MRT Jakarta tak hanya menghadirkan angkutan umum massal, tetapi juga mengubah wajah kota melalui pengembangan kawasan berorientasi transit atau TOD.
10 Agt 2025 16:20 WIB · Metropolitan
Bertahun-tahun wajah Blok M di Jakarta Selatan lekat dengan kesan kurang terurus. Kini kondisinya berbalik 180 derajat. Lebih tertata, terhubung dengan MRT Jakarta dan halte bus, serta ruang publik yang membuat kawasan lebih hidup.
Banyak mata takjub melihat Blok M Hub. Tampilan baru Mal Blok M—pusat mode, musik, dan kongko anak muda era 90-an.
Lorong remang-remang nyaris gelap dan pengap di bawah terminal itu berganti mozaik cerah. Orang-orang pun tak lagi bergidik menginjakkan kaki di sana. Kecerahan ini sekaligus menandai wajah baru Jakarta. Kota yang inklusif, kreatif, dan penuh semangat kolaborasi.
Wajah baru tersebut sedikit demi sedikit dirasakan Tasya (32), salah satu pengunjung Blok M. Akses ke kawasan tersebut menjadi lebih mudah karena terkoneksi dengan angkutan umum, salah satunya Stasiun MRT Jakarta Blok M BCA.
Dari stasiun, ia bisa langsung ke pusat perbelanjaan Blok M Plaza. Ia juga bisa menyusuri jembatan penghubung ke Taman Literasi Martha Christina Tiahahu atau Terminal Blok M.
”Rasanya lebih enak jalan-jalan di Blok M karena bersih, lebih rapi, dan aman,” kata pekerja kantoran ini.
Setidaknya, dua atau tiga kali dalam sepekan, ia nongkrong di Blok M. Kadang-kadang sekadar jalan-jalan melepas penat, berburu aneka kuliner, atau menghabiskan akhir pekan bersama teman-teman.
Ia berharap pemerintah dapat menambah atau menata kawasan minimal, seperti Blok M. Mudah diakses warga, ada ruang publik, dan ramah semua golongan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/08/f9dce256-9abc-4a5f-a5ef-d9c72801606e_jpg.jpg)
Wajah terkini Blok M tak serta-merta terwujud. Di baliknya ada proses penataan kawasan berorientasi transit (TOD) secara perlahan, tetapi pasti, oleh MRT Jakarta.
TOD bukan hanya tentang pembangunan hunian atau rumah dekat simpul angkutan umum. Akan tetapi, menata kawasan dengan konsep campuran agar mengungkit kualitas hidup.
”Selama ini pembangunan menggunakan pendekatan berbasis kendaraan pribadi. Nah, diganti berbasis transit, dekat angkutan umum, tanpa meninggalkan ciri khas kawasan,” kata Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta Farchad Mahfud dalam sesi ”Media Fellowship Program MRT Jakarta 2025” pada Kamis (7/8/2025).
MRT Jakarta mengembangkan TOD dalam radius 800 meter dari sekitar kawasan stasiun. Blok M, misalnya, ditata sebagai livable district atau kawasan yang nyaman sebagai tempat tinggal dan tempat untuk beraktivitas, baik dari fasilitas transportasi, sarana dan prasarana, maupun sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan.
Penataannya dimulai dengan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu pada tahun 2022. Taman yang tadinya bak itik buruk rupa berganti menjadi primadona dengan kegiatan seni dan budaya serta ditunjang ritel yang kian memanjakan pengunjung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/08/35b123b3-0940-4b9b-b216-0ab60d02edb2_jpg.jpg)
Memoles wajah Blok M lantas berlanjut dengan Blok M Hub. Titik pertemuan antara transportasi, gaya hidup, dan sejarah kota.
Kawasan ini masih akan ditata setahun ke depan. Paling dekat disiapkan rancangan pembangunan skybridge yang menghubungkan Stasiun MRT Blok M BCA dengan area Blok M, pembangunan fasad terminal, area ritel terintegrasi, multifunction hall bawah tanah, dan ruang terbuka hijau baru.
Soal anggaran disiasati dengan pendanaan kreatif. MRT Jakarta tengah mencari investor yang berminat untuk pengembangan area tersebut.
”Fungsi area Blok M sebagai ruang terbuka, tempat kreatif, tetap dipertahankan. Kami perkuat dengan konsep ASEAN dan Betawi,” kata Farchad.
Secara keseluruhan sudah tuntas 12 proyek penataan kawasan TOD di dekat stasiun MRT Jakarta sejak 2019. Proyek ini dimulai dari Terowongan Kendal Dukuh Atas dan jalur pedestrian di Sudirman-Thamrin pada 2019, integrasi Halte CSW tahun 2021, skybridge dan transit plaza di Lebak Bulus 2022.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/09/e93afad0-40dc-4e3c-aa96-f1aaae099eb7_jpg.jpg)
Penataan berlanjut di Taman Kudus, skybridge Dukuh Atas, jalur pedestrian Blora-Kendal, dan transport hub sepanjang tahun 2023.
”Kami menata secara parsial tapi terus berlanjut sesuai dengan kepemilikan aset atau kesediaan pemilik gedung,” kata Farchad.
Hasil penataan Dukuh Atas, misalnya, secara bertahap membawa kemudahan pergantian antarmoda. Stasiun MRT Dukuh Atas BNI, Stasiun KRL Sudirman, dan Stasiun KA Bandara BNI City terhubung melalui Terowongan Kendal.
Sementara itu, LRT Jabodebek terkoneksi lewat Jembatan Penyeberangan Multiguna Dukuh Atas. Transjakarta lalu menyusul dengan kehadiran Transport Hub Simpang Temu Dukuh Atas.
Menurut Farchad, ke depan masih akan berjalan penataan agar angkutan umum bisa terkoneksi langsung dengan gedung perkantoran atau pusat perbelanjaan. Hal ini kian memudahkan warga mengakses kawasan dengan berjalan kaki.
Di sisi satunya pengelola gedung mendapatkan keuntungan dari ramainya aktivitas warga. Bahkan, kawasan menjadi lebih hidup dengan aktivitas warga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/d15a4375fd334176cbbae7e1511d6676-FAK_5543.jpg)
Hal itu contohnya terjadi di Blok M Plaza dan Poins Square. Dua pusat perbelanjaan itu kembali ramai pengunjung karena kemudahan akses atau pengguna MRT Jakarta yang mampir.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mulai mencanangkan penataan kawasan agar terkoneksi. Sumber pendanaannya dari luar APBD DKI Jakarta, seperti denda koefisien lantai bangunan (KLB), dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dan kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).
Kawasan itu antara lain koneksi Lapangan Banteng dan Gedung AA Maramis di Jakarta Pusat, Kota Tua-Harmoni, dan Kebayoran Baru sesuai fungsi awal kawasan.
Kota Tua-Harmoni bakal terhubung dengan MRT Jakarta Fase 2 Bundaran HI ke Kota yang ditargetkan beroperasi pada 2027.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/07/e1b53d957152fcad825d592df78fd3ec-FAK_5062.jpg)
Kebayoran Baru yang terdiri atas Blok A sampai Z, tetapi lebih kesohor dengan Blok M, dikembalikan sebagai kota taman. Salah satunya Taman Bendera Pusaka yang merupakan gabungan Taman Leuser, Taman Ayodhya, dan Taman Langsat.
Penataan kawasan tersebut menjadi prioritas untuk membangun Jakarta secara cepat dan terintegrasi, serta menjadikan kota lebih hijau, teratur, dan fungsional. Hal ini juga menjadi upaya mencari solusi pembiayaan inovatif untuk mewujudkan rencana tata kota yang ambisius.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebutkan, semakin banyak ruang publik akan membuat Jakarta jauh lebih menarik. Misalnya, kebijakan taman 24 jam yang semula diragukan, tetapi justru panen respons positif.
Sedikit demi sedikit wajah kota mulai berbenah menjadi lebih ramah terhadap warganya. Langkah pelan tapi pasti ini harus terus didukung karena sederet pekerjaan sudah menanti di depan mata untuk menyempurnakan kawasan TOD.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DanyEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari