Pilihan yang tersedia untuk mengakhiri perang di Iran kian menipis. Para pengamat pesimistis perang akan berakhir dalam waktu dekat.
20 Jul 2026 08:00 WIB · Internasional
AFP PHOTO/SEPAHNEWS
Pada 14 Juni 2026, Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan damai sementara. Pertempuran terhenti, harapan akan perdamaian permanen menyeruak. Namun, asa segera menguap dengan rentetan pertempuran terbaru AS-Iran yang kian sengit. Akankah dinamika ini mengarah pada ”perang abadi”?
Baku serang terbaru yang intens terjadi sepanjang akhir pekan. Pada Sabtu (18/7/2026), Iran menyatakan dua kapal tanker meledak di Selat Hormuz setelah mengenai ranjau darat. Sehari sebelumnya, AS menyasar berbagai infrastruktur di Iran. Sebagai balasan, Iran menyerang pangkalan AS di negara-negara Teluk.
Di tengah pertempuran terbaru, upaya kembali ke meja perundingan pun semakin sulit. Teheran menyatakan, gelombang serangan AS yang berulang telah membatalkan kesepakatan damai sementara. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebutkan, Iran sudah tidak punya alasan untuk terus mematuhi ketentuan perjanjian itu.
Iran meninggalkan komitmennya karena AS mengingkari bagiannya dalam kesepakatan tersebut. ”Teheran tidak berencana terlibat dalam pembicaraan lebih lanjut dengan Washington dan hanya fokus membela negara,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/17/ef1e8e19-e2eb-4a7e-9d74-ec7b8ea20644.jpg)
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagaimana dilansir Al Jazeera, mengatakan, Iran berada dalam ”perang esensial dan eksistensial” dengan AS. Dalam hubungan internasional, istilah itu merujuk pada konflik ekstrem ketika suatu negara merasa hakikatnya (esensi) dilanggar dan kelangsungan hidupnya (eksistensi) terancam.
Berbeda dengan perang untuk meraih keuntungan teritorial atau sumber daya, pertaruhan dalam perang ini adalah kedaulatan dan identitas diri bangsa. Risiko terburuknya adalah salah satu atau kedua belah pihak menghadapi kehancuran total.
Iran masih sanggup ”melayani” permainan AS. AS memang memiliki keunggulan militer signifikan atas Iran. Namun, Iran punya kemampuan yang lebih dari cukup untuk menimbulkan kerusakan.
Presiden AS Donald Trump berulang kali mengklaim pengeboman atas Iran sejak perang pecah pada 28 Februari 2026 telah melemahkan militer Iran. Kepada Fox News, ia menyebut senjata Iran berkurang hingga 91 persen.
Namun, bocoran laporan intelijen AS yang dilansir The Guardian, Jumat (17/7/2026), menunjukkan cerita berbeda. Pada Mei, intelijen AS menyimpulkan Iran telah mendapatkan kembali akses ke 30 dari 33 lokasi peluncuran rudal di sepanjang Selat Hormuz. Iran juga kemungkinan telah memperoleh kembali 70 persen persediaan rudal dan peluncurnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/16/b10d8002ec7c7af6a525d7be367a6ded-wires_photo_3_.jpg)
Trump pun sekali lagi dihadapkan pada pilihan antara eskalasi pertempuran yang akan menimbulkan biaya ekonomi dan politik domestik serta menerima semacam resolusi yang membiarkan Iran mempertahankan kekuasaannya.
Perang semakin sulit diakhiri karena dampak terbesar dari perang AS-Iran berada di luar medan laga. Ada harga energi global yang mencekik banyak negara, juga konflik yang meluas karena menyeret negara-negara Teluk, terutama sekutu-sekutu AS.
Daniel Byman, Direktur Program Peperangan, Ancaman, dan Terorisme CSIS, di laman lembaga itu menulis, di banyak negara AS kemungkinan besar akan disalahkan atas situasi ekonomi yang sulit. Ini berakibat pada meningkatnya sentimen anti-AS.
Trump terus mengancam Iran untuk segera kembali ke meja perundingan jika tidak ingin mengalami kehancuran lebih besar. Namun, ia tidak bisa menyebut tenggatnya. Sementara Iran menuntut AS mematuhi kesepakatan damai jika ingin Teheran kembali berunding. Sembari menanti ”kepatuhan” AS, Iran menyatakan tetap membela haknya untuk membalas serangan AS serta melindungi keamanan dan kepentingan nasionalnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/10/2da311d836d227f7cfa6cfdd00e0044a-cropped_image.jpg)
Pilihan yang tersedia untuk mengakhiri perang di Iran terus mengecil. Para pengamat pesimistis perang akan berakhir dalam waktu dekat.
Upaya para mediator Arab dan Pakistan untuk menghidupkan kembali negosiasi belum menunjukkan kemajuan yang nyata. Tidak ada rasa saling percaya antara Iran dan AS mempersulit negosiasi.
”Saya pikir, akhir yang paling mungkin adalah tidak adanya penyelesaian. (Konflik) ini telah berubah menjadi perang gesekan, dan perang gesekan cenderung berlangsung dalam jangka waktu sangat lama,” kata Rosemary Kelanic, Direktur Program Timur Tengah Defense Priorities, dikutip BBC.
Bagaimanapun, tentu konflik yang berkepanjangan bukanlah pilihan masyarakat internasional saat ini. Time menyebut, Iran tidak bisa memaksa AS meninggalkan kepentingan regionalnya dan AS tidak dapat menghilangkan kemampuan Iran untuk memberikan tekanan tanpa menimbulkan perang yang lebih luas.
Karena itu, jalan yang bisa diambil hanyalah menghidupkan kembali kesepakatan damai sementara yang mencakup keamanan jalur maritim, pencabutan sanksi, pembatasan nuklir, dan pengekangan aksi militer. Tanpa ada timbal balik, pola kekerasan akan terus berulang. Perdamaian abadi bisa semakin jauh dari jangkauan.
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji