Lee baru dilantik pada Juni lalu. Merundingkan tarif, pertahanan, dan investasi dengan Trump untuk pertama kali menekan kemampuan diplomasi Lee.
25 Agt 2025 19:00 WIB · Internasional
SEOUL, SENIN — Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Senin (25/8/2025) bertolak ke Washington DC, Amerika Serikat. Ia akan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump untuk membicarakan persoalan tarif impor balasan. Industri perkapalan AS dan skema pertahanan Korsel diperkirakan menjadi faktor penting yang dipertimbangkan.
Ini pertemuan pertama Lee dengan Trump. Direncanakan, ia tiba di Gedung Putih pada Senin waktu Washington DC atau Selasa (26/8/2025) waktu Indonesia. Lee baru dilantik untuk memimpin Korsel per 4 Juni 2025. Ia terpilih menggantikan Presiden Korsel 2022-2025 Yoon Suk Yeol yang dimakzulkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/09/d76fc95007e62559df4f9d7f56336e57-Pictures_of_the_Week_Global_Photo_Gallery_130309707.jpg)
Trump menetapkan tarif impor balasan terhadap semua negara mitra dagang AS, termasuk Korsel. Ia menjatuhkan tarif 25 persen. Delegasi Korsel kemudian terbang ke Washington DC untuk berunding. Per 31 Juli 2025, mereka menyepakati tarif diturunkan menjadi 15 persen untuk semua komoditas dari Korsel, mulai dari daging sapi hingga mobil.
”Sejauh ini AS terlihat dalam suasana hati yang senang terhadap kita,” kata Lee kepada para wartawan di atas pesawat kepresidenan Korsel dan dikutip oleh Bloomberg.
Salah satu faktor penting yang bermain di dalam perundingan tarif Lee dengan Trump adalah janji Seoul menginvestasikan dana 350 miliar dollar AS di ”Negara Paman Sam” itu. Investasi itu bisa berupa perusahaan Korsel membangun pabrik di AS atau sebatas mengucurkan modal kepada perusahaan-perusahaan di negara tersebut.
Korsel melalui perusahaan teknologi Samsung sudah membangun pabrik di AS di masa pemerintahan Presiden AS 2021-2025 Joe Biden. Dari janji 350 miliar dollar AS itu, sebanyak 150 miliar dollar AS dijanjikan Seoul untuk merevitalisasi industri perkapalan AS.
Menurut data lembaga Rand, secara keseluruhan 90 persen industri perkapalan dunia dikuasai oleh Jepang, Korsel, dan China. Subsidi dari pemerintah negara masing-masing memungkinkan produksi yang masif dan efisien.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/18/db0397b8-5d2b-448f-bdf0-8506ae6ce65b.jpg)
Sebaliknya, industri perkapalan di AS mati suri sejak era 1980-an. Presiden ketika itu, Ronald Reagan, menghentikan subsidi. Walhasil, Angkatan Laut AS terseok-seok memenuhi kebutuhan armadanya apabila bergantung pada industri dalam negeri. Mereka akhirnya mengimpor kapal-kapal militer dari negara-negara sahabat, terutama Korsel dan Jepang.
Menurut laman AL AS, ada 296 kapal yang dioperasikan oleh angkatan tersebut. Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) mendata, AL Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) memiliki 370 kapal. Ini menjadikan AL PLA yang terbesar di dunia.
Trump ingin mengembalikan kejayaan industri perkapalan AS. Para pendukungnya pun memiliki istilah khusus, yakni Menjadikan Perkapalan AS Hebat Kembali (Make American Shipbuilding Great Again/MASGA).
”Ini kesempatan yang baik bagi Korsel. Apalagi, ini benar-benar terkait keahlian negara kita,” kata dosen arsitektur perkapalan Universitas Nasional Seoul, Rhee Shin-yung, kepada harian The Washington Post.
Isu besar lainnya yang akan dibahas Lee dengan Trump mengenai pertahanan Korsel. Ada 28.500 tentara AS yang berdinas di Korsel. Mereka di sana sebagai efek penggentar terhadap Korea Utara.
Trump sejak masa kampanye pemilihan presiden 2024 mengatakan, mengirim tentara AS untuk berdinas di luar negeri membuang-buang waktu dan uang. Bahkan, ia mengatakan, Seoul hanya mendompleng keperkasaan AS.
Oleh sebab itu, Trump berniat memaksa Korsel meningkatkan anggaran pertahanan mereka sebesar 1 persen dari produk domestik bruto (PDB) menjadi 5 persen PDB. Pada 2024, di akhir masa jabatan Biden, Seoul dan Washington DC meneken perjanjian yang menyebutkan, Korsel bersedia meningkatkan anggaran pertahanan menjadi 1,89 persen PDB. Per akhir 2025, Korsel menargetkan menaikkan anggaran pertahanan mereka menjadi 2,3 persen PDB.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/04/f5ada48d8fed05aa6445b7dc1457b86b-wires_photo_2025_08_04T173711.280.jpg)
Penasihat Keamanan Presiden Korsel Wi Sung-lac menuturkan, Korsel dan AS tetap dekat dan teguh membendung perkembangan pengayaan nuklir Korut. Khusus hal yang satu itu, terlepas dinamika geopolitik, kedua negara tetap berdiri di titik yang sama.
”Korsel selalu memberi yang terbaik di segi kerja sama menghadang Korut,” kata Wakil Menteri Pertahanan AS Elbridge Colby.
Namun, berbeda jika pembahasan menyasar isu China. Delegasi Korsel yang dipimpin oleh mantan Ketua DPR Park Byong-seung tengah berada di Beijing untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi. Seoul dan Beijing ingin menormalkan kembali hubungan mereka. Kerja sama ekonomi dan penguatan rantai pasok adalah konsentrasi kedua negara.
Ini yang membuat Korsel agak susah apabila Trump meminta mereka menjaga jarak dengan China. Justru, tiga negara di Asia Timur, yaitu Korsel, China, dan Jepang, semakin mempererat komunikasi sejak Trump menjatuhkan tarif impor balasan pada April 2025. (AFP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto