CATATAN AWAL PEKAN

”Perang Perdana” Trump, Sang Inisiator Dewan Perdamaian

Presiden Kennedy menegaskan perdamaian bagi umat manusia bukan Pax Americana yang dijalankan dengan kekuatan militer AS. Perdamaian sejati adalah menerima perbedaan.

09 Mar 2026 07:00 WIB · Internasional

AFP

Oleh Iwan Santosa

Belum dua pekan selepas memimpin rapat perdana Dewan Perdamaian atau Board of Peace, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 28 Februari 2026 mengumumkan serangan gabungan AS-Israel atas Iran. Serangan dilancarkan di tengah perundingan perkara nuklir Iran yang dimediasi Oman. Serangan terjadi ketika Oman optimistis atas perkembangan positif perundingan tersebut.

Karena situasi itu pula, banyak pihak ”kaget” atas langkah Trump. Apalagi AS dan Israel adalah anggota sekaligus motor BoP yang menghimpun setidaknya 26 negara.

Dunia pun kian gelisah. Saat perkara perdamaian Gaza belum tuntas, perang di Ukraina masih berkecamuk, dan sejumlah wilayah dunia dilanda konflik menahun, kini terjadi perang baru.

Presiden Prabowo Subianto memperlihatkan dokumen bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan Dewan Perdamaian di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026).

Serangan yang oleh AS dibalut sebagai operasi militer bersandi Epic Fury itu diotorisasi Trump tanpa izin Kongres AS. Langkah tersebut memantik perdebatan sengit lantaran dinilai mencederai Konstitusi AS.

Meski telah diduga, langkah Trump atas Iran tetap mengejutkan. Apalagi Departemen Perang AS sudah melaporkan tidak ada ancaman dari Iran terhadap AS.

Serangan ke Iran menempatkan Trump sebagai sosok yang tidak menghormati konstitusi, landasan AS bernegara. Ia pun lagi-lagi mengabaikan kedaulatan negara lain.

Senyampang itu, di media sosial ramai beredar meme menyebut Operasi Epic Fury sebagai Operasi Epstein Fury. Warga dan politisi AS menyebut perang sengaja dilancarkan demi meredam perkara Jeffrey Epstein, pelaku kejahataan seksual, yang diduga menyeret Trump. Dalam berkas Epstein, berulang kali Trump muncul

Perjanjian Muenchen 1938

Serangan terhadap Iran saat tengah menjalani perundingan dengan seterunya, pada Juni 2025 dan Februari 2026, mengingatkan dunia pada Perjanjian Muenchen tahun 1938.

Warga Kota Wina, Austria histeris menyambut kedatangan Diktator Nazi Adolf Hitler yang meleburkan Austria ke dalam wilayah Jerman 15 Maret 1938. Selanjutnya Hitler dibiarkan Inggris, Perancis, dan Italia, mencaplok wilayah Cekoslowakia, Sudtenland. Pembiaran tersebut membuat Hitler semakin agresif dan melancarkan serbuan ke Polandia, September 1939 yang memicu Perang Dunia II di Eropa. Vienna wildly acclaimed the conquering Adolf Hitler who merged Germany and Austria in a bloodless coup. Here Viennese police are shown hardpressed to hold back the pressing throng as the automobile bearing Hitler approached on his triumphal ride down Vienna s streets on March 15, 1938. (AP Photo)

Ketika itu, merujuk buku Prelude to War terbitan Time Life Books Word War II, Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain dan PM Perancis Edouard Daladier, serta diktator Italia Benito Mussolini, berusaha meredam ambisi Kanselir Jerman Adolf Hitler. Ketiga pemimpin Eropa itu merelakan daerah Sudetenland, wilayah Cekoslowakia, dikuasai Jerman.

Perundingan itu tidak melibatkan Cekoslowakia yang wilayahnya dicaplok Jerman. Hasilnya sebuah perdamaian semu. Tidak sampai satu tahun, Hitler menggempur Polandia, memicu perang di Eropa, dan meluas menjadi Perang Dunia II. Perang itu turut menyeret AS dalam pusat pusarannya.

Teladan pendahulu

Berangkat dari tragedi itu, para pemimpin AS terdahulu meninggalkan teladan. Mereka memberikan peringatan soal ancaman perang karena perbedaan ideologis dan kepentingan kelompok industri senjata. Mereka pun mendorong koeksistensi damai.

Presiden Dwight D Eisenhower, seorang jenderal dan panglima di era Perang Dunia II, dalam pidato perpisahan pada 17 Januari 1961 mengingatkan ancaman terhadap kehidupan demokratis jika industri militer dibiarkan memengaruhi negara. Industri militer yang dominan berarti membutuhkan perang sebagai pasar produk senjata.

Presiden Amerika Serikat ke-34 Jenderal (Purn) Dwight David Eisenhouwer. Dalam pidato pamit dari akhir masa jabatan Presiden, 17 Januari 1961, Eisenhouwer mengingatkan bahaya kelompok industri militer (MIC atau Military Industrial Complex) dalam kehidupan demokrasi suatu negara. Dominasi industri militer akan mengancam perdamaian.

Penerus Eisenhower, yakni John Fitzgerald Kennedy, juga meninggalkan teladan. Memimpin pada saat krisis Kuba yang nyaris memicu perang nuklir AS-Uni Soviet, JFK berpidato pada 10 Juni 1963 soal perdamaian bagi seluruh umat manusia, bukan mengagungkan kebesaran demokrasi Barat dan keburukan komunisme.

”Perdamaian dunia bukan Pax Americana yang ditetapkan sesuai dengan kemauan dan kekuatan senjata AS,” demikian kata JFK di American University.

Meski AS memiliki kekuatan adidaya, Kennedy tidak menepuk dada. Dia memberi ruang bagi perbedaan dan multilateralisme.

Photo released in August 1965 of giant US Air Force B-52 bombers bombing the Vietcong in War Zone D, approximately 40 miles (64 km) northeast of Saigon in June 1965, first used during the War of Vietnam. (Photo by AFP)

Perdamaian sejati, ujar JFK, adalah proses yang memberi ruang bagi perbedaan di antara bangsa-bangsa untuk koeksistensi. JFK mendorong warga AS mawas diri dan meninjau ulang sikap mereka kepada seteru terbesar, yakni Uni Soviet.

Dia mengingatkan bahwa perang adalah tindakan irasional bagi zamannya dan masa mendatang. Pidato JFK berjudul ”Strategi Perdamaian” itu hingga kini dijadikan panduan diplomasi dan hubungan internasional.

Industri senjata dan lobi Yahudi

Meski Eisenhower dan Kennedy sudah mewanti-wanti, ternyata industri senjata menjadi kekuatan lobi yang dominan di AS. Lembaga Institut Penelitian Perdamaian Internasional (SIPRI) yang berbasis di Swedia mencatat, pada 2025 AS menjadi eksportir senjata terbesar di dunia dengan pasar Taiwan, Israel, Arab Saudi, Ukraina, dan Australia.

Menurut data SIPRI pada 2024, dari 10 besar industri senjata di dunia, enam perusahaan adalah korporasi AS. Mereka adalah Lockheed Martin (64,65 miliar dolar AS), RTX (43,6 miliar dolar AS), Northrop Grumman Corp (37,85 miliar dolar AS), General Dynamics Corp (33,63 miliar dolar AS), Boeing (30,55 miliar dolar AS), dan L3 Harris Techonologies (16,21 miliar dolar AS).

Armada jet tempur siluman F-35 Lightning yang dibeli Belgia tiba di Lanud Florennes di Belgia selatan, 13 Oktober 2025. Amerika Serikat adalah eksportir senjata terbesar di dunia. Di tahun 2025 AS menguasai 43 persen pasar sebagai pengekspor senjata dunia. Belgium's newly purchased Lockheed Martin F-35 Lightning II fighter jets fly as they arrive at the Florennes military airbase, southern Belgium on October 13, 2025. (Photo by DIRK WAEM / Belga / AFP) / Belgium OUT

Adapun korporasi non-AS adalah BAE Systems (Inggris) dengan omzet 33,79 miliar dolar AS, Rostec Rusia dengan pendapatan 27,12 miliar dolar AS, AVIC China dengan pendapatan 20,32 miliar dolar AS, dan CETC China meraup 18,92 miliar dolar AS.

Jan Oberg, guru besar studi perdamaian dari Denmark, di TV CGTN China tahun lalu, memperingatkan tentang meluasnya bahaya dari military industrial complex (MIC) menjadi military-industrial-media-academic complex (MIMAC) karena pedagang senjata juga merangkul kampus dan media sebagai alat validasi perang.

Isu senjata pemusnah massal Irak sebagai pembenaran serangan AS dan sekutu pada 2003, menurut Oberg, membuktikan betapa industri senjata merangkul media dan kampus untuk melancarkan ”bisnis” perang.

Kawasan Kota Tua Jerusalem dilihat dari sebuah pintu dengan ornamen berbentuk Bintang David. simbol identitas Yahudi, Selasa (25/7/2017). Kawasan utama tempat suci di Jerusalem, yang dikenal dengan sebutan Al-Haram al-Sharif bagi umat Muslim dan Bukit Kuil bagi penganut Yahudi, kerap menjadi titik friksi dan ketegangan. (AP Photo/Oded Balilty)

Faktor lain yang tidak kalah menentukan terkait dengan politik damai AS adalah keberadaan lobi Yahudi melalui organisasi AIPAC. AIPAC, yang didirikan tahun 1954, menjadi kekuatan dominan era 1980-an hingga kini. Mereka menyumbang mayoritas anggota Kongres AS dari Partai Republik dan Partai Demokrat.

Akademisi John Mersheimer dalam buku The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy menegaskan, presiden dan legislatif AS dikuasai jejaring Israel melalui AIPAC sehingga tidak mungkin mengambil kebijakan bertentangan dengan kepentingan AS sekaligus Israel.

Tucker Carlson, wartawan senior AS yang kini mengelola siniar dan menjadi pembicara aneka isu politik, menegaskan, kebangkitan kembali AS melalui jargon Make America Great Again (MAGA) seharusnya mendahulukan kepentingan sendiri dan bukan menjadi perpanjangan tangan Israel.

Praktis persoalan besar di era multipolar saat ini bukanlah persaingan demokrasi versus nondemokrasi. Ketidakberdayaan AS melawan tekanan ”sumbangan” uang dari AIPAC serta kepentingan industri militer adalah clear and present danger bagi demokrasi di AS dan perdamaian dunia.

Dalam dinamika seperti itu, ruang yang tersisa untuk perjuangan perdamaian dan kemanusiaan kian menyempit lantaran sikap agresif cenderung mendominasi. Tidak heran jika mendiang Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger mengatakan, menjadi musuh AS adalah berbahaya, tetapi berteman dengan AS adalah fatal.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H, Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji