Kompas.id Brief

Pertukaran Sandera,  Efektifkah Jaga Gencatan Senjata Gaza?

Memasuki hari sembilan, gencatan senjata di Gaza masih berlaku. Akan tetapi, di tiap tahap pertukaran tahanan dan sandera, ada pertaruhan gencatan itu gagal.

27 Jan 2025 11:52 WIB · Internasional

Oleh Irene Sarwindaningrum

Apa yang bisa anda pelajari dari artikel ini?

  1. Mengapa gencatan senjata rapuh sejak awal
  2. Apa yang membuat gencatan senjata sempat tertunda?
  3. Seperti apa ketegangan pertukaran sandera dan tahanan?
  4. Jeda di Gaza, mengapa Israel beralih menggempur Tepi Barat?
  5. Kendala apa yang terjadi pada pertukaran tahap kedua?
  6. Bagaimana reaksi warga terhadap pembebasan sandera dan tahanan?

Mengapa gencatan senjata rapuh sejak awal?

copy title

Sejak awal, gencatan senjata di Gaza sudah begitu rapuh. Tarik-ulur terjadi di pemerintahan Israel. Kelompok ekstrem kanan di kabinet Israel menolak kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera. Di bawah tekanan dalam dan luar negeri, kabinet Israel akhirnya menyetujui kesepakatan yang ditengahi Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat pada Minggu (19/1/2025).

Namun, Israel terkesan melakukannya dengan setengah hati. Sembilan hari berlalu, gencatan senjata Gaza masih berlaku. Setiap pertukaran sandera selalu diwarnai ketegangan oleh ulah Israel, mulai dari mengancam melanjutkan perang, menembaki pengungsi Palestina yang akan pulang, dan serangan yang makin intensif pada warga Palestina di luar Gaza.

Walau Israel dan Hamas masih bersitegang soal beberapa hal yang menjadi ganjalan, Amerika Serikat dan Qatar menegaskan, gencatan senjata tahap 1 mulai diberlakukan Senin (20/1/2025) selama 42 hari.

Hamas melepaskan 33 sandera perempuan, termasuk 5 prajurit perempuan dan pria yang berumur di atas 50 tahun. Sementara Kementerian Kehakiman Israel memutuskan, sebanyak 737 tahanan Palestina akan dibebaskan dalam gencatan senjata tahap 1.

Apa yang membuat gencatan senjata sempat tertunda?

copy title

Gencatan senjata yang sudah di depan mata belum terwujud setelah Israel, Minggu (19/1/2025), mengumumkan penundaan. Alasannya, Hamas gagal memberi nama tiga sandera yang dibebaskan tepat waktu. Selama tiga jam penundaan, Israel menggempur Gaza dengan bom dari udara dan serangan darat tanpa ampun.

Seperti dilaporkan media Al Jazeera, sebanyak 19 warga Gaza tewas akibat serangan Israel selama penundaan itu saja. Lebih dari 30 warga Gaza terluka akibat serangan itu. Ketakutan seketika menyebar di seluruh Gaza, menghalau kebahagiaan yang awalnya meliputi pengungsi menyambut gencatan senjata.

Scores of displaced Palestinians walk along a road in the Saftawi area of Jabalia, as they leave areas near Gaza City where they had taken refuge, toward the further northern part of the Gaza Strip, shortly after a ceasefire deal in the war between Israel and the Palestinian militant group Hamas was expected to be implemented. The long-awaited ceasefire in the Israel-Hamas war was delayed January 19 after Prime Minister Benjamin Netanyahu said at the last minute that it would not take effect until the Palestinian militant group provided a list of the hostages to be released. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Hamas melalui pernyataan tertulis mengatakan, tertundanya penyerahan nama sandera yang akan dibebaskan terkait masalah teknis di lapangan. ”Bisa sewaktu-waktu, nama-nama tiga sandera akan diserahkan, tetapi kompleksitas situasi di lapangan dan pengeboman terus-menerus telah menunda (penyerahan nama-nama) itu,” demikian pernyataan Hamas.

Seperti apa ketegangan pertukaran sandera dan tahanan?

copy title

Israel membebaskan tiga perempuan untuk tahap pertama, yakni Romi Gonen (25), Doron Steinbrecher (31), dan Emily Damari (28). Saat pembebasan, ribuan orang mengerumuni sejumlah kendaraan dalam konvoi di jalanan Gaza karena mereka ingin melihat dari dekat sandera yang dibebaskan.

This image grab from a handout video released by the Hamas Media Office shows Israeli hostages (L to R) Emily Damari, Romi Gonen, and Doron Steinbracher, who were abducted by Palestinian militants during the October 7, 2023 attacks, sitting in a Hamas vehicle before being handed over to the International Committee of the Red Cross (ICRC) in the Gaza Strip on January 19, 2025 after a ceasefire and hostage-prisoner exchange deal in the war between Israel and Hamas was implemented. The first three Israeli hostages were released on January 19 under a long-awaited Gaza truce aimed at ending more than 15 months of war that has ravaged the Palestinian territory. (Photo by HAMAS MEDIA OFFICE / AFP) / == RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / HAMAS MEDIA OFFICE" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS ==

Ada satu momen yang menarik perhatian. Damari dan Gonen, masing-masing mengenakan baju terusan berwarna hijau dan merah muda, tampak tersenyum kepada seorang anggota Hamas yang berada di sisi kanan mereka saat turun dari kendaraan sebelum berpindah ke kendaraan yang disiapkan oleh ICRC.

Satu pertukaran saja menghabiskan energi dan pertaruhan gencatan gagal yang begitu besar. Perjalanan ke depan diyakini masih akan bergelombang. Sebab, masih ada 30 orang yang harus dibebaskan oleh Hamas dan lebih dari 1.000 tahanan Palestina di Israel yang juga masih mendekam di penjara.

Jeda di Gaza, mengapa Israel beralih gempur Tepi Barat?

copy title

Baru dua hari gencatan senjata di Gaza, Israel menyerbu Tepi Barat. Dengan dukungan armada helikopter serbu, militer Israel menyerang Kota Jenin, Tepi Barat. Lembaga CAIR menyebut Israel menjadikan Jenin sebagai "Gaza berikutnya".

Serangan ke Tepi Barat tak sebatas untuk mengusir rakyat Palestina dari tanah airnya. Ini juga berarti jalan keluar krisis politik Netanyahu.

Penyerbuan itu menewaskan sembilan warga sipil, termasuk anak berusia 16 tahun. Puluhan orang juga terluka.

Israeli troops detain a Palestinian man at a checkpoint as Israeli authorities close an entrance to the occupied West Bank city of Hebron, on January 22, 2025. Violence has surged throughout the occupied West Bank since the Gaza war erupted on October 7, 2023. According to the Palestinian health ministry, Israeli troops or settlers have killed at least 848 Palestinians in the West Bank since the Gaza conflict began. Meanwhile, at least 29 Israelis have been killed in Palestinian attacks or during Israeli military operations in the territory during the same period, according to official Israeli figures. (Photo by HAZEM BADER / AFP)

Militer Israel menamainya operasi Tembok Besi. Serangan ke Tepi Barat dipandang sebagai upaya Netanyahu menata kembali kekuasaannya yang mulai goyah pascagencatan senjata di Gaza, terutama dari kelompok sayap kanan yang pernah mendukungnya.

Koalisi Netanyahu yang lemah bisa jadi membuka jalan untuk pemilu yang lebih awal. Selain itu, goyahnya koalisi membuat Netanyahu rentan terhadap tuduhan korupsi yang sudah berlangsung lama.

Kendala apa yang terjadi pada pertukaran tahap kedua?

copy title

Pertukaran sandera Israel dan tahanan Palestina kembali diwarnai kekerasan oleh Israel. Pasukan Israel menembaki pengungsi Palestina yang akan pulang ke Gaza utara di Koridor Netzarim.

Setidaknya satu pengungsi Palestina tewas, dua lainnya terluka. Ratusan ribu pengungsi Palestina terjebak di jalan karena Israel memblokade jalur pulang mereka itu dengan tank dan kendaraan lapis baja.

Israel menyatakan menghalangi pengungsi kembali ke rumah mereka di utara Jalur Gaza hingga seorang sandera sipil bernama Arbel Yehud (29) dibebaskan.

Displaced Palestinians gather with their belongings near a roadblock on the al Rashid Street, as they wait to return to their homes in the northern part of the Gaza Strip, Sunday, Jan. 26, 2025, days after the ceasefire deal between Israel and Hamas came into effect. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Pada Sabtu (25/1/2025), Hamas telah membebaskan empat prajurit perempuan yang ditukar dengan pembebasan 200 tahanan warga Palestina di penjara Israel.

Sumber Hamas mengatakan, sandera perempuan yang diminta Israel itu akan dibebaskan pada pertukaran tahap ketiga yang dijadwalkan pada 1 Februari. Masalah terjadi, menurut Hamas, lagi-lagi karena kendala teknis di lapangan. Jalur komunikasi Hamas yang sangat hati-hati untuk menghindari deteksi Israel membuat komunikasi mereka rumit dan panjang.

Bagaimana reaksi warga terhadap pembebasan sandera dan tahanan?

copy title

Di balik setiap ketegangan, ada haru dan bahagia. Kepulangan para tahanan Palestina yang ditukar sandera Israel merupakan perayaan di atas reruntuhan Gaza.

Warga Palestina juga berkumpul di Ramallah, pusat pemerintahan Otoritas Palestina di Tepi Barat. Mereka meluapkan kegembiraan saat puluhan sandera tiba dengan bus dari penjara.

Sementara di Tel Aviv, Israel, air mata, tepuk tangan, dan sorak-sorai memenuhi alun-alun kota itu. Warga Israel menonton pembebasan empat perempuan tentara Israel oleh Hamas dari sebuah layar televisi di Hostage Square.


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W