Program Nuklir Nyaris Lumpuh, Iran Siap Kembali Berunding

Pentagon mengklaim serangan ke Iran mengakibatkan program nuklir tertunda dua tahun. Intelijen Perancis menilai program Iran hanya tertunda beberapa bulan.

09 Jul 2025 10:30 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

PARIS, RABU — Program nuklir Iran nyaris lumpuh akibat serangan Amerika Serikat. Pemerintah Iran siap menempuh jalur diplomasi yang terganggu akibat serangan Israel. Mengutip pernyataan Direktur Badan Intelijen Perancis, DGSE, Nicolas Lerner, kepada kantor berita AFP, Rabu (9/7/2025), menyebutkan, program nuklir Iran akan ”macet” hingga berbulan-bulan.

”Riset Iran bisa tertunda beberapa bulan akibat kerusakan yang menimpa fasilitas nuklir mereka,” kata Lerner, Selasa kemarin, di Paris, Perancis. Lerner menambahkan, dari data keberadaan 450 kilogram material uranium yang diperkaya milik Iran, masih banyak yang berhasil diselamatkan dari serangan Israel dan AS.

Sebagaimana disebutkan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), sebelum diserang Israel dan AS, Iran diketahui melakukan pengayaan uranium hingga 60 persen. Kadar uranium untuk senjata nuklir setidaknya mencapai 90 persen. Meskipun demikian, IAEA menegaskan, Iran tidak membuat senjata nuklir.

Namun, Israel dan AS tampaknya memiliki pertimbangan sendiri dan memutuskan menyerang situs-situs nuklir Iran, termasuk pusat pengayaan uraium Iran, Fordo. Pascaserangan, Presiden AS Donald Trump mengklaim fasilitas nuklir Iran hancur. Berdasarkan analisis intelijen, tahapan pengayaan uranium hingga menjadi hulu ledak senjata nuklir terhambat akibat serangan AS.

This handout photo released by the US Air Force on June 23, 2025 shows a US Air Force B-2 Spirit being recovered after supporting Operation "Midnight Hammer" at Whiteman Air Force Base, Missouri, on June 22, 2025. Seven stealth bombers were used in the US attack against Iranian nuclear sites, which apparently saw little response by Iran's military, top general Dan Caine said on June 22. Describing the complex operation, dubbed "Midnight Hammer," Joint Chiefs Chairman Dan Caine said the "main strike package comprised of 7 B-2 Spirit bombers" flying 18 hours from the US mainland to Iran with multiple aerial refuelings. (Photo by US AIR FORCE / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / US AIR FORCE " - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

”Program nuklir Iran yang kita ketahui kini sangat terlambat dan terhambat. Analisis kita harus semakin diperkuat untuk mengetahui perkembangan yang terjadi di Iran,” ujar Lerner kepada stasiun TV LCI. Dia mengatakan, tidak ada badan intelijen yang bisa langsung melakukan pengumpulan data hingga membuat analisis atas suatu hal yang baru terjadi.

Lerner mengingatkan agar terus waspada terhadap keberadaan bahan baku nuklir Iran. Dia khawatir Iran meneruskan program nuklir secara diam–diam.

Bila kajian intelijen Paris menilai program nuklir Iran bakal terhambat dalam hitungan bulan, Kementerian Pertahanan AS justru mengklaim menghambat proyek nuklir Iran setidaknya selama dua tahun. Penilaian Paris senada dengan laporan berbagai media di AS yang mengatakan, serangan ke Iran mengakibatkan riset nuklir Iran tertunda hanya beberapa bulan saja.

Jalur diplomasi

Terkait program nuklir Iran, sebagaimana diungkapkan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, Teheran tetap tertarik pada jalur diplomasi. Dalam artikelnya untuk harian Financial Times Inggris, Araqchi mengungkapkan bahwa Iran dan AS sebetulnya nyaris mencapai kesepakatan sebelum akhirnya dimentahkan oleh serangan Israel ke Iran pada 13 Juni 2025.

Serangan terjadi kurang dari dua hari jelang putaran keenam perundingan AS-Iran. Serbuan Israel itu lantas dibalas Iran dan konflik pun berlangsung selama 12 hari. Setelah Israel kewalahan dengan rusaknya beragam fasilitas di Tel Aviv dan Haifa oleh Iran, AS ikut turun tangan dengan mengebom Fordo, Natanz, dan Isfahan, tiga situs nuklir utama milik Iran.

Dalam artikel itu, Araqchi memuji diplomasi Trump. Lima pertemuan yang diikutinya bersama untusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff. mencatatkan banyak perkembangan signifikan bila dibandingkan empat tahun perundingan dengan pemerintahan Joe Biden.

This handout picture provided by the Iranian Ministry of Foreign Affairs shows Iran's Foreign Minister Abbas Araghchi (L) meeting with Oman's Foreign Minister Sayyid Badr al-Busaidi in Muscat on April 12, 2025. Iran's top diplomat arrived in Oman on April 12 and began laying the groundwork for high-stakes nuclear talks with the United States that are unfolding under the threat of military action. (Photo by Iran's Ministry of Foreign Affairs / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  IRAN'S MINISTRY OF FOREIGN AFFAIRS" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Araqchi mengakui telah menerima pesan dari AS yang menyatakan siap kembali berunding. Dia mengingatkan, AS adalah satu dari enam negara yang menandatangani kesepakatan nuklir dengan Iran tahun 2015. Namun, AS secara sepihak mundur dari kesepakatan itu di tahun 2018 di bawah Presiden Trump.

”Iran tetap berharap dapat berunding dengan tujuan baik dan saling percaya. Jika ingin menyelesaikan ini secara bersahabat, AS harus jujur dan mengajukan usulan yang adil,” kata Araqchi.

Dalam pertemuan antara Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu, Senin malam, di Gedung Putih, Trump mengatakan kepada wartawan, dirinya sudah menyiapkan jadwal perundingan dengan Iran. Trump kepada wartawan berkata, ingin mencabut sanksi terhadap Iran. ”Saya ingin ini berakhir, (sanksi) dicabut pada waktu yang tepat,” kata Trump.

Selanjutnya Steve Witkoff menerangkan, pertemuan segera dilakukan pekan depan dengan Iran. Upaya AS agar perundingan kembali dibuka sepertinya disambut baik Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam wawancara Senin lalu mengatakan, Iran dapat mengatasi perbedaan dengan AS melalui perundingan.

Secara terpisah, diplomat Perancis mengatakan, Eropa Barat siap menjatuhkan kembali sanksi PBB terhadap Iran jika tidak tercapai kesepakatan nuklir yang menjamin keamanan Eropa.

Informasi tersebut disampaikannya setelah bertemu Menlu Perancis Jean-Noel Barrot dan Menlu Inggris David Lammy dalam KTT Inggris-Perancis.

(Reuters/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan