Assad mengatakan ia ”dipaksa” untuk angkat kaki dari Suriah. Ia juga mengatakan negara itu kini dikuasai oleh teroris.
17 Des 2024 09:24 WIB · Internasional
DAMASKUS, SELASA — Bashar Al-Assad, presiden terguling Suriah, akhirnya angkat bicara mengenai situasi di negaranya. Assad sekeluarga kabur ke Rusia ketika kelompok oposisi bersenjata, Hayat Tahrir al-Sham, merebut ibu kota Damaskus pada 8 Desember 2024.
”Saya tidak pernah berniat meninggalkan Suriah. Namun, ketika itu, pasukan Rusia mengatakan keadaan tidak lagi aman sehingga pada saat-saat terakhir saya diungsikan ke Rusia melalui pangkalan militer Rusia di Latakia,” tulis Assad di akun resminya di Facebook dan ditulis dalam bahasa Inggris.
Baik Assad maupun Kremlin tidak mengungkap di Rusia bagian mana ia berada. Assad di Rusia bersama istrinya, Asma Al-Assad; dan ketiga anak mereka, yaitu Hafez (23), Zein (21), dan Karim (20). Meskipun lokasi mereka dirahasiakan, berbagai media arus utama melaporkan keluarga Assad memiliki apartemen mewah di Moskwa. Hafez, sebelum ayahnya terguling, juga baru menjalani sidang magister di Universitas Negeri Moskwa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/13/438ea5a3-a84f-498c-8d17-02edf3afa4e1_jpg.jpg)
Walaupun Assad mengaku baru meninggalkan Suriah pada saat-saat terakhir, laporan dari berbagai saksi intelijen, militer, dan orang-orang dalam pemerintahannya berkata lain. Mereka mengungkapkan, Assad sudah angkat kaki beberapa jam sebelum milisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS) memasuki Damaskus. Bahkan, Bouthaina Shaaban, sekretaris pers sekaligus orang kepercayaan Assad tidak diberi tahu.
”Negara kita jatuh ke tangan teroris. Segala kemampuan untuk memberi sumbangsih bermakna telah hilang,” kata Assad.
Kelompok bersenjata HTS yang disokong Turki memang dicap teroris oleh Amerika Serikat. Akan tetapi, dalih ”teroris” ini selalu dilontarkan Assad kepada para penentangnya, termasuk warga sipil yang melakukan unjuk rasa damai. Ia kerap menangkapi mereka dan menjebloskan mereka ke penjara tanpa diadili. Di penjara, mereka disiksa. Ada yang disiksa sampai mati, ada pula yang sengaja dieksekusi.
Terlepas pernyataan pertama Assad itu, Kepala OCHA–lembaga bantuan kemanusiaan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa–Tom Fletcher yang berada di Damaskus mengatakan, 70 persen rakyat Suriah memerlukan bantuan sosial. Keadaan masih sangat cair di sana. Bedanya, kini nasib Suriah ada di tangan rakyatnya.
”Komunitas internasional wajib menolong rakyat Suriah. Kita harus mengupayakan bantuan masuk secepatnya. Sandang, pangan, papan, obat-obatan, dan dana untuk pembangunan kembali Suriah,” ujar Fletcher.
Ia menekankan, ini adalah masa ketika semua pihak mendukung Suriah. Kesempatan ini jangan sampai lepas karena tujuh dari sepuluh rakyat Suriah dilanda krisis. Mereka memerlukan pertolongan untuk membangun kembali bangsanya.
Sejumlah negara, antara lain Turki, AS, dan Inggris, telah membuka komunikasi dengan pemerintahan sementara yang dipimpin oleh HTS. Turki mengaktifkan kembali kedutaan besar mereka di Damaskus. Level hubungan AS dan Inggris belum diplomatik, tetapi sudah membicarakan mengenai pemberian bantuan kepada rakyat Suriah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/015d221a6cc6547fb3a130e27a3f58f4-AFP_36QF4XN.jpg)
”Washington akan membuka kembali hubungan diplomatik dengan Damaskus apabila terwujud pemerintahan Suriah yang dipilih oleh rakyat dan inklusif tanpa menekan kelompok-kelompok tertentu,” kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken.
AS memutus hubungan dengan Suriah pada 2011 ketika perang saudara meletus. Assad membantai 500.000 rakyatnya yang bersemangat membawa Musim Semi Arab ke Suriah. Korban keganasan Assad kala itu termasuk anak-anak. Lebih dari 6 juta warga Suriah terpaksa mengungsi dan menempatkan persoalan itu sebagai krisis kemanusiaan terburuk setelah Perang Dunia II.
Di Suriah bagian utara yang berbatasan dengan Turki, gencatan senjata gagal antara kelompok oposisi Kurdi dan kelompok oposisi pro-Turki yang antara lain adalah HTS. Tidak lama setelah Damaskus direbut HTS, terjadi kontak senjata di antara oposisi pro-Turki dan Kurdi. Perundingan gencatan senjata ini dimediasi oleh AS.
Kelompok Kurdi memperoleh dukungan dari AS karena mereka selama ini membantu pasukan AS memerangi jaringan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). HTS dan kelompok pro-Turki juga memerangi NIIS, tetapi mereka sendiri lahir dari jaringan Al Qaeda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/102df153b4a2b2aabc7f3d610350483f-SYRIA_CONFLICT_KURDS_126159163.jpg)
Pada saat yang sama, oposisi Kurdi merupakan gerakan yang ingin memerdekakan diri. Komunitas mereka tersebar di Turki bagian selatan. Oleh Ankara, mereka dicap sebagai separatis sekaligus teroris.
Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin kelompok Kurdi dan kelompok pro-Turki justru kini berperang dan anggota mereka banyak yang tewas. ”Gencatan senjata gagal dicapai karena Turki tidak mau menerima beberapa poin penting di dalam perjanjian,” kata Juru Bicara SDF Farhad Shami.
Blinken pada pekan lalu melawat ke Ankara. Kepada Pemerintah Turki, ia mengajak mereka berkolaborasi mengutamakan rakyat Suriah. Berikutnya, kolaborasi antara kelompok-kelompok yang didukung kedua negara untuk memerangi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) dan membasmi terorisme dari kawasan. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra