Manchester City sulit bersaing untuk juara Liga Inggris dengan pertahanan rapuh. ”The Citizens” tak pernah juara dengan catatan bobol lebih dari 0,9 gol per laga.
03 Des 2025 10:45 WIB · Olahraga
AFP/Ben STANSALL
Parade gol dialami Manchester City dalam dua pertandingan terakhir di Liga Inggris. ”The Citizens” mencetak delapan gol, tetapi kemasukan enam gol. Meskipun mampu mengemas enam poin dari dua pertandingan tersebut, jumlah kebobolan yang amat besar itu adalah sinyal bahaya bagi kans Manchester City untuk meraih kembali takhta juara di kancah domestik.
City membawa pulang keunggulan 5-4 dari kandang Fulham, Stadion Craven Cottage, London, Rabu (3/12/2025) WIB. Hasil itu membantu City memangkas selisih poin dari Arsenal, pemuncak klasemen, menjadi dua poin. Arsenal masih akan menjalani duel derbi London kontra Brentford, Kamis (4/12/2025) dini hari WIB.
Secara total, City telah gagal menjaga nirbobol gawang mereka sejak melumat Liverpool 3-0, 9 November lalu. Mereka selanjutnya kemasukan dua gol yang berujung kekalahan dari Newcastle United dan Bayer Leverkusen di Liga Champions.
Secara kualitas pertahanan, Leeds dan Fulham tidak sebaik Newcastle dan Leverkusen. Itu menyebabkan City masih dinaungi keberuntungan bisa mengalahkan dua tim semenjana di Liga Inggris itu.
Di sisi lain, kemasukan enam gol menghadapi dua tim itu mengindikasikan kekacauan di lini pertahanan City. Gawang mereka menjadi rapuh setelah unggul setidaknya dua gol.
Leeds bahkan menyamakan skor menjadi 2-2 sebelum Phil Foden mengunci kemenangan 3-2. Adapun Fulham nyaris melenyapkan tiga poin The Citizens setelah unggul 5-1. Fulham mencetak tiga gol hanya dalam kurun waktu 21 menit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/03/cc8258103cf9bed362db2004b66fcd47-wires_photo_41_.jpg)
Kemasukan setelah unggul itu menunjukkan menurunnya fokus pemain-pemain City. Kendala itu merupakan masalah psikologis yang bukan perkara mudah untuk dibenahi oleh Manajer City Pep Guardiola sendirian.
”Pada akhirnya, memang ada pertanyaan untuk karakter, ketangguhan, dan pertahanan kami. Saya juga tidak tahu apa yang terjadi. Kami harus lebih beruntung,” ujar Guardiola seusai laga kepada BBC.
Enam kemasukan dalam dua laga terakhir benar-benar didasari blunder yang diciptakan pemain City. Empat gol utamanya tercipta akibat kelemahan The Citizens memenangi duel bola kedua (second ball) di sepertiga akhir pertahanan sendiri.
Leeds mencetak gol pertama setelah sapuan pemain City jatuh di kaki pemain Leeds. Kemudian, tiga gol terakhir Fulham juga disebabkan kegagalan City memperebutkan bola kedua setelah berusaha menjauhkan bola dari gawang mereka dalam situasi umpan silang Fulham.
Alex Iwobi dan dua kali Samuel Chukwueze berada di posisi yang tepat untuk menerima bola sapuan pemain City. Mereka menyempurnakan penempatan posisi itu dengan tembakan kali pertama yang menghunjam ke gawang City tanpa bisa dikawal kiper Gianluigi Donaruma.
”Semua gol (Fulham) tercipta akibat pertahanan yang buruk. Kami terlalu dalam bertahan untuk mengantisipasi umpan silang mereka. Kami juga harus memanfaatkan ruang-ruang pertahanan lebih baik,” tutur Guardiola.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/03/6cc29ef4359139e68320299bd7ed05bf-wires_photo_42_.jpg)
Jika merujuk statistik di Liga Inggris 2025-2026, catatan pertahanan City tidak terlalu buruk. Potensi gol yang tercatat dalam expected goals against (xGA) salah satu yang terendah. City hanya koleksi 15,1 xGA yang menyebabkan peluang gol lawan hanya lebih buruk dari Arsenal (7 xGA).
Namun, City sudah kemasukan 16 gol dari jumlah peluang yang dihadapi lawan. City rerata sudah kemasukan 1,1 gol per laga di Liga Inggris musim ini.
Catatan itu sudah nyaris serupa dengan 1,2 gol per laga pada musim lalu ketika mereka finis di peringkat ketiga dan berselisih 13 poin dari Liverpool, sang juara.
Dalam enam musim yang diakhiri City dengan raihan titel liga di rezim Guardiola, mereka tidak pernah menorehkan rerata kemasukan lebih dari 0,9 gol per pertandingan. Angka itu tercipta pada dua musim terakhir City juara liga pada 2022-2023 dan 2023-2024.
Pertahanan City hanya berada di peringkat keenam dalam peringkat rata-rata kemasukan per laga. The Citizens tertinggal dari Arsenal (0,5 gol per laga), Crystal Palace (0,8), Aston Villa (0,8), Chelsea (0,9), dan Sunderland (1).
Dalam catatan nirbobol, City baru mencatatkan lima laga tidak kemasukan. Empat dari liga laga tanpa kemasukan itu tercipta justru pada sembilan laga awal Liga Inggris musim ini.
Di sisi lain, Guardiola perlu membenahi koordinasi kolektif lini bertahan timnya lalu memastikan setiap pemain bertahan tampil dengan kemampuan terbaik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/03/a62646c43650bc97e622d87a58830c25-wires_photo_36_.jpg)
Pasalnya, pemain-pemain City sudah melakukan 10 blunder yang berujung tembakan lawan di Liga Inggris. Dari jumlah blunder itu, tiga kesalahan di antaranya berbuah gol lawan.
Jumlah itu amat besar karena City hanya mengalami 9,4 tembakan per pertandingan atau 132 tembakan secara keseluruhan. Dari kuantitas tembakan itu, sebanyak 75 persen lawan mampu menghasilkan tembakan di dalam kotak penalti The Citizens.
”Masalah utama City adalah mereka terlalu mudah membiarkan lawan menciptakan peluang,” tutur Alan Shearer, legenda sepak bola Inggris, kepada BBC.
Hal serupa juga disampaikan eks penyerang Crystal Palace, Clinton Morrison. Ia tidak khawatir tentang kemampuan City mencetak gol di setiap pertandingan. Kata Morrison, The Citizens wajib membenahi performa pertahanan.
”Anda tidak bisa berharap memenangkan Liga Inggris ketika bertahan seperti ditunjukkan City dalam beberapa laga terakhir. Tentu, kita tidak akan menyaksikan Arsenal kemasukan tiga gol lagi setelah unggul 5-1, jadi kesalahan bertahan harus dikurangi,” kata Morrison. (AFP)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan