Belum ada kejelasan pencalonan Presiden ketujuh RI Jokowi menjadi ketua umum PSI. Boleh jadi Jokowi masih mempertimbangkan kekuatan mesin partai tersebut.
31 Mei 2025 17:31 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Partai Solidaritas Indonesia atau PSI memperpanjang masa pendaftaran calon ketua umumnya dalam pergelaran pemilu raya. Alasannya, sebagian besar calon masih menggalang dukungan demi memenuhi syarat pendaftaran. Masa perpanjangan itu juga diharapkan mampu menarik minat tokoh-tokoh dari luar partai.
Dalam pergelaran pemilu raya itu, pendafaran calon ketua umum sudah dibuka sejak 13 Mei 2025. Semula, pendaftaran akan ditutup pada 18 Juni 2025. Namun, partai yang kini dipimpin Kaesang Pangarep, putra Presiden ketujuh RI Joko Widodo itu, kemudian memperpanjang masa pendaftarannya hingga 23 Juni 2025.
”Kami memberikan waktu kepada para kandidat untuk saling berkonsolidasi mencari dukungan, atau memberikan dukungan. Sebab, kami lihat proses di bawah (akar rumput) masih belum selesai,” kata Wakil Ketua Umum PSI Andy Budiman saat dihubungi pada Sabtu (31/5/2025).
Salah satu syarat yang mesti dipenuhi ialah seorang kandidat setidaknya harus memperoleh dukungan resmi dari lima dewan pimpinan wilayah (DPW) dan 20 dewan pimpinan daerah (DPD). DPW merupakan struktur kepartaian PSI di tingkat provinsi, sedangkan DPD terdapat di tingkat kabupaten dan kota.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/06/a6d068c9-964f-479d-b294-596abad9afaa.jpg)
Dari informasi yang dikumpulkannya, menurut Andy, ada sejumlah DPW dan DPD yang mempunyai dua kandidat yang ingin diusung. Padahal, partainya hanya memberikan ruang untuk satu kandidat bagi masing-masing organisasi cabang. Tak hanya itu, sebagian calon juga masih dalam proses pendekatan.
Tak kalah pentingnya, lanjut Andy, perpanjangan masa pendaftaran membuka peluang lebih lebar bagi tokoh-tokoh dari luar PSI untuk turut serta. Pasalnya, perebutan kursi ketua umum tidak terbatas bagi para kader partai. Sosok-sosok dari luar partai bisa mengikuti asalkan mengikuti ketentuan seperti para kader lain.
”Jadi, kami memberi ruang lebih panjang kepada para kandidat yang kelihatan bergerak di bawah ataupun yang datangnya dari luar,” kata Andy.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/25/6e75a77c-8d63-4b15-b561-37a2f21cc043_jpg.jpg)
Sebelumnya, sosok kuat yang santer dikabarkan turut serta dalam pemilu raya itu ialah Jokowi. Namun, hingga kini belum ada kabar lanjutan mengenai kepastian Jokowi akan ikut dalam pemilihan atau tidak. Begitu pula apakah Kaesang akan ikut dalam pemilihan tersebut.
”Ah, itu kita lihat nanti. Masih berproses semuanya. Doakan saja,” ujar Andy ketika ditanyai keikutsertaan kedua sosok itu.
Terkait bergulirnya kabar itu, Jokowi mengeluarkan pendapatnya. Pihaknya tak menutup kemungkinan untuk ikut serta pemilu raya. Hanya saja, ia mempertimbangkan peluangnya secara masak-masak agar kelak memenangi kontestasi jika benar-benar ikut bersaing.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/28/c22903ae-3b94-423a-8b03-27cb6cbdc399.jpeg)
”Masih dalam kalkulasi. Jangan sampai kalau nanti, misalnya, ikut, saya kalah,” kata Jokowi kepada wartawan, di Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada 13 Mei 2025 lalu.
Dihubungi terpisah, Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menengarai, diperpanjangnya masa pendaftaran menjadi cerminan dari sulitnya PSI untuk menarik calon-calon populer. Sosok-sosok dari luar partai mengalkulasi secara utuh kemampuan partai itu bertahan di tengah ketatnya persaingan politik saat ini.
Situasi serupa, menurut Arya, yang agaknya membuat Jokowi belum juga tergerak mendaftarkan dirinya meskipun kabar soal pencalonan sudah sering digulirkan. Pihaknya pun belum melihat keseriusan Jokowi pada kontestasi itu. Terlebih lagi, PSI hanya mampu memperoleh suara sekitar 2 persen pada pemilu terakhir. Dengan raihan suara itu, PSI gagal masuk ke parlemen karena tak lolos ambang batas parlemen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/21/5a44526b0134dfca1366e3fd40e06baa-IMG_20241121_163150_225.jpg)
”Tentu, ini Pak Jokowi berhitung seberapa kuat partai ini. Seberapa kuat mesinnya. Sebab, pemilu kemarin suaranya juga kecil, padahal sudah menyebut PSI ini partainya Jokowi, kan,” kata Arya.
Di sisi lain, sebut dia, boleh jadi sejauh ini hanya ada calon tunggal yang sulit dilawan kader-kader lainnya. Calon dimaksud adalah Kaesang.
”Artinya, saya kira PSI menunggu supaya tidak ada calon tunggal. Sebab, sepertinya hanya Kaesang yang mendaftar. Dan, kalau pemilu raya itu hanya ada calon tunggal, nanti akan punya image negatif. Ini kontradiktif dengan tujuan pemilu raya,” kata Arya.
Penulis:
Nino Citra AnugrahantoEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto