Trump Desak Negosiator Perdamaian Bergerak Cepat

Perundingan akan berfokus pada pembebasan sandera dengan pertukaran tahanan. Selanjutnya Israel harus menarik pasukannya dari Gaza.

06 Okt 2025 10:11 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

WASHINGTON DC, SENIN — Hamas dan Israel siap bernegosiasi terkait perang di Jalur Gaza, Senin (610/2025). Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak para negosiator segera bergerak cepat melakukan perundingan dengan tahap pertama ditargetkan selesai pekan ini.

Seperti diketahui, Presiden Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (29/9/2025) mengumumkan rencana perdamaian di Jalur Gaza. Proposal perdamaian, merujuk media NPR, terdiri atas 20 poin.

Poin-poin yang diusulkan Trump itu antara lain menghentikan pertempuran dan pembebasan semua warga Israel yang disandera Hamas dalam waktu 72 jam. Di sisi lsin, Israel akan membebaskan warga Palestina yang mereka tahan.

Dalam serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023, Hamas menyandera 251 orang. Sebanyak 47 sandera di antaranya masih berada di Gaza. Dari jumlah tersebut, militer Israel mengatakan 25 orang tewas. Menurut rencana Trump, sebagai imbalan atas para sandera, Israel diperkirakan akan membebaskan 250 tahanan Palestina dan lebih dari 1.700 tahanan dari Jalur Gaza yang ditangkap selama perang.

Poin lain, Israel akan menarik pasukannya secara bertahap dari Gaza dan Hamas menyerahkan senjata. Berdasarkan proposal tersebut, administrasi wilayah Gaza akan diambil alih oleh badan teknokratis yang diawasi oleh otoritas transisi pascaperang yang dipimpin oleh Trump. Israel juga akan membolehkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza tanpa gangguan.

Sebelumnya Trump meminta Hamas segera menanggapi proposal damai. Ia memberi Hamas batas waktu untuk merespons. Hamas harus menanggapi proposal itu selambatnya Minggu (5/10/2025). Namun, pada Jumat (3/10/2025), Hamas merespons, menerima sebagian poin dan menyatakan perlu membahas untuk sejumlah poin lainnya. Trump mengapresiasi tanggapan Hamas.

Warga Palestina memeriksa puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan Israel di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Minggu (28/9/2025). Selama hampir dua tahun, operasi militer Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 65.549 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, menurut kementerian kesehatan di Gaza.

Negosiasi siap dimulai

Mediator dari kedua belah pihak menyambut baik tanggapan Hamas. Perundingan untuk membahas proposal damai segera digelar.

Sebelum perundingan tak langsung antara Hamas dan Israel digelar, Senin (6/10/2025) malam di Sharm el-Sheikh, Mesir, Hamas dan negara-negara Arab melakukan perundingan awal.

”Telah terjadi diskusi yang sangat positif dengan Hamas, dan negara-negara dari seluruh dunia (Arab, Muslim, dan lainnya) akhir pekan ini, untuk membebaskan para sandera, mengakhiri perang di Gaza, tetapi yang lebih penting, akhirnya perdamaian yang telah lama dinantikan di Timur Tengah,” tulis Trump pada Minggu di platform Truth Social miliknya.

”Perundingan ini sangat sukses dan berjalan cepat. Tim teknis akan bertemu kembali pada Senin, di Mesir, untuk membahas dan mengklarifikasi detail akhir. Saya diberi tahu bahwa tahap pertama harus selesai minggu ini, dan saya meminta semua orang untuk BERGERAK CEPAT,” kata Trump.

Pada saat yang sama, Minggu, para negosiator dari kedua belah pihak tengah menuju Mesir dan pada saat yang sama Hamas menyerukan dimulainya pertukaran sandera-tahanan dengan Israel dengan segera.

Netanyahu mengatakan delegasi Israel yang dipimpin Menteri Urusan Strategis Ron Dermer akan berangkat ke Mesir pada hari Senin untuk perundingan. Adapun Kepala Negosiator Hamas Khalil al-Hayya sudah tiba di Mesir pada Minggu malam. Al-Hayya juga berperan sebagai kepala delegasi.

Sementara itu, Trump, menurut pernyataan Gedung Putih, mengirim dua utusan ke Mesir. Trump mengirim menantunya, Jared Kushner, dan utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.

Para menteri luar negeri dari beberapa negara, termasuk Mesir, mengatakan, perundingan di kota resor Sharm el-Sheikh merupakan ”kesempatan nyata” untuk mencapai gencatan senjata yang berkelanjutan. Sementara Netanyahu menyatakan harapan bahwa para sandera dapat dibebaskan dalam beberapa hari.

Seorang pejabat senior Hamas secara anonim mengatakan kepada AFP bahwa Hamas ”sangat ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan segera memulai pertukaran tahanan sesuai dengan kondisi lapangan”.

Warga Palestina melarikan diri dari Jalur Gaza utara sambil membawa barang-barang mereka di sepanjang jalan pesisir, dekat Wadi Gaza, Rabu (24/9/2025).

Dua fase

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam acara ”This Week” ABC menyatakan, setelah Hamas menerima peta jalan Trump, ada dua fase yang akan terjadi. Pertama, para sandera dibebaskan dan, kedua, Israel menarik kembali pasukannya di Gaza ke ”garis kuning”, seperti yang terjadi pada bulan Agustus.

Rubio mengatakan kepada CBS bahwa Hamas harus membebaskan para sandera segera setelah mereka siap. Ia juga menegaskan, pengeboman harus dihentikan agar mereka dapat dibebaskan.

Pernyataan tidak ada pengeboman senada dengan permintaan Hamas. Sumber Palestina yang dekat dengan Hamas menyatakan, selama komunikasi dengan para mediator, Hamas menegaskan Israel harus menghentikan operasi militer di seluruh wilayah Jalur Gaza, menghentikan semua aktivitas udara, pengintaian, dan pesawat tak berawak, serta menarik diri dari dalam Kota Gaza.

”Hamas juga akan menghentikan operasi militer mereka secara paralel,” ujar sumber Palestina itu kepada AFP.

Rubio pada Minggu turut mendesak Israel untuk menghentikan pengeboman Gaza menjelang perundingan di Mesir. ”Anda tidak bisa membebaskan sandera di tengah-tengah serangan, jadi serangan harus dihentikan,” kata Rubio kepada CBS.

”Tidak boleh ada perang yang terjadi di tengah-tengahnya,” imbuh Rubio.

Selain masalah sandera, rencana AS juga termasuk masa depan Gaza. Kepada ABC Rubio mengatakan, keputusan mengenai struktur pemerintahan atau kelompok internasional untuk mengelola Gaza dapat dilakukan bersamaan dengan langkah pertama gencatan senjata.

”Itulah bagian yang saya pikir akan sedikit lebih sulit untuk diatasi, tetapi itulah yang akan memastikan berakhirnya konflik secara permanen,” ujarnya.

Menjelang perundingan di Mesir, ratusan ribu orang menggelar aksi unjuk rasa di beberapa kota di Eropa dan tempat lain untuk mendukung Palestina. Sementara para menteri luar negeri dari delapan negara mayoritas Muslim mengeluarkan pernyataan bersama yang menyambut langkah-langkah menuju gencatan senjata.

Para pengunjuk rasa pro-Palestina berdemonstrasi dalam solidaritas dengan Armada Global Sumud pada hari Rabu, (1/10/2025).

Mereka juga menggarisbawahi komitmen mereka untuk mengembalikan Otoritas Palestina ke Gaza, menyatukan Gaza dan Tepi Barat, serta mencapai kesepakatan yang mengarah pada ”penarikan penuh Israel” dari Gaza.

Baik Trump maupun Netanyahu sepakat, perundingan di Mesir akan memakan waktu maksimal beberapa hari. Seorang pejabat yang mendapat pengarahan mengenai perundingan di Mesir mengatakan para negosiator akan fokus pada penyelesaian kesepakatan komprehensif sebelum gencatan senjata dapat diimplementasikan.

”Ini berbeda dari putaran perundingan sebelumnya yang mengikuti pendekatan bertahap, di mana tahap pertama disepakati dan kemudian membutuhkan perundingan lebih lanjut untuk mencapai tahap-tahap selanjutnya dalam gencatan senjata,” kata pejabat itu kepada Reuters.

Kepala Staf Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir mengatakan, ”Jika upaya politik tidak berhasil, kami akan kembali bertempur.”

Menjelang perundingan pula, kerabat para sandera yang cemas berkumpul di dekat kediaman Netanyahu di Jerusalem. Beberapa di antara mereka mendesak Trump untuk terus menekan.

Pada saat yang sama, militer Israel kembali menyerang Kota Gaza. Serangan Israel itu membuat banyak orang mengkhawatirkan nyawa para sandera. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji