Perkuat Hilirisasi, Indonesia Jajaki Kerja Sama dengan Arab Saudi

Penjajakan kerja sama Indonesia dengan Arab Saudi di bidang petrokimia diharapkan menciptakan hilirisasi petrokimia.

16 Apr 2025 20:10 WIB · Ekonomi

Oleh Aguido Adri

JAKARTA, KOMPAS — Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global hingga kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Indonesia kembali menggencarkan kerja sama dengan sejumlah negara. Kali ini, Indonesia dan Arab Saudi menjajaki kerja sama di bidang petrokimia dan pengembangan kawasan industri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Eko SA Cahyanto dan jajaran menyambut kedatangan delegasi Kementerian Industri dan Sumber Daya Mineral Kerajaan Arab Saudi yang dipimpin Bandar Al-Khorayef, di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Jakarta, Rabu (16/4/2025).

Agus mengatakan, kedatangan Menteri Industri dan Sumber Daya Mineral Kerajaan Arab Saudi ke Indonesia dinilai tepat di tengah perkembangan geoekonomi dan geopolitik akhir-akhir ini. Indonesia dan Arab Saudi sama-sama menganggap bahwa kondisi ketidakpastian global harus menjadi perhatian bersama. 

Dalam ketidakpastian global itu, perlu ada upaya mitigasi dari kebijakan-yang akan dikeluarkan oleh AS. ”Oleh sebab itu, untuk menghadapi global uncertainty ini kami sepakat bahwa salah satu cara untuk memitigasinya adalah penguatan kerja sama antara kedua negara,” kata Agus.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bertemu dengan Menteri Industri dan Sumber Daya Mineral Kerajaan Arab Saudi yang dipimpin Bandar Al-Khorayef, di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Jakarta, Rabu (16/4/2025).

Dalam pembicaraan bersama delegasi Arab Saudi, Indonesia menginginkan kerja sama di bidang petrokimia. Kerja sama itu dinilai penting karena Indonesia membutuhan hilirisasi industri dan petrokimia untuk mendukung sektor industri dan turunannya.

Sementara itu, Arab Saudi sedang mengembangkan kawasan industri. Indonesia bisa menjadi contoh dalam pembangunan industri di Arab Saudi.

”Dan itu semua nanti akan dalam waktu dekat akan kita tuangkan di dalam sebuah MoU (nota kesepahaman) antara Arab Saudi dengan Indonesia. MoU ini kita harapkan bisa dilaksanakan segera mungkin,” ujar Agus.

Menurut Agus, dalam MoU itu nantinya akan menyasar program atau proyek yang memiliki titik temu yang sama-sama menguntungkan dan bermanfaat bagi kedua negara. Terkait besaran investasi khususnya di bidang petrokimia masih akan dibahas lebih lanjut.

Truk mengangkut peti kemas yang akan dimasukkan ke dalam kapal kargo di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (11/4/2025). Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda kenaikan tarif bea masuk impor selama 90 hari. Sebelumnya,Trump memberlakukan tarif impor resiprokal sebesar 32 persen kepada Indonesia.

Selama ini, hubungan perdagangan dan investasi kedua negara pada sektor industri terus meningkat. Total perdagangan Indonesia dan Arab saudi, khususnya untuk produk nonmigas pada tahun 2024, mencapai 3,3 miliar dollar AS dengan pertumbuhan sebesar 14,5 persen dari tahun 2020-2024. Selain itu, penjajakan kerja sama juga diharapkan nilai investasi Arab Saudi ke Indonesia ikut meningkat.

”Nilai perdagangan ini perlu ditingkatkan lagi, terlebih kedua negara termasuk anggota G20 yang sama-sama memiliki kekuatan ekonomi yang cukup potensial,” ujarnya.

Sementara itu, dalam periode 2019-2024, total realisasi investasi Arab Saudi di Indonesia mencapai 23,6 juta dollar AS yang meliputi 437 proyek hingga tahun 2024.

”Jadi ruang untuk bertumbuh masih luas sekali. Dan, kita juga sepakat bahwa Arab Saudi dan Indonesia itu merupakan dua negara yang akan saling memberikan komplementer, saling mengisi,” lanjutnya. 

Kemenperin mencatat, produk-produk petrokimia sebagian telah diproduksi di dalam negeri, tetapi belum mencukupi kebutuhan domestik sehingga tetap perlu diimpor dari sejumlah negara. Nilai impor produk petrokimia tahun 2023 mencapai 9,5 miliar dollar AS.

Produk jadi sepatu dan sandal wanita di sebuah industri alas kaki OB Shoes di Serua, Depok, Jawa Barat, Jumat (14/3/2025). Hasil produksi industri rumahan ini dipasarkan secara daring dan luring ke butik-butik sepatu di seluruh Indonesia. Dalam seminggu usaha rumahan ini mampu memproduksi 250 pasang sepatu dan sandal. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin Taufiek Bawazier mengatakan, pemerintah menempatkan industri petrokimia sebagai industri dasar dan sangat prioritas.

”Sebab, ini arahnya pertumbuhan ekonomi. Sektor-sektor lain sangat tergantung pada daya saing industri kimia,” ujar Taufiek.

Produk-produk petrokimia dibutuhkan untuk memproduksi berbagai macam keperluan industri. Produk petrokimia itu seperti polietilena untuk boks kontainer dan botol.

Lalu, polipropilena untuk suku cadang otomotif dan mainan. Kemudian stirena monomer untuk interior mobil dan bantalan helm. Lalu, butadiena untuk ban kendaraan, sarung tangan, dan alas kaki. 

Penjajakan kerja sama Indonesia dengan Arab Saudi terutama di bidang petrokimia diharapkan menciptakan hilirisasi produk petrokimia sehingga industri manufaktur dalam negeri semakin kuat di tengah ketidakpastian global dan potensi banjir impor dari sejumlah negara yang terdampak tarif Trump.

Infografik Riset Plastik Pertumbuhan Industri Karet, Produk Karet, dan Plastik

Menurut Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, kemitraan Indonesia dan Arab Saudi menjadi peluang untuk produk-produk petrokimia dalam negeri yang saat ini tentu berusaha untuk bertahan, terlebih dari situasi perdagangan global dan efek tarif Trump.

Bagi Arab Saudi, kemitraan atau penjajakan kerja sama itu juga bisa didasari dari imbas tarif Trump yang membuat produk-produk Arab Saudi tidak lagi banyak terserap ke pasar AS.

”Alasan lainnya adalah Arab Saudi juga menawarkan peluang dari produk petrokimianya. Kita tentu mendorong agar Arab Saudi bisa ikut serta menciptakan basis produksi untuk petrokimianya di Indonesia. Bukan saja mengekspor produknya, tetapi juga investasi. Industri petrokimia dalam negeri harus pula tetap diuntungkan dari perjanjian kedua negara nantinya,” ujar Andri.

Tak bisa dimungkiri, tarif Trump telah mendorong Indonesia untuk membuka perundingan perjanjian dengan banyak negara, termasuk Arab Saudi. Manuver atau pergerakan diplomasi ekonomi ini menjadi kunci produk-produk Indonesia banyak terserap di luar pasar AS.

”Karena imbas tarif Trump ini tentunya, akan mengubah konstelasi dari global supply chain. Jadi tentunya ini jadi salah satu game changer untuk manuver dari tarif Trump. Artinya, kalau kita tidak segera tangkap dengan renegosiasi perdagangan dengan negara-negara mitra, nanti kita akan kehilangan momentum. Diversifikasi mitra dagang dan investasi terutama, jadi suatu keharusan,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul