SEPAK BOLA

Peran Sepuluh Hibrida dari Si Nomor 10, Ole Romeny

Lupakan peran Ole Romeny sekadar sebagai sumber gol timnas Indonesia. Bersama John Herdman, Romeny juga dimaksimalkan sebagai kreator peluang.

30 Mar 2026 09:18 WIB · Olahraga

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Ketika pelatih tim nasional Indonesia, John Herdman, mengedepankan Ramadhan Sananta dan Mauro Zijlstra sebagai penyerang tengah pada laga semifinal FIFA Series 2026 kontra Saint Kitts dan Nevis, keputusan itu menghadirkan peran anyar bagi Ole Romeny. Tidak seperti di era Patrick Kluivert, Romeny dimanfaatkan Herdman untuk benar-benar bertugas sesuai dengan nomor punggungnya di skuad ”Garuda”, si nomor 10.

Sejak menjalani debut bersama timnas Indonesia pada gim kualifikasi Piala Dunia 2026 kontra Australia, Maret 2025, Romeny telah menjelma sebagai mesin gol baru Garuda. Tiga gol dalam tiga pertandingan beruntun hadir dari kakinya. Australia, Bahrain, dan China menjadi mangsa insting predator penyerang kelahiran Nijmegen, Belanda, itu.

Kluivert seperti telah membantu Romeny menemukan ketajaman yang menjadi solusi dari minimnya stok striker utama di tim Indonesia. Namun, taktik itu gagal berjalan saat Romeny tidak dalam kondisi prima di dua laga babak keempat pra-Piala Dunia 2026 melawan Arab Saudi dan Irak.

Pemain timnas Indonesia, Ole Romeny, melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang China dalam laga Grup C kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/6/2025). Indonesia mengalahkan China dengan skor 1-0.

Terlepas dari kegagalan Indonesia menembus Piala Dunia 2026, Romeny telah menjadi idola baru. Selebrasi khasnya, chin-up, selalu ditiru suporter skuad Garuda, dari bocah hingga orang dewasa, di arena fun football dan tribune stadion pada laga timnas.

Kehadiran Herdman justru membuka mata pendukung timnas tentang kekuatan utama Romeny. Ia tidak hanya piawai mencetak gol. Herdman menyajikan dimensi lain dari kualitas pemain Oxford United itu.

Di laga debut Herdman menghadapi Saint Kitts dan Nevis, Romeny diturunkan sebagai salah satu trisula lini serang. Dalam situasi menguasai bola, Romeny dominan bergerak di sisi penyerang sayap kanan, bukan di zona tengah lapangan seperti pada enam laga sebelumnya bersama Indonesia.

Romeny tidak asing bergerak dari sisi sayap. Sejak lulus dari akademi NEC Nijmegen untuk tampil di tim utama klub kota kelahirannya, lalu melanglang buana ke sejumlah klub Belanda, seperti Willem II, Emmen, dan Utrecht, hingga ke Inggris bersama Oxford, Romeny dominan ditempatkan di sisi sayap.

Di bawah kendali Herdman, Romeny tidak benar-benar menjadi penyerang sayap. Ia justru lebih banyak bergerak di sisi half-space atau setengah ruang di antara zona tengah dan zona kanan lini serang Indonesia.

Pergerakannya berada di antara Sananta yang berperan sebagai penyerang tengah dan Kevin Diks, gelandang sayap kanan. Dalam peran itu, Romeny tidak lagi menjadi poacher yang menunggu layanan operan final dari rekan setim dan menyelesaikan peluang di dalam kotak penalti lawan.

Romeny menarik lawan untuk membantu terbukanya ruang bagi rekan setim, terutama Sananta dan Beckham Putra. Selain itu, Herdman membantu Romeny membuka ”kotak pandora” kualitasnya untuk menyajikan umpan-umpan kunci di sepertiga akhir pertahanan lawan.

Penyerang timnas Indonesia, Ole Romeny, berlatih menjelang laga final FIFA Series di Stadion Madya, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (29/3/2026). Indonesia akan menghadapi Bulgaria di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Senin (30/3/2026) pukul 20.00 WIB.

Dua asis untuk dua gol pertama Beckham ke gawang Saint Kitts dan Nevis menjadi bukti kecermatan Herdman memahami kemampuan tersembunyi Romeny. Penampilan Romeny itu adalah jawaban atas tidak adanya gelandang serang dalam 23 pemain Indonesia di FIFA Series 2026.

Herdman mengakui keputusannya menyulap peran Romeny sebagai pemain nomor 10, alih-alih penyerang tengah, disebabkan minimnya opsi gelandang serang. Kehilangan Marselino Ferdinan dan Miliano Jonathans yang menderita cedera menjadi dasar keputusan itu.

”Ole (Romeny) menunjukkan dia adalah pemain yang kreatif. Kami juga memiliki itu pada diri Ramadhan Sananta, Beckham, Ragnar (Oratmangoen), dan Yakob (Sayuri). Juga ada Eliano (Reijnders) yang bisa bermain di banyak posisi,” ucap Herdman.

”Kami memang kurang kreativitas karena kehilangan Marselino dan Miliano. Namun, saya senang dengan komposisi pemain saat ini. Terpenting adalah bagaimana mereka disiplin menjalankan rencana taktik dan kerangka permainan tim,” tambahnya.

Operan terbanyak

Selain kreasi dobel asis, indikator lain bahwa Romeny mampu menjalankan amanah anyar dari Herdman adalah catatan operan sukses terbanyak di antara tiga penyerang utama Indonesia. Romeny melepaskan 29 operan sukses. Jumlah itu lebih baik daripada catatan Beckham (28 operan sukses) dan Sananta (12).

Bermain lebih dekat dengan lini tengah membantu pemain berusia 25 tahun itu lebih leluasa menguasai bola. Satu take-on atau dribel sukses dilakukan Romeny.

Pemain Indonesia, Ole Romeny, berebut bola dengan pemain Saint Kitts dan Nevis, Ethan Bristow, dalam laga FIFA Series di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3/2026). Indonesia menang 4-0.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
27-03-2026

Di tengah penampilan gemilang itu, Romeny masih memiliki cela. Ia belum menyajikan umpan kunci yang membantu rekan setim menciptakan tembakan. Itu merupakan peran ideal pemain bernomor 10.

Satu tembakan tepat sasaran kontra Saint Kitts dan Nevis juga menghadirkan kekhawatiran. Sebab, pada gim final FIFA Series 2026, Senin (30/3/2026) pukul 20.00 WIB, Indonesia akan menghadapi lawan yang setara, yakni Bulgaria.

Itu berarti ruang-ruang terbuka di sepertiga akhir pertahanan lawan tidak akan sebebas saat menghadapi Saint Kitts dan Nevis. Pemain-pemain Bulgaria pun akan berusaha melakukan pressing saat Indonesia menguasai bola.

Jika mampu konsisten menyajikan asis dan gol menghadapi Bulgaria, Romeny berada di jalur yang tepat untuk melepas dahaga Indonesia memiliki pemain bernomor 10 yang bergerak di lini tengah.

Namun, jika Romeny terisolasi dan gagal memecah kebuntuan serangan skuad Garuda, Herdman harus memikirkan solusi lain untuk meningkatkan kreativitas Indonesia pada laga selanjutnya.

Kata Diks, semua pemain Indonesia siap menunjukkan kemampuan individu untuk menghadirkan hasil positif di laga kedua FIFA Series.

Di tengah proses adaptasi dan memahami keinginan taktik Herdman, lanjut bek Borussia Mönchengladbach itu, skuad Garuda memiliki atmosfer yang sangat baik dan positif.

”Bermain di kandang, tidak ada alasan bagi kami untuk tampil buruk. Kami ingin menunjukkan bahwa kami bisa mengatasi tantangan besar menghadapi lawan dari Eropa,” katanya.

Pemain Indonesia, Kevin Diks, berebut bola dengan pemain Saint Kitts dan Nevis, Daron Thomas, dalam laga FIFA Series di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3/2026). Indonesia menang 4-0.

Ketika Romeny terus berbenah melengkapi perannya di lapangan, suporter di tribune menyimpan hasrat untuk menggemakan yel-yel khusus untuknya: Ole… Ole… Ole… Ole… Romeny!


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti