Kasus dugaan kekerasan seksual dan fisik di pelatnas panjat tebing membawa pada kesadaran bahwa prestasi tak lebih berharga dari keutuhan jiwa para atletnya.
05 Apr 2026 07:00 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
Raharjati Nursamsa mengundang tawa rekan sesama atlet dan pelatih-pelatihnya ketika membawa berlari gawang atau rintangan di sesi latihan, Kamis (2/4/2026) sore. Seharusnya, juara seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di Krakow, Polandia, ini melompati semua gawang sebelum lari cepat. Namun, kakinya mengenai dan menjatuhkan gawang pada lompatan terakhir.
Raharjati dan para atlet panjat tebing disiplin speed menjalani latihan pekan terakhir sebelum Kejuaraan Asia 2026 di China yang jadi kualifikasi Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Sore itu, mereka berlatih plyometric dengan menggunakan beberapa alat, termasuk gawang.
Galar Pandu Asmoro, pelatih dan asisten pelatih disiplin speed, mengatakan, sesi latihan tersebut tergolong ringan. Para atlet sudah memasuki fase tapering atau pengurangan volume dan intensitas latihan sebelum perlombaan yang akan dimulai pada 8 April mendatang.
Di samping intensitas yang tidak terlalu tinggi, suasana latihan juga terasa santai. Para atlet lebih banyak tertawa, baik menertawakan diri sendiri yang melakukan hal konyol saat mencoba alat maupun menertawakan rekan sesama atlet.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/03/187151a4-3b22-44d8-9c8e-f61f8273a7cd.jpg)
”Anak-anak kayak lebih ekspresif saja, sih, sekarang. Jadi, selain saling menyemangati, juga saling menertawakan kalau ada yang lucu. Suasananya enggak tegang. Pelatih juga membolehkan (untuk ekspresif),” kata pemanjat putri Rajiah Sallsabillah.
Dengan suasana seperti itu, kata Rajiah, para atlet bisa lebih leluasa mengeluarkan perasaan mereka. Mereka juga mudah menerima kebahagiaan yang datang saat latihan.
Bagi orang yang melihat latihan itu tanpa tahu apa yang terjadi dalam dua bulan terakhir di panjat tebing, ia mungkin tidak akan menyadari bahwa para atlet yang tertawa itu pernah melewati momen yang berat. Tim panjat tebing Indonesia, yang mencapai puncak prestasi dengan meraih medali emas di Olimpiade Paris 2024 ini, dihantam kasus kekerasan seksual dan fisik.
Kasus yang diduga dilakukan pelatih kepala sebelumnya, Hendra Basir, ini diinvestigasi oleh tim pencari fakta internal Federasi Panjat Tebing Indonesia. Selain itu, kasus tersebut juga masuk ke ranah hukum setelah dilaporkan ke Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia. Lima atlet yang melapor telah dimintai keterangan dan menjalani visum.
Selama proses simultan itu berjalan, para atlet tetap melanjutkan latihan dengan tim kepelatihan yang baru dibentuk. Mereka sudah mulai berlatih sejak awal Maret untuk persiapan sejumlah agenda kompetisi pada 2026, termasuk Kejuaraan Asia.
Adapun di bawah kepemimpinan Hendra, latihan berjalan cenderung serius. Ketua Umum FPTI Yenny Wahid bahkan menyebut situasinya menakutkan. Meski begitu, dalam beberapa kesempatan, para atlet juga sebelumnya tampak tetap bisa bercanda dan berbagi tawa sebelum atau di sela-sela istirahat.
Namun, FPTI menduga Hendra memanfaatkan posisinya yang dominan sebagai pelatih kepala untuk menciptakan situasi menakutkan itu. Relasi kuasa yang timpang pun pada akhirnya mendorong terciptanya kekerasan dalam latihan.
Sejak pengumuman perombakan kepelatihan setelah kasus dugaan kekerasan seksual dan fisik di pemusatan latihan nasional panjat tebing, ada semacam kesadaran baru yang muncul di FPTI. Kata kunci yang selalu didengungkan adalah bahagia.
Pertama-tama, atlet haruslah bahagia, di samping aman dan nyaman dalam berlatih. Tuntutan prestasi mesti sejalan dengan perlindungan maksimal dan kenyamanan atlet.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/03/eb540244-f475-4556-99e7-5bfa48522554.jpg)
FPTI, yang secara tidak langsung bertanggung jawab karena ”kecolongan” dengan adanya dugaan kekerasan di lingkungan pelatnas, lantas merombak tim kepelatihan dan menyusun peraturan yang berpihak pada atlet. ”Kami berkomitmen untuk melakukan transformasi secara komprehensif organisasi FPTI, melakukan pembenahan secara utuh,” ujar Yenny.
”Kami akan membuat berbagai macam aturan untuk memastikan bahwa atlet aman, terlindungi, dan mereka bisa berlatih secara nyaman dan bahagia. Kita tidak boleh hanya menuntut atlet berprestasi, tetapi tidak memberikan perlindungan maksimal kepada mereka,” tuturnya lagi.
Bayu Tresno, bagian dari tim transisi sekaligus tim monitoring dan evaluasi, juga mengatakan, ekosistem yang ingin dibentuk adalah lingkungan latihan yang tidak hanya aman dan nyaman, tetapi juga membahagiakan. Hal itu pula yang disebut Galar jadi landasan program latihannya.
”Saya ingin mengubah pola sebelumnya agar lebih aman, nyaman, dan bahagia. Harus ada saling percaya di antara pelatih dan atlet. Namun, beberapa aturan tentang kedisiplinan tetap dipertahankan,” ucap Galar.
Galar berjanji menempatkan atlet sebagai partner dalam latihan. Artinya, program latihan bukan sesuatu yang berjalan satu arah. Atlet juga bisa meminta diskusi atau menyampaikan pendapat tentang program latihan.
Di sisi lain, sejumlah aturan ketat yang selama ini sudah dijalankan, termasuk pengumpulan ponsel sebelum tidur, akan tetap dipertahankan. Hanya ada kelonggaran di beberapa aspek yang, menurut dia, bertujuan untuk menjaga kondisi hati para atlet.
Selain latihan yang mencoba menghindarkan suasana tegang, Galar juga menerapkan beberapa program latihan baru, seperti latihan plyometric. Selama beberapa tahun terakhir, latihan ini tidak pernah lagi diterapkan pada era kepelatihan sebelumnya.
Atlet putri Kadek Adi Asih mengatakan, dengan program baru, latihan menjadi lebih variatif. Meski awalnya tidak mudah menerima perubahan, termasuk perubahan kebiasaan latihan, lama-lama Asih terbiasa dengan sistem yang baru.
Program latihan ini juga berpadu dengan keputusan melibatkan perempuan pelatih Fitriyani. Peraih medali emas panjat tebing nomor estafet putri di Asian Games Jakarta-Palembang 2018 ini tak hanya berperan membantu Galar sebagai asisten pelatih.
Fitriyani juga diharapkan jadi sosok yang bisa membuat atlet putri merasa lebih nyaman dan aman saat berlatih. ”Saya memosisikan diri juga sebagai orang yang bisa jadi tempat mereka bercerita, terutama untuk hal-hal sensitif terkait perempuan,” ujarnya.
”Namun, yang terpenting sebenarnya pada masa transisi ini adalah penerimaan mereka. Ketika mereka menerima program yang kami buat, ini modal awal agar semua bisa berjalan. Mereka bisa nyaman dan pada akhirnya bisa mendorong performa terbaiknya,” ucap Fitriyani.
Prestasi tak pernah lebih berharga daripada keutuhan jiwa manusia yang mengejarnya. Karena hati yang merdeka dan bahagia bagai tali pengaman paling utama untuk mereka memanjat menuju puncak apa pun, termasuk puncak prestasi.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti