Colby with an oath ceremony at the Pentagon, Washington, D.C., April, 9, 2025. (DoD photo by U.S. Air Force Tech. Sgt. Jack Sanders)

Di AS, semakin banyak penolak serangan itu. Bahkan, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS Joseph Clay Kent mengundurkan diri karena tak mendukung perang itu. Kent menyebut, AS menyerang Iran semata karena desakan Israel.

”Jika pemerintah meminta lebih banyak uang, akan ada pertarungan politik besar. Sebab, semua sentimen antiperang akan terfokus pada permintaan itu,” kata penasihat senior CSIS AS, Mark Cancian.

Beberapa pejabat Gedung Putih tidak berpikir permintaan Pentagon memiliki peluang realistis untuk disetujui di Kongres. Pentagon, menurut sejumlah sumber The Washington Post, telah mengajukan beberapa usulan permintaan pendanaan yang berbeda selama dua minggu terakhir.

Senator AS Chris Van Hollen memastikan akan menolak permohonan tambahan dana itu. ”Cara terbaik untuk mengakhiri perang ini, melindungi pasukan kita, menyelamatkan nyawa warga sipil, dan mengendalikan pemerintahan yang melanggar hukum adalah dengan memotong pendanaan. Saya sangat menolaknya,” tulisnya di media sosial pada Kamis (19/3/2026) pagi waktu Washington DC.

Tentara tambahan

Sementara Reuters melaporkan, Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan tambahan ribuan tentara di Timur Tengah. Pasukan tambahan itu tidak termasuk 2.500 marinir yang telah bergerak dari Jepang menuju Timur Tengah.

Gedung Putih menyebut, tak ada keputusan apa pun soal pengerahan pasukan darat ke Iran. Meski demikian, Trump tetap mempertimbangkan semua opsi.

Sumber Reuters menyebut, Pentagon kini gelisah dengan pengurangan drastis kekuatan di kawasan kala serangan ke Iran masih berlangsung. Kebakaran di kabin memaksa Pentagon memindahkan kapal induk USS Gerald Ford dari pesisir Israel ke Yunani.

U.S. 7TH FLEET AREA OF OPERATIONS (February 11, 2026) U.S. Marines, with the Battalion Landing Team 3rd Battalion, 1st Marines (3/1), 31st Marine Expeditionary Unit, conduct a live fire evolution on the flight deck of San Antonio-class amphibious transport dock ship, USS New Orleans (LPD 18), while underway, Feb. 11, 2026. Tripoli Amphibious Ready Group, (ARG), composed of America-class amphibious assault shit USS Tripoli (LHA 7), San Antonio-class amphibious transport dock ships, USS New Orleans (LPD 18) and USS San Diego (LPD 22), along with the 31st Marine Expeditionary Unit (MEU) , are underway conducting routine operations in the U.S. 7th Fleet area of operations. U.S. 7th Fleet, the U.S. Navy's largest forward-deployed numbered fleet, routinely interacts and operates with allies and partners in preserving a free and open Indo-Pacific. (US Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Sade' Anita Wallace)

Di Yunani, kapal induk itu akan diperbaiki selepas kebakaran yang menurut Pentagon terjadi di ruang binatu tersebut. Sejumlah sumber di Angkatan Laut AS menyebut, butuh lebih dari sehari untuk memadamkan api di kabin USS Gerald Ford. Penyebab kebakaran tak diungkap sampai sekarang.

Penarikan kapal itu membuat AS kehilangan setidaknya 4.000 prajurit dan 75 unit aneka pesawat dan helikopter dari kawasan. Kapal itu bisa menjadi pangkalan peluncuran antara 160 sampai 270 penerbangan setiap hari.

Jet tempur dari geladak kapal itu berperan dalam menyerang dan mencegat pembalasan Iran. Selain rudal-rudal dari artileri pertahanan udara di darat, pencegatan pembalasan Iran juga dilakukan dengan rudal dari aneka pesawat dan pesawat nirawak AS-Israel.

An EA-18G Growler, attached to Electronic Attack Squadron (VAQ) 133, makes an arrested landing on the flight deck of Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln (CVN 72) on Jan. 24, 2026. The Abraham Lincoln Carrier Strike Group is underway conducting routine operations in the U.S. 7th Fleet area of operations. Units assigned to 7th Fleet conduct regular Indo-Pacific patrols to deter aggression, strengthen alliances and partnerships, and advance peace through strength. (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist Seaman Apprentice Cesar Zavala)

Kapal itu juga mengangkut aneka pesawat perang elektronika. Pesawat itu berfungsi sebagai pengintai, pengacak sinyal, hingga peringatan dini serangan lawan.

Kerusakan lebih dari 10 radar di kawasan membuat sistem peringatan dini AS-Israel terganggu. Kini, gangguan meningkat dengan penarikan pesawat elektronika di geladak Gerald Ford.

Di kawasan, AS kini hanya memiliki kapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal induk itu di Laut Arab sejak akhir Februari 2026.

Tidak ragu

Peneliti senior Institute for National Security Studies (INSS) Israel, Danny Citrinowicz, mengatakan, perkembangan di lapangan menunjukkan Iran tak ragu meningkatkan eskalasi. Perang juga terus menunjukkan ketidakjelasan strategi koheren AS-Israel.

Kecaman Trump pada serangan Israel terhadap ladang gas Iran, South Pars, menjadi penanda tambahan ketidakselarasan tujuan AS-Israel. Apalagi, menurut Citrinowicz, sejak awal memang tak ada kejelasan tujuan serangan itu.

”Trump mengetahui serangan itu, tetapi memilih untuk mengabaikannya setelah ketegangan meningkat. Ini mencerminkan kesenjangan yang berkelanjutan antara Washington, yang mungkin masih tertarik untuk mempertahankan Iran yang berorientasi masa depan, dan Israel, yang pendekatannya tampaknya bertujuan untuk secara sistematis merusak seluruh infrastruktur negara tersebut,” kata mantan Kepala Bagian Iran pada Intelejen Pertahanan Israel itu.

Ia menilai, serangan ke ladang gas di Selat Hormuz itu lebih mencerminkan rasa frustrasi dibandingkan dengan alasan strategis. Iran tak kunjung menyerah, pemerintahannya bertahan, dan Selat Hormuz tetap tertutup.

”Peristiwa semalam (serangan Israel ke ladang gas) menggarisbawahi betapa tidak terstrukturnya kampanye ini—kurangnya kejelasan strategis, perencanaan jangka panjang, dan tujuan akhir yang jelas,” lanjutnya. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto