Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa perang Amerika Serikat terhadap Iran dinilai terlalu mahal?
- Apa saja tujuan yang ingin dicapai AS dan mengapa banyak di antaranya dinilai tidak tercapai?
- Bagaimana Iran mampu bertahan meski menghadapi serangan militer AS?
- Bagaimana perkembangan terakhir perundingan AS-Iran?
Mengapa perang Amerika Serikat terhadap Iran dinilai terlalu mahal?
Perang Amerika Serikat di Iran sudah menguras biaya 37,5 miliar dolar AS atau setara Rp 672 triliun. Besaran angka itu hampir 20 persen APBN Indonesia tahun 2026 yang mencapai 220 miliar dolar AS. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dicecar para senator AS saat dengar pendapat dengan lembaga legislatif AS di Washington DC, Selasa (21/7/2026) waktu setempat. Pada enam hari pertama serbuan AS ke Iran saja sudah habis dana 11,3 miliar dolar AS.
AS juga sudah kehilangan 17 nyawa prajurit akibat perang di Iran. Setidaknya 430 orang terluka, sementara ribuan prajurit dan rakyat Iran tewas akibat agresi gabungan AS-Israel. Ini termasuk lebih dari 160 perempuan anak sekolah dasar di Minab yang tewas karena sekolah mereka dihantam rudal AS.
Kubu Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump menyiapkan paket biaya militer sebesar 95 miliar dolar AS bersama sejumlah paket lain untuk program Trump. Hegseth mendesak diberikan dana tambahan yang sangat diperlukan karena dana yang disediakan tahun lalu akan habis pada akhir September 2026.
Itu bagian dari pendanaan pertahanan 1,5 triliun dolar AS yang diajukan Trump dalam bidang militer. Usulan kebutuhan dana yang diajukan mencapai 60 miliar dolar AS dan 12 miliar dolar AS untuk paket keamanan nasional lainnya.
Para senator mengingatkan upaya pemerintahan AS membuat perang ”abadi” yang hanya menguntungkan industri senjata. Buktinya, perang di Iran kembali pecah dan malah jadi tak terkendali.
Apa saja tujuan yang ingin dicapai AS dan mengapa banyak di antaranya dinilai tidak tercapai?
Klaim pemerintahan Trump bahwa AS berhasil dalam perang Iran dinilai tak masuk akal. Buktinya, sampai sekarang AS tidak mampu menghancurkan kapasitas nuklir Iran, yang disebut Trump sebagai tujuan perang di Iran. Para senator AS mempertanyakan prakiraan pemerintahan Trump sebelum berperang yang sangat keliru, termasuk klaim Iran sudah menyerah.
Strategi Hegseth juga dinilai gagal total. Masalah terbesar dari perang AS terhadap Iran ini dinilai terletak pada kepemimpinan. Bukannya selesai, perang malah kini merambat luas di Timur Tengah, termasuk ke Suriah. Kini AS-Iran terus saling melancarkan serangan balasan ke target-target vital yang memberikan dampak berbahaya pada kawasan.
Bahrain bersama negara-negara Teluk lain dan Jordania menjadi sasaran serangan balasan Iran sejak permusuhan AS-Iran dimulai kembali pada Juli 2026. AS-Iran sudah saling menyerang selama lebih dari sepekan terakhir meski kedua pihak sudah menandatangani kesepakatan perdamaian sementara melalui mediasi Pakistan, Juni lalu. Kesepakatan perdamaian juga tersendat gara-gara isu program nuklir Iran.
Ini yang jadi salah satu poin utama perselisihan Iran dengan negara-negara Barat. AS, Israel, dan negara lainnya menduga Iran berupaya membuat senjata nuklir. Pembahasan tentang pembatasan program ini masuk dalam negosiasi AS-Iran yang tak kunjung menunjukkan hasil positif.
Bagaimana Iran mampu bertahan meski menghadapi serangan militer AS?
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagaimana dilansir Al Jazeera, mengatakan, Iran berada dalam ”perang esensial dan eksistensial” dengan AS. Dalam hubungan internasional, istilah itu merujuk pada konflik ekstrem ketika suatu negara merasa hakikatnya (esensi) dilanggar dan kelangsungan hidupnya (eksistensi) terancam.
Berbeda dengan perang untuk meraih keuntungan teritorial atau sumber daya, pertaruhan dalam perang ini adalah kedaulatan dan identitas diri bangsa. Risiko terburuknya adalah salah satu atau kedua belah pihak menghadapi kehancuran total.
Iran masih sanggup ”melayani” permainan AS. AS memang memiliki keunggulan militer signifikan atas Iran. Namun, Iran punya kemampuan yang lebih dari cukup untuk menimbulkan kerusakan.
Trump berulang kali mengklaim pengeboman atas Iran sejak perang pecah pada 28 Februari 2026 telah melemahkan militer Iran. Kepada Fox News, ia menyebut senjata Iran berkurang hingga 91 persen.
Namun, bocoran laporan intelijen AS yang dilansir The Guardian, Jumat (17/7/2026), menunjukkan cerita berbeda. Pada Mei, intelijen AS menyimpulkan Iran telah mendapatkan kembali akses ke 30 dari 33 lokasi peluncuran rudal di sepanjang Selat Hormuz. Iran juga kemungkinan telah memperoleh kembali 70 persen persediaan rudal dan peluncurnya.
Bagaimana perkembangan terakhir perundingan AS-Iran?
Sebagai tanggapan atas serangan Iran di Selat Hormuz, AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Harapan agar upaya bina damai Washington-Teheran berlanjut semakin menipis.
AS malah memberlakukan sanksi baru, untuk menekan Iran selama negosiasi. Kali ini, AS menyasar lebih dari 50 individu, perusahaan, dan kapal yang diduga mendukung jaringan pengusaha minyak Iran, Mohammad Hossein Shamkhani.
Sanksi tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Sebab, Iran telah melakukan ”serangan destabilisasi baru” di Selat Hormuz. Sanksi tersebut menargetkan fasilitator keuangan, eksekutif pengiriman, perusahaan logistik, dan operator kapal terkait yang berbasis di beberapa negara.
Dengan demikian, semua aset, operasionalisasi, dan transaksi dari pihak yang terkena sanksi yang berada di bawah yurisdiksi AS diblokir. Warga AS juga tidak boleh berbisnis dengan mereka.
Secara militer, AS memang mencapai tujuannya dengan melihat kehancuran target dan militer Iran. Akan tetapi, Iran masih memiliki kekuatan untuk mengendalikan selat yang berdampak pada harga minyak global itu. Bahkan, perjanjian kesepakatan damai sementara AS-Iran mencakup poin-poin yang menguntungkan Iran.
Beberapa di antaranya, kemungkinan Iran mengatur selat di masa depan, janji investasi miliaran dolar AS di Iran, serta pencabutan sanksi internasional atas Iran. AS salah perhitungan mengira tawaran insentif dan peringatan pelanggaran perjanjian bisa mencegah Iran memanfaatkan posisi strategisnya di Selat Hormuz. Peneliti Timur Tengah di Council on Foreign Relations, Elliot Abrams, menambahkan, situasi sekarang kembali ke titik awal, yaitu siapa yang lebih sabar.
Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa perang Amerika Serikat terhadap Iran dinilai terlalu mahal?
- Apa saja tujuan yang ingin dicapai AS dan mengapa banyak di antaranya dinilai tidak tercapai?
- Bagaimana Iran mampu bertahan meski menghadapi serangan militer AS?
- Bagaimana perkembangan terakhir perundingan AS-Iran?
Mengapa perang Amerika Serikat terhadap Iran dinilai terlalu mahal?
Perang Amerika Serikat di Iran sudah menguras biaya 37,5 miliar dolar AS atau setara Rp 672 triliun. Besaran angka itu hampir 20 persen APBN Indonesia tahun 2026 yang mencapai 220 miliar dolar AS. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dicecar para senator AS saat dengar pendapat dengan lembaga legislatif AS di Washington DC, Selasa (21/7/2026) waktu setempat. Pada enam hari pertama serbuan AS ke Iran saja sudah habis dana 11,3 miliar dolar AS.
AS juga sudah kehilangan 17 nyawa prajurit akibat perang di Iran. Setidaknya 430 orang terluka, sementara ribuan prajurit dan rakyat Iran tewas akibat agresi gabungan AS-Israel. Ini termasuk lebih dari 160 perempuan anak sekolah dasar di Minab yang tewas karena sekolah mereka dihantam rudal AS.
Kubu Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump menyiapkan paket biaya militer sebesar 95 miliar dolar AS bersama sejumlah paket lain untuk program Trump. Hegseth mendesak diberikan dana tambahan yang sangat diperlukan karena dana yang disediakan tahun lalu akan habis pada akhir September 2026.
Itu bagian dari pendanaan pertahanan 1,5 triliun dolar AS yang diajukan Trump dalam bidang militer. Usulan kebutuhan dana yang diajukan mencapai 60 miliar dolar AS dan 12 miliar dolar AS untuk paket keamanan nasional lainnya.
Para senator mengingatkan upaya pemerintahan AS membuat perang ”abadi” yang hanya menguntungkan industri senjata. Buktinya, perang di Iran kembali pecah dan malah jadi tak terkendali.
Apa saja tujuan yang ingin dicapai AS dan mengapa banyak di antaranya dinilai tidak tercapai?
Klaim pemerintahan Trump bahwa AS berhasil dalam perang Iran dinilai tak masuk akal. Buktinya, sampai sekarang AS tidak mampu menghancurkan kapasitas nuklir Iran, yang disebut Trump sebagai tujuan perang di Iran. Para senator AS mempertanyakan prakiraan pemerintahan Trump sebelum berperang yang sangat keliru, termasuk klaim Iran sudah menyerah.
Strategi Hegseth juga dinilai gagal total. Masalah terbesar dari perang AS terhadap Iran ini dinilai terletak pada kepemimpinan. Bukannya selesai, perang malah kini merambat luas di Timur Tengah, termasuk ke Suriah. Kini AS-Iran terus saling melancarkan serangan balasan ke target-target vital yang memberikan dampak berbahaya pada kawasan.
Bahrain bersama negara-negara Teluk lain dan Jordania menjadi sasaran serangan balasan Iran sejak permusuhan AS-Iran dimulai kembali pada Juli 2026. AS-Iran sudah saling menyerang selama lebih dari sepekan terakhir meski kedua pihak sudah menandatangani kesepakatan perdamaian sementara melalui mediasi Pakistan, Juni lalu. Kesepakatan perdamaian juga tersendat gara-gara isu program nuklir Iran.
Ini yang jadi salah satu poin utama perselisihan Iran dengan negara-negara Barat. AS, Israel, dan negara lainnya menduga Iran berupaya membuat senjata nuklir. Pembahasan tentang pembatasan program ini masuk dalam negosiasi AS-Iran yang tak kunjung menunjukkan hasil positif.
Bagaimana Iran mampu bertahan meski menghadapi serangan militer AS?
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagaimana dilansir Al Jazeera, mengatakan, Iran berada dalam ”perang esensial dan eksistensial” dengan AS. Dalam hubungan internasional, istilah itu merujuk pada konflik ekstrem ketika suatu negara merasa hakikatnya (esensi) dilanggar dan kelangsungan hidupnya (eksistensi) terancam.
Berbeda dengan perang untuk meraih keuntungan teritorial atau sumber daya, pertaruhan dalam perang ini adalah kedaulatan dan identitas diri bangsa. Risiko terburuknya adalah salah satu atau kedua belah pihak menghadapi kehancuran total.
Iran masih sanggup ”melayani” permainan AS. AS memang memiliki keunggulan militer signifikan atas Iran. Namun, Iran punya kemampuan yang lebih dari cukup untuk menimbulkan kerusakan.
Trump berulang kali mengklaim pengeboman atas Iran sejak perang pecah pada 28 Februari 2026 telah melemahkan militer Iran. Kepada Fox News, ia menyebut senjata Iran berkurang hingga 91 persen.
Namun, bocoran laporan intelijen AS yang dilansir The Guardian, Jumat (17/7/2026), menunjukkan cerita berbeda. Pada Mei, intelijen AS menyimpulkan Iran telah mendapatkan kembali akses ke 30 dari 33 lokasi peluncuran rudal di sepanjang Selat Hormuz. Iran juga kemungkinan telah memperoleh kembali 70 persen persediaan rudal dan peluncurnya.
Bagaimana perkembangan terakhir perundingan AS-Iran?
Sebagai tanggapan atas serangan Iran di Selat Hormuz, AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Harapan agar upaya bina damai Washington-Teheran berlanjut semakin menipis.
AS malah memberlakukan sanksi baru, untuk menekan Iran selama negosiasi. Kali ini, AS menyasar lebih dari 50 individu, perusahaan, dan kapal yang diduga mendukung jaringan pengusaha minyak Iran, Mohammad Hossein Shamkhani.
Sanksi tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Sebab, Iran telah melakukan ”serangan destabilisasi baru” di Selat Hormuz. Sanksi tersebut menargetkan fasilitator keuangan, eksekutif pengiriman, perusahaan logistik, dan operator kapal terkait yang berbasis di beberapa negara.
Dengan demikian, semua aset, operasionalisasi, dan transaksi dari pihak yang terkena sanksi yang berada di bawah yurisdiksi AS diblokir. Warga AS juga tidak boleh berbisnis dengan mereka.
Secara militer, AS memang mencapai tujuannya dengan melihat kehancuran target dan militer Iran. Akan tetapi, Iran masih memiliki kekuatan untuk mengendalikan selat yang berdampak pada harga minyak global itu. Bahkan, perjanjian kesepakatan damai sementara AS-Iran mencakup poin-poin yang menguntungkan Iran.
Beberapa di antaranya, kemungkinan Iran mengatur selat di masa depan, janji investasi miliaran dolar AS di Iran, serta pencabutan sanksi internasional atas Iran. AS salah perhitungan mengira tawaran insentif dan peringatan pelanggaran perjanjian bisa mencegah Iran memanfaatkan posisi strategisnya di Selat Hormuz. Peneliti Timur Tengah di Council on Foreign Relations, Elliot Abrams, menambahkan, situasi sekarang kembali ke titik awal, yaitu siapa yang lebih sabar.