Potret perjuangan dan risiko penduduk Gaza demi mendapatkan bahan makanan.
19 Jun 2025 07:29 WIB · Internasional
Mirip koloni semut….
Melihat sekilas foto ribuan penduduk Palestina yang berkumpul di sebuah tempat mirip gurun di pinggiran kota Jabalia Barat, itu sangat mirip dengan koloni semut, mereka berkumpul, berdesakan dengan bawaan di punggungnya. Latar belakang bangunan yang hancur menguatkan kemiripan itu.
Ribuan warga yang mendengar akan masuknya bantuan berkumpul di jalanan di tengah gurun, di dekat kota Jabalia Barat. Sejak Minggu pagi, mereka menunggu konvoi truk yang membawa bantuan, berharap mendapatkan makanan dan bahan makanan untuk menyambung hidup keluarganya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/6f0a1836-f046-4a4d-aafd-9d69c85ae140_jpg.jpg)
Saat malam menjelang, mereka menghangatkan diri dengan membuat perapian seadanya. Sebagian dari mereka memanfaatkan waktu dengan tidur, sebagian yang lain saling bercakap-cakap berharap truk bantuan segera datang.
Senin, menjelang siang, konvoi trus terlihat melewati jalan berdebu. Ribuan penduduk segera menyambutnya, berlari menyongsong truk pembawa bantuan. Dalam sekejap, karung-karung dan dus-dus makanan yang semula berada di atas truk segera berpindah ke punggung dan bahu penduduk.
Ribuan penduduk yang membawa bantuan bahan makanan dalam karung ataupun dus itu, bergerak perlahan, meninggalkan lokasi pembagian bantuan, menuju kediaman masing-masing. Langkah ribuan pasang kaki dan angin menyebabkan debu membubung tinggi. Mirip koloni semut, mereka seakan berbaris rapi, bergerak perlahan dalam diam.
Perang yang terjadi sejak Oktober 2023 antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas telah menghancurkan Jalur Gaza, dengan kekurangan makanan, bahan bakar, dan air bersih. Israel lantas memblokade bantuan pada awal Maret 2025 ketika tuntutan pembebasan semua sandera yang ditahan Hamas tidak terealisasi.
Dua juta warga yang masih bertahan di sekitar Gaza terpaksa bertahan dan menyesuaikan dengan kondisi yang sangat terbatas. Antrean panjang warga yang didominasi anak-anak dan orang tua selalu terlihat saat diadakan pembagian makanan. Terbatasnya bahan makanan yang tersedia membuat kualitas makanan pun harus diturunkan dari yang seharusnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/11ebcf2a-b95c-4b97-a23c-54b848f55f30_jpg.jpg)
Lima truk bantuan pertama memasuki Gaza pada hari Senin, 19 Mei 2025, waktu setempat, setelah hampir tiga bulan blokade Israel terhadap makanan, obat-obatan, dan pasokan lainnya membawa harapan bagi penduduk Gaza. Sejak itu, bantuan memang terus mengalir masuk, tapi masih jauh dari kata mencukupi bagi sekitar 2 juta penduduk Palestina.
Beberapa kejadian penjarahan gudang bantuan terjadi sejak akhir Mei dan menimbulkan korban jiwa. Dan, kejadian itu berulang lagi. Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, mengatakan kepada AFP bahwa sedikitnya 53 orang tewas dan sekitar 200 orang terluka saat ribuan warga Palestina berkumpul untuk menerima tepung di dekat pusat bantuan di kota selatan Khan Yunis, Senin (16/6/2025).
”Pesawat tanpa awak Israel menembaki warga. Beberapa menit kemudian, tank-tank Israel menembakkan beberapa peluru ke warga, yang menyebabkan banyak korban tewas dan terluka,” kata Bassal.
Mohammad Abu Amer, yang hadir di tempat kejadian, mengatakan bahwa ”orang-orang biasa yang tidak bersenjata” menjadi sasaran. ”Mereka pergi membeli roti dan tepung untuk anak-anak mereka dan (pasukan Israel) membunuh mereka dengan kejam,” katanya dari Rumah Sakit Nasser di kota tempat korban tewas dan terluka dibawa.
Di Rumah Sakit Al-Ahli kota Gaza, salah satu fasilitas kesehatan terakhir yang berfungsi di wilayah utara yang terkena dampak parah, Amer mengatakan kepada AFP bahwa hanya sedikit yang dapat dilakukan dokter untuk mengobati luka di tangannya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/f27c1889-933b-47f1-8d1a-b28c5763da03_jpg.jpg)
”Setiap hari kami dibom…. Rumah Sakit Al-Ahli telah hancur. Layanan medis dihentikan. Seperti yang Anda lihat, tidak ada yang bisa membalut tangan saya dan tidak ada obat-obatan,” katanya sambil mengangkat tangannya yang bengkak sambil berbaring di tempat tidur darurat di halaman belakang rumah sakit.
Tentara Israel mengatakan sedang menyelidiki ”laporan mengenai sejumlah orang yang terluka” akibat tembakannya. Dikatakan bahwa ”sebuah pertemuan teridentifikasi berdekatan dengan truk distribusi bantuan yang terjebak” di dekat pasukan Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/edbae7e7-9993-406a-b701-0b43c2771480_jpg.jpg)
Otoritas Palestina mengatakan, layanan internet dan komunikasi telepon tetap terputus di Gaza tengah dan selatan pada hari Selasa (17/6/2025) menyusul serangan terhadap kabel serat optik utama wilayah itu yang dituduhkan dilakukan oleh Israel.
Pembatasan Israel terhadap media di Jalur Gaza dan kesulitan lain dalam mengakses beberapa area membuat wartawan tidak dapat memverifikasi secara independen jumlah korban dan rincian yang diberikan oleh badan pertahanan sipil Gaza.
Terputusnya internet dan telekomunikasi di seluruh Jalur Gaza sejak lebih dari tiga hari pada minggu lalu juga diakibatkan pemadaman listrik oleh Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/e3de5854-1314-4faf-8389-1310ebb3f5e7_jpg.jpg)
Perang yang telah memasuki bulan ke-21 dan telah menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur di seluruh wilayah Palestina, termasuk saluran air, kabel listrik, dan jalan, belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .