Penunjukan Menpora baru akan menguji komitmen Presiden atas kemajuan olahraga. Apakah semata politis atau benar-benar perhatikan rekam jejak dan kompetensinya.
10 Sep 2025 16:55 WIB · Olahraga
Dito Ariotedjo masih berkegiatan seperti biasa sebagai Menpora pada Senin (8/9/2025) siang. Salah satu kegiatannya adalah meninjau persiapan peringatan Hari Olahraga Nasional Ke-42 di Cibubur Youth Elite Sport Center, Jakarta Timur. Acara tersebut akan berlangsung keesokan harinya.
Namun, pada Senin sore, Dito mengunggah ucapan pamit di Instagram miliknya. Tak lama, kabar soal perombakan Kabinet Merah Putih diumumkan. Dito jadi satu dari lima menteri yang diganti pada reshuffle jilid kedua.
”Terima kasih untuk semua yang sudah jalan bersama berusaha membuat perubahan di Pemuda dan Olahraga. Semoga dilanjutkan penerus selanjutnya,” tulis Dito dalam unggahannya.
Saat mendatangi kantor Kemenpora pada Senin malam untuk berpamitan secara langsung dan membereskan barang-barang pribadi, Dito mengungkapkan kabar reshuffle diterimanya sejak Senin pagi. Politisi Golkar ini tidak tahu alasan pergantian tersebut.
”Itu, kan, hak prerogatif Bapak Presiden. Jadi, kita terima saja,” ucap Dito.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/14/fae3e9a1-b29c-421b-bdeb-63fdfd2f375c_jpg.jpg)
Pengganti Dito belum diumumkan. Ketika tiga menteri pengganti lain dan satu menteri beserta wakil untuk kementerian baru sudah dilantik pada Senin sore, Menpora serta Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan yang baru belum dilantik. Menpora disebut akan menjalani pelantikan susulan karena sedang berada di luar kota.
Dito sebelumnya mengemban peran Menpora pada Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Pada kabinet pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Dito hanya melaksanakan tugas selama 1,5 tahun untuk menggantikan seniornya sesama politisi Golkar, Zainudin Amali, yang mundur setelah terpilih sebagai Wakil Ketua Umum PSSI.
Setelah itu, Dito kembali dipilih untuk menjadi Menpora pada kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming. Pemerintahan baru berjalan 11 bulan, Dito dicopot dari jabatannya. Artinya, Dito tidak pernah mengemban tugas sebagai Menpora dalam satu periode pemerintahan secara penuh.
”Ini persoalan yang cenderung berulang. Bisa dibilang, Kemenpora itu kementerian yang kurang beruntung. Dalam 20 tahun terakhir, turbulensinya lebih kurang seperti itu,” kata Guru Besar Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya Ali Maksum menyoroti dinamika di Kemenpora.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/06/73ae3040-f394-41f6-a7aa-0d62c9937e2b_jpg.jpg)
Jika dilitik lebih jauh, Kemenpora memang merupakan salah satu kementerian yang selalu dirundung persoalan dan penunjukan menterinya sarat akan politik. Setelah dihapuskan pada era Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001) dan Kabinet Gotong Royong (2001-2004), kementerian ini baru hadir kembali pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009).
Saat itu, politisi PKS yang minim rekam jejak di bidang olahraga dan pemuda, Adhyaksa Dault, ditunjuk sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Pada Kabinet Indonesia Bersatu II, masa pemerintahan SBY-Boediono, kementerian ini mulai berganti nama menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga yang dijabat oleh politisi Demokrat, Andi Alfian Mallarangeng.
Namun, Andi hanya menjabat pada 2009-2012. Dia mundur sebelum masa tugas berakhir menyusul penetapan dirinya sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus pembangunan sarana olahraga Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Penggantinya, Roy Suryo, politisi Partai Demokrat saat itu yang juga dikenal sebagai pakar telematika, pernah diminta mengembalikan barang milik negara kepada Kemenpora sebanyak 3.226 unit. Lalu, politisi Partai Kebangkitan Bangsa Imam Nahrawi mengundurkan diri sebulan sebelum berakhirnya jabatan Menpora periode 2014-2019 setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi kasus dana hibah KONI.
Dito pun pernah dipanggil sebagai saksi dalam perkara dugaan korupsi pembangunan menara BTS 4G pada pertengahan 2023. Pemanggilan itu dilakukan setelah salah seorang tersangka memberikan keterangan bahwa terdapat aliran dana kepada Dito pada November-Desember 2022 dengan total Rp 27 miliar. Dito membantah menerima uang tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/17/a576ad6cfad74d2c508e2f1527f15fe0-1.0c31f146_2551_4910_aa3e_d359db02b701_jpg.jpg)
Penunjukan Dito oleh Presiden Prabowo seolah mempertahankan tradisi bahwa menpora selalu dijabat oleh seorang politisi. Sebelum menjadi Menpora pada era pemerintahan Jokowi, pengalaman Dito di dunia olahraga berkisar pada pengalaman menjadi Ketua Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Provinsi DKI Jakarta 2015-2019 dan ketua kontingen Indonesia pada perhelatan Olimpiade Remaja Musim Panas 2018.
Saat wawancara khusus dengan Kompas, 18 November 2024, Dito menyampaikan bahwa salah satu tugas utama yang diberikan Presiden Prabowo kepadanya adalah peningkatan prestasi di Olimpiade. Artinya, tugas utama itu belum bisa diukur keberhasilannya lantaran Olimpiade baru akan digelar lagi pada 2028 di Los Angeles.
Menurut Ali Maksum, dinamika ini memunculkan lagi pertanyaan soal bagaimana komitmen pemerintah akan olahraga. Komitmen ini dilihat dari keseriusan memilih figur untuk mengisi peran yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pemuda dan olahraga.
Keseriusan dalam memilih figur ini penting karena ada banyak problematika dalam ranah olahraga. Sejumlah tantangan dan pekerjaan rumah pun menanti Menpora baru. Dengan demikian, Presiden tidak bisa asal tunjuk jika memang punya perhatian khusus untuk memajukan olahraga nasional. Apalagi hanya untuk mengerjakan tugas dalam waktu singkat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/28/93919b50-76ba-44a7-b117-c7d8f5b76967_jpg.jpg)
Di sisi lain, pengalaman Presiden Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia dan Presiden Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa seharusnya memberikan warna baru dalam pengembangan olahraga di Tanah Air. Begitu pula dengan kehadiran mantan atlet Taufik Hidayat yang jadi Wamenpora yang dinilai Ali sebagai upaya memperkuat olahraga prestasi.
”Harus ada komitmen dari Presiden. Harus ada komitmen bahwa orang yang dipilih memang yang punya rekam jejak dan kapasitas memadai supaya kondisi semacam ini tidak terulang. Sebab, dari masa ke masa, selalu ada saja yang terjadi, entah tersandung kasus hukum atau mengundurkan diri,” ujar Ali.
Tidak penting dari mana figur Menpora ini berasal. Kata Ali, yang utama adalah sosok Menpora ini harus dipastikan menguasai masalah olahraga. Pengetahuan ini penting sebagai bekal ketika membuat kebijakan strategis. Dinamika dalam kepemimpinan Kemenpora akan muncul kembali jika orang yang ditunjuk tidak memahami problem yang harus diatasi.
Figur tersebut juga harus didukung karakter kepemimpinan yang kuat sehingga bisa bernegosiasi, terutama soal anggaran. Ali tak memungkiri, anggaran besar dibutuhkan untuk membiayai upaya mengejar prestasi.
”Tidak kalah pentingnya, dia haruslah sosok yang punya visi jangka panjang, tidak hanya berpikir ketika masa jabatannya. Karena jika begitu, dia akan cenderung melakukan sesuatu yang sifatnya instan, padahal olahraga umumnya butuh proses panjang dari pembinaan,” tutur Ali.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/12/20/20211220-H14-ADI-Olimpiade-mumed_1640015953.png)
Apalagi, tantangan dan pekerjaan rumah menanti bagi sosok Menpora. Tantangan prestasi, misalnya, akan menjadi salah satu yang terberat. Apalagi capaian prestasi internasional stagnan yang disebut Ali dengan istilah middle performance trap, suatu kondisi pembangunan olahraga ketika capaian yang dihasilkan stagnan pada level medioker.
Itu mengacu pada capaian Indonesia selama 32 tahun terakhir di Olimpiade. Perolehan dua medali emas di Olimpiade Paris 2024 yang sama dengan capaian Olimpiade Barcelona 1992 menunjukkan tidak ada kemajuan signifikan. Apalagi, pada Olimpiade London 2012, Indonesia tidak meraih medali emas sama sekali.
Tantangan lain juga tak kalah berat. Ali mengingatkan bahwa olahraga tidak sekadar berbicara prestasi. Dia mengacu pada UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Keolahragaan yang menjelaskan bahwa ruang lingkup olahraga juga meliputi olahraga pendidikan dan olahraga masyarakat.
Olahraga masyarakat, misalnya, berkaitan dengan pembudayaan aktivitas fisik, peningkatkan kesehatan, serta kebugaran tubuh hingga pembangunan hubungan sosial dan ketahanan nasional. Persoalan kebugaran masyarakat juga masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Mengacu pada laporan Indeks Pembangunan Olahraga Nasional pada 2023, sebanyak 77,12 persen dari 1.578 anak usia 10-15 tahun memiliki tingkat kebugaran kurang hingga kurang sekali. Kondisi yang lebih memprihatinkan terjadi pada remaja usia 16-30 tahun dengan 83,55 persen dari 3.820 remaja memiliki kebugaran jasmani kategori kurang dan kurang sekali.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/24/66e3a492-75ce-47ed-984c-7dba5e9ef450_jpg.jpg)
Inilah momentum Presiden meneguhkan lagi komitmennya terhadap kemajuan olahraga. Apalagi, tidak sedikit pula pelaku olahraga yang berharap akan perubahan ke arah lebih baik seiring dengan pergantian menpora.
Harapan itu, salah satunya, diutarakan lifter peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, Rizki Juniansyah. Dia berharap menpora baru bisa langsung bekerja untuk memajukan olahraga nasional. Terlebih, akan ada banyak ajang olahraga internasional menanti, termasuk Olimpiade LA 2028.
Apabila ingin membuat sejarah lagi di Olimpiade, kata Rizki, pemerintah lewat Kemenpora harus menunjukkan keseriusannya dalam mendukung atlet. ”Aku berharap, Menpora baru juga tahu tentang dunia olahraga karena kalau di luar itu, akan sulit mengerti keadaan atlet,” ucap Rizki.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati