Berlatih dengan pelatih profesional memberikan banyak manfaat bagi pelari rekreasional yang ingin serius menekuni lari.
18 Des 2024 20:36 WIB · Olahraga
Olahraga lari sudah menjadi magnet kuat yang terus menarik banyak orang untuk berlari. Tak ayal, bermunculan pelari-pelari rekreasional, tetapi berlatih serius hingga mereka yang hanya sekadar mengikuti tren.
Akan tetapi, berlari juga memerlukan sejumlah hal, seperti penguasaan dasar-dasar gerak lari yang baik untuk meningkatkan performa berlari secara bertahap dan terhindar dari cedera. Kehadiran seorang pelatih lari profesional akan memberikan banyak manfaat bagi pelari pemula hingga pelari yang berpengalaman. Pelatih bukan hanya mengawasi proses latihan, melainkan juga menjadi teman untuk diskusi dan menjadikan latihan lebih terarah dan fokus.
Dengan menekuni lari (secara serius), pada akhirnya para pelari rekreasional tadi membutuhkan pelatih.
Agung Mulyawan atau juga dikenal sebagai Agung Gantar, coach lari yang banyak menangani pelari rekreasional, Selasa (17/12/2024), menuturkan, olahraga lari hari ini sudah sedemikian berkembang di Indonesia. Agenda perlombaan lari begitu banyak dan menawarkan banyak kategori, mulai 5.000 meter, 10.000 meter, half marathon, hingga full marathon. Kemudian juga ada kategori internasional, nasional, dan bahkan sekarang ada kategori master (usia di atas 40 tahun).
Jumlah perlombaan lari lebih banyak dibandingkan dengan jumlah atlet lari. Alhasil, mereka yang adalah pelari rekreasional jadi punya kesempatan untuk bisa naik podium.
Kemungkinan itulah yang akhirnya mendorong banyak pelari rekreasional tadi menekuni lebih serius kegiatan larinya. ”Dengan menekuni lari (secara serius), pada akhirnya para pelari rekreasional tadi membutuhkan pelatih,” jelas Agung yang juga pelatih dan pengasuh sejumlah pelari asal Pangalengan, Jawa Barat, di Agung Mulyawan Track Club (AMTC), kawasan perkebunan teh di Pangalengan, Jawa Barat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/23/15d12c2c-80ec-449c-952c-c884cbd09840_jpg.jpg)
Pelatih strength and conditioning Alia Basalamah secara terpisah juga menegaskan, jika konteksnya ingin serius berlari, pastinya memang dibutuhkan adanya pelatih lari tersebut. ”Karena segala sesuatu yang sifatnya serius pasti harus dipersiapkan dengan baik,” kata Alia.
Dengan adanya pelatih, Agung menyatakan, pelari bisa mendapatkan banyak manfaat. Sebelum memulai program latihan, pelatih akan menganalisis terlebih dahulu level performa si pelari melalui serangkaian tes. Tes itu di antaranya seperti tes daya tahan, tes kekuatan, tes keseimbangan, dan tes fleksibilitas.
”Serangkaian tes akan menunjukkan level performa si pelari. Kalau level performanya masih pemula, tentu pelatih tidak sembarangan membuat program untuk pelari itu,” kata Agung.
Dengan mengetahui level performa, ujar Agung, pelatih juga tidak akan tiba-tiba memberikan latihan-latihan yang sulit untuk dilakukan si pelari. ”Jadi benar-benar (latihan) disesuaikan dengan kemampuan si pelari,” jelas Agung.
Alia menambahkan, untuk pelari yang tengah mencari pelatih lari, pelatih itu sebenarnya cocok-cocokan. Untuk itu, pelari rekreasional dianjurkan mencari pelatih yang komunikatif.
”Kenapa? Agar tujuan atau target bisa berhasil, pelatih dan pelari harus bisa bekerja sama dengan baik. Pelatih bisa memberi feedback dan siap menerima feedback,” kata Alia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/27042f44-aac6-4d85-92e3-fe1fab778aa1_jpg.jpg)
Pelatih sebaiknya bisa menjelaskan perencanaan ke depannya dan menjelaskan alasan pemberian program latihan. Itulah perlunya sesi konsultasi atau tanya jawab sebelum memberikan program latihan.
Lalu, bagaimana pelari bisa mendapat informasi tentang pelatih profesional tersebut? Menurut Alia, saat ini referensi dari teman atau bahkan referensi dari pelatih sudah cukup untuk memberikan info tentang pelatih lari.
Sementara Agung menuturkan, dengan perkembangan olahraga lari yang saat ini sudah menjadi industri, ada beberapa perusahaan yang menyediakan pelatih lari kompeten. Salah satunya termasuk Gantar Velocity yang dikelola Agung.
Ketika program latihan sudah berlangsung, Agung melanjutkan, pelari rekreasional pemula sebaiknya berlatih langsung dengan pelatih di tempat latihan. Dengan berada di lokasi yang sama, menurut Agung, akan menguntungkan pelari dan pelatih.
Hal itu karena pelatih akan bisa melihat langsung proses latihan anak latihnya, pelatih bisa melihat gerakan pemanasan dan berlari anak latihnya sudah benar atau belum, serta pelatih bisa membaca kondisi fisik atau level performa pelari. Berlatih langsung dengan pelatih, maka pelatih juga bisa langsung mengevaluasi si pelari.
Sebagai pendamping pelari, pelatih juga akan menyusun program latihan menuju perlombaan serta kegiatan lainnya. Dengan begitu, latihan menuju lomba akan berlangsung terarah dan fokus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/15/02fd1648-51fa-403a-ab0a-e828f7fee8f5_jpg.jpg)
Bagaimana dengan program latihan secara daring? Menurut Agung, beberapa tahun belakangan ini mulai berkembang tren latihan online atau latihan daring.
Melalui latihan daring, pelari tinggal menunggu program dari pelatih, kemudian pelari memberikan data yang terekam dari jam pintarnya atau dari aplikasi yang dipakai ketika berlari. Akan tetapi, program latihan daring ini kurang maksimal untuk pelari pemula yang bahkan untuk pemanasan saja belum paham.
”Latihan daring cocoknya hanya untuk (pelari rekreasional) yang benar-benar sudah berpengalaman,” kata Agung.
Selain berlatih dengan pelatih lari, pelari rekreasional yang serius juga bisa mendampingi latihannya dengan didampingi pelatih strength and conditioning. Pelatih strength and conditioning akan berperan untuk merancang program latihan strength yang sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga yang diikuti.
”(Pelatih strength and conditioning) tidak hanya mendesain program latihan yang terstruktur. Namun, bagaimana nantinya latihan yang diberikan dapat membantu pelari dalam meminimalkan cedera. Jika ingin serius, pelatih strength and conditioning mempunyai peranan yang cukup kuat dalam membantu pelari menjalani proses mencapai goal-nya,” tutur Alia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/28/cb43c5d7-0ac7-457a-b593-cd01ce275785_jpg.jpg)
Alia menggarisbawahi, berlatih lari dengan didampingi pelatih, maka pelari akan mendapatkan program latihan yang disesuaikan dengan kemampuan diri, kebutuhan tubuh, prioritas hidup, dan aktivitas sehari-hari. ”Yang pasti latihannya akan terarah,” imbuh Agung.
Lalu bagaimana dengan pelari yang tidak mau menggunakan pelatih lari? Agung menyatakan, pelari yang memilih berlatih tanpa pelatih bisa bergabung dengan komunitas lari.
”Karena komunitas yang sekarang juga rata-rata punya pelatih. Setidaknya ada panduan atau guide walaupun latihannya grup,” jelas Agung.
Namun, untuk pelari yang betul-betul mau berlatih sendiri tanpa pelatih, Agung menekankan, para pelari harus ekstra disiplin diri, harus bisa melawan rasa malas, mau merawat tubuh, serta mau membaca sinyal-sinyal tubuh.
Kalau ada pelatih, pelatih bisa mengingatkan anak didik tentang istirahat yang cukup, tentang asupan makanan. Hal ini karena baik latihan, makan, maupun istirahat itu saling berhubungan untuk performa.
”Kalau tidak ada pelatih, pelari sendiri yang harus ambil keputusan,” jelas Agung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/9af63849-a0b0-47a7-b925-a0f762ba829f_jpg.jpg)
Alia menambahkan, bagi pelari yang mau berlatih sendiri sebaiknya banyak membaca dan bertanya. ”Tapi, jika membaca pun, tolong dilihat konteksnya yang untuk ’pelari non-atlet’ atau recreational runners. Jangan menggunakan contoh kasus atlet untuk diaplikasikan ke non-atlet,” jelas Alia.
”Kepada siapa bisa bertanya? Ke pelatih yang tepercaya. Memang boleh? Ya harusnya boleh, karena tidak semua orang punya kemampuan untuk meng-hire pelatih,” imbuh Alia.
Apabila pelari ingin berlatih dengan pelatih, tetapi kekurangan biaya, pelari bisa bertanya tentang opsi small group training. ”Karena, tentunya, untuk group training, harga yang ditawarkan akan lebih affordable atau lebih terjangkau per orangnya,” pungkas Alia.
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Wisnu Aji Dewabrata