Perundingan AS-Iran terkait perang di Iran memunculkan kesepakatan sementara. Namun, kesepakatan itu belum mendapat lampu hijau dari Presiden Trump.
29 Mei 2026 08:44 WIB · Internasional
AFP / POOL / MATT ROURKE
WASHINGTON, JUMAT — Negosiator dari Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Kedua pihak juga sepakat untuk memulai putaran pembicaraan baru tentang program nuklir Iran. Namun, semua kesepakatan itu belum final karena masih menunggu persetujuan Trump.
Dilansir dari AFP, Jumat (29/5/2026), informasi awal dari kesepakatan sementara AS dan Iran tersebut terungkap di media Axios. Sumber-sumber AFP di pemerintahan AS kemudian menambahkan, kedua pihak mencapai kesepakatan tentang nota kesepahaman (MoU) untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
Wakil Presiden AS JD Vance kepada wartawan, Kamis (28/5/2026) malam waktu setempat, mengonfirmasi adanya kesepakatan sementara antara AS dan Iran. Namun, ujar Vance, kesepakatan itu masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump.
”Sulit untuk mengatakan secara pasti kapan atau apakah Presiden Trump akan menandatanganinya,” kata Vance kepada wartawan. Vance menambahkan, kedua pihak masih membicarakan sejumlah hal.
Menurut dia, kedua pihak membuat banyak kemajuan. Vance mengatakan, sejauh ini Iran menunjukkan itikad baik. Bahkan, kedua pihak ingin membuka kembali Selat Hormuz. Di sisi lain, ada ganjalan terkait isu uranium. ”Semoga, kita akan terus membuat kemajuan dan presiden akan berada dalam posisi di mana dia dapat mendukung perjanjian tersebut. Namun jelas itu masih TBD, yang berarti akan ditentukan,” imbuh Vance.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/29/d19379c9-5630-4db5-af8a-359498a75352.jpg)
Vance menambahkan, para negosiator sedang mencoba untuk mencapai kesepakatan mengenai uranium yang telah disepakati dalam perjanjian sementara. Untuk rinciannya akan dibahas dalam pembicaraan selanjutnya.
Menurut Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Iran memiliki 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60 persen. Keberadaan material sensitif itu membuat Iran secara teknis memiliki uranium yang memiliki level mendekati uranium kelas senjata.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan, kedua pihak sebenarnya telah memiliki acuan yang sama untuk mencapai kesepakatan. ”Namun, beberapa garis merah yang ditetapkan Presiden masih belum terpenuhi,” kata Bessent.
”Presiden tidak akan menerima kesepakatan yang buruk. Beliau akan membuat kesepakatan yang hebat untuk rakyat Amerika,” kata Bessent dalam sebuah pengarahan di Gedung Putih.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/04/43a81a63199a6d5c209e629c707e55b4-Iran_War_Strait_of_Hormuz_137981721.jpg)
Kepada kantor berita The Associated Press, seorang pejabat AS mengatakan, negosiator kedua pihak membahas materi yang menegaskan bahwa Iran tidak dapat mengenakan bea masuk di Selat Hormuz. Selain itu, mereka juga membahas materi yang menetapkan Teheran harus menyingkirkan ranjau dari Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.
Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz. Penutupan Hormuz menyebabkan harga minyak meroket dan memicu krisis energi.
Adapun AS, sesuai kesepakatan itu, secara bertahap akan mencabut blokade atas pelabuhan-pelabuhan Iran. AS juga setuju melonggarkan sanksi atas Iran.
Terkait perkembangan terbaru itu, Iran belum memberikan pernyataan apa pun. Mengutip sejumlah sumber, kantor berita Tasnim mengatakan, naskah kesepakatan tersebut belum final. Iran mengatakan, Pakistan akan diberi tahu jika kesepakatan tercapai.
Sumber-sumber Iran yang dikutip oleh media lokal mengatakan, kesepakatan apa pun hanya akan lengkap ketika diumumkan oleh Teheran, bukan secara sepihak oleh Trump.
Terkait isu nuklir, Iran belum secara terbuka berkomitmen untuk menyerahkan persediaan uranium yang mereka miliki. Persediaan itu diyakini terkubur di bawah tiga situs nuklir yang rusak parah akibat serangan udara AS pada Juni 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/18/b9e42b9b61e6fd00c6af4b0b692b75d5-Iran_US_1_.jpg)
Para analis nuklir mengatakan, Iran mungkin mempertimbangkan China atau Rusia sebagai pihak ketiga yang dapat dipercaya mengambil alih uranium Iran. Sebagaimana diketahui, Rusia dan China merupakan mitra dekat Teheran.
Namun, pada rapat kabinet Rabu (27/5/2026), Trump menegaskan, ia tidak nyaman dengan rencana tersebut. Meskipun sejak awal perang Trump dan timnya mengatakan tujuan mereka menyerang Iran adalah untuk memastikan negara itu tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Di sisi lain, Iran telah berulang kali menegaskan bahwa program nuklir mereka semata-mata untuk tujuan damai. Oleh karena itu, Teheran berkeras bahwa serangan atas Iran, termasuk serangan Israel di Lebanon, harus dihentikan. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan