Berjuang untuk Selamat, lalu Berjuang untuk Hidup di Gaza

Potret perjuangan dan risiko penduduk Gaza demi mendapatkan bahan makanan.

19 Jun 2025 07:29 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Mirip koloni semut….

Melihat sekilas foto ribuan penduduk Palestina yang berkumpul di sebuah tempat mirip gurun di pinggiran kota Jabalia Barat, itu sangat mirip dengan koloni semut, mereka berkumpul, berdesakan dengan bawaan di punggungnya. Latar belakang bangunan yang hancur menguatkan kemiripan itu.

Ribuan warga yang mendengar akan masuknya bantuan berkumpul di jalanan di tengah gurun, di dekat kota Jabalia Barat. Sejak Minggu pagi, mereka menunggu konvoi truk yang membawa bantuan, berharap mendapatkan makanan dan bahan makanan untuk menyambung hidup keluarganya.

Ribuan Orang-orang yang membawa karung tepung berjalan di sepanjang jalan al-Rashid di Jabalia barat pada 17 Juni 2025, setelah truk bantuan kemanusiaan dilaporkan memasuki Jalur Gaza utara melalui penyeberangan perbatasan Zikim yang dikendalikan Israel.

Saat malam menjelang, mereka menghangatkan diri dengan membuat perapian seadanya. Sebagian dari mereka memanfaatkan waktu dengan tidur, sebagian yang lain saling bercakap-cakap berharap truk bantuan segera datang.

Senin, menjelang siang, konvoi trus terlihat melewati jalan berdebu. Ribuan penduduk segera menyambutnya, berlari menyongsong truk pembawa bantuan. Dalam sekejap, karung-karung dan dus-dus makanan yang semula berada di atas truk segera berpindah ke punggung dan bahu penduduk.

Ribuan penduduk yang membawa bantuan bahan makanan dalam karung ataupun dus itu, bergerak perlahan, meninggalkan lokasi pembagian bantuan, menuju kediaman masing-masing. Langkah ribuan pasang kaki dan angin menyebabkan debu membubung tinggi. Mirip koloni semut, mereka seakan berbaris rapi, bergerak perlahan dalam diam.

Dalam gelap malam, ribuan warga Palestina berkumpul di dekat Jabalia, di Jalur Gaza utara, pada Minggu (15/6/2025). Distribusi makanan dan persediaan dasar di Gaza yang diblokade dan dilanda perang telah menjadi semakin penuh dan berbahaya, memperburuk krisis kelaparan yang dalam di wilayah tersebut.
Ribuan warga Palestina mencegat konvoi bantuan kemanusiaan Program Pangan Dunia yang menuju ke Kota Gaza di Jalur Gaza utara, Senin (16/6/2025).
Orang-orang yang membawa karung tepung berjalan di sepanjang jalan al-Rashid di Jabalia barat pada Selasa (17/6/2025), setelah truk bantuan kemanusiaan dilaporkan memasuki Jalur Gaza utara melalui penyeberangan perbatasan Zikim
Konvoi warga Palestina usai mendapat bantuan kemanusiaan yang dikirim oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza, sebuah organisasi yang didukung Amerika Serikat, di Rafah, Jalur Gaza selatan, Senin (16/6/2025).
Ribuan warga Palestina membawa karung dan kotak makanan dan bantuan kemanusiaan yang diturunkan dari konvoi Program Pangan Dunia yang sedang menuju ke Kota Gaza, di Jalur Gaza utara, Senin (16/6/2025).

Perang yang terjadi sejak Oktober 2023 antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas telah menghancurkan Jalur Gaza, dengan kekurangan makanan, bahan bakar, dan air bersih. Israel lantas memblokade bantuan pada awal Maret 2025 ketika tuntutan pembebasan semua sandera yang ditahan Hamas tidak terealisasi.

Dua juta warga yang masih bertahan di sekitar Gaza terpaksa bertahan dan menyesuaikan dengan kondisi yang sangat terbatas. Antrean panjang warga yang didominasi anak-anak dan orang tua selalu terlihat saat diadakan pembagian makanan. Terbatasnya bahan makanan yang tersedia membuat kualitas makanan pun harus diturunkan dari yang seharusnya.

Orang-orang yang membawa karung tepung berjalan melewati genangan air di sepanjang jalan al-Rashid di Jabalia barat pada 17 Juni 2025,

Lima truk bantuan pertama memasuki Gaza pada hari Senin, 19 Mei 2025, waktu setempat, setelah hampir tiga bulan blokade Israel terhadap makanan, obat-obatan, dan pasokan lainnya membawa harapan bagi penduduk Gaza. Sejak itu, bantuan memang terus mengalir masuk, tapi masih jauh dari kata mencukupi bagi sekitar 2 juta penduduk Palestina.

Beberapa kejadian penjarahan gudang bantuan terjadi sejak akhir Mei dan menimbulkan korban jiwa. Dan, kejadian itu berulang lagi. Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, mengatakan kepada AFP bahwa sedikitnya 53 orang tewas dan sekitar 200 orang terluka saat ribuan warga Palestina berkumpul untuk menerima tepung di dekat pusat bantuan di kota selatan Khan Yunis, Senin (16/6/2025).

”Pesawat tanpa awak Israel menembaki warga. Beberapa menit kemudian, tank-tank Israel menembakkan beberapa peluru ke warga, yang menyebabkan banyak korban tewas dan terluka,” kata Bassal.

Gumpalan asap muncul di tengah pemboman Israel di timur Jabalia di Jalur Gaza utara pada Senin (16/6/2025).
Para pria membawa tubuh korban yang dilaporkan terbunuh oleh pemboman Israel di Jabalia barat di Jalur Gaza utara pada Selasa (17/6/2025).
Warga Palestina berkumpul menunggu kedatangan truk yang membawa bantuan kemanusiaan di dekat Jabalia, di Jalur Gaza utara pada Minggu (15/6/2025).
Ribuan warga Palestina membawa tas berisi makanan dan paket bantuan kemanusiaan di Rafah, Jalur Gaza selatan, Minggu (15/6/2025).

Mohammad Abu Amer, yang hadir di tempat kejadian, mengatakan bahwa ”orang-orang biasa yang tidak bersenjata” menjadi sasaran. ”Mereka pergi membeli roti dan tepung untuk anak-anak mereka dan (pasukan Israel) membunuh mereka dengan kejam,” katanya dari Rumah Sakit Nasser di kota tempat korban tewas dan terluka dibawa.

Di Rumah Sakit Al-Ahli kota Gaza, salah satu fasilitas kesehatan terakhir yang berfungsi di wilayah utara yang terkena dampak parah, Amer mengatakan kepada AFP bahwa hanya sedikit yang dapat dilakukan dokter untuk mengobati luka di tangannya.

Warga Palestina bergegas mencari perlindungan saat puing-puing beterbangan di sekitar mereka setelah serangan Israel di kamp Bureij di Jalur Gaza tengah pada 15 Juni 2025.

”Setiap hari kami dibom…. Rumah Sakit Al-Ahli telah hancur. Layanan medis dihentikan. Seperti yang Anda lihat, tidak ada yang bisa membalut tangan saya dan tidak ada obat-obatan,” katanya sambil mengangkat tangannya yang bengkak sambil berbaring di tempat tidur darurat di halaman belakang rumah sakit.

Tentara Israel mengatakan sedang menyelidiki ”laporan mengenai sejumlah orang yang terluka” akibat tembakannya. Dikatakan bahwa ”sebuah pertemuan teridentifikasi berdekatan dengan truk distribusi bantuan yang terjebak” di dekat pasukan Israel.

Warga Palestina berkumpul untuk menunggu kedatangan truk yang membawa bantuan kemanusiaan di dekat Jabalia, di Jalur Gaza utara pada 15 Juni 2025. Jalur Gaza telah dirusak oleh lebih dari 20 bulan perang antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas, dengan situasi yang terus memburuk di lapangan.

Pembatasan media

Otoritas Palestina mengatakan, layanan internet dan komunikasi telepon tetap terputus di Gaza tengah dan selatan pada hari Selasa (17/6/2025) menyusul serangan terhadap kabel serat optik utama wilayah itu yang dituduhkan dilakukan oleh Israel.

Pembatasan Israel terhadap media di Jalur Gaza dan kesulitan lain dalam mengakses beberapa area membuat wartawan tidak dapat memverifikasi secara independen jumlah korban dan rincian yang diberikan oleh badan pertahanan sipil Gaza.

Terputusnya internet dan telekomunikasi di seluruh Jalur Gaza sejak lebih dari tiga hari pada minggu lalu juga diakibatkan pemadaman listrik oleh Israel.

Ribuan warga Palestina mencegat konvoi bantuan kemanusiaan Program Pangan Dunia yang menuju ke Kota Gaza di Jalur Gaza utara, Senin, 16 Juni 2025. *** Local Caption *** AP/Jehad Alshrafi

Perang yang telah memasuki bulan ke-21 dan telah menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur di seluruh wilayah Palestina, termasuk saluran air, kabel listrik, dan jalan, belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .