SEPAK BOLA

Piala Dunia 2026 dan Mimpi ”Soccer” Merebut Amerika

Piala Dunia 2026 menjadi pertaruhan ”soccer” merebut hati penggila ”American football” hingga hoki es. Bila sukses, nilai ekonomi besar dan budaya baru bakal muncul.

13 Jun 2026 07:00 WIB · Olahraga

AFP/Yuki IWAMURA

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Musim panas 2026 diperkirakan menjadi salah satu periode paling menyengat dalam sejarah Piala Dunia. Namun, di tengah ancaman gelombang panas di sejumlah kota, demam menyambut Piala Dunia 2026 justru semakin sulit dibendung di Amerika Utara.

Bagi tuan rumah, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, Piala Dunia tidak akan dilewatkan begitu saja. Ajang yang mulai bergulir pada Jumat (12/6/2026) ini menjadi kesempatan mengangkat kelas sepak bola (soccer) di kawasan yang selama puluhan tahun lebih identik dengan NFL, NBA, bisbol, hingga hoki es.

Di bawah terik matahari, belasan siswa Sekolah Joseph H Brensinger-PS 17 di New Jersey, Amerika Serikat, tidak kehilangan semangat bermain sepak bola di lapangan mini. Menggunakan kaus putih berlambang MLS dan World Cup USA warna biru, dua tim berhadapan memainkan bola dibatasi pagar besi.

Dikutip dari CBS News, lapangan ini baru dibangun atas inisiatif US Soccer Foundation dan FIFA. Keberadaannya menjadi satu dari 26 lapangan mini yang dibangun di New York dan New Jersey menjelang Piala Dunia 2026. Di New Jersey, Stadion MetLife akan menjadi tuan rumah beberapa pertandingan Piala Dunia, termasuk partai final.

Dr Robert Brower, kepala sekolah, mengatakan, lapangan ini hadir untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak bermain sepak bola di tempat yang aman. Ruang publik untuk anak, katanya, tidak cukup banyak di wilayah itu.

”Ini sangat berarti bagi anak-anak. Sangat jarang di daerah perkotaan kita bisa melihat hal seperti ini. Sebagai orangtua, kami selalu mencari tempat yang aman bagi anak-anak untuk bermain. Sekarang, mereka memilikinya tepat di halaman belakang rumah mereka sendiri,” kata Brower, Rabu (30/3/2026).

Singers Andrea Bocelli and Ejae perform during the opening ceremony before the start of the World Cup Group A soccer match between Mexico and South Africa in Mexico City, Thursday, June 11, 2026. (AP Photo/Ricardo Mazalan)

Salah seorang siswa, Kadija Wally, belum lama mengenal sepak bola. Namun, ia merasa sudah menikmati olahraga ini. Wally tertarik lebih jauh mengenalnya. ”Saya baru mulai bermain sepak bola tahun ini. Namun, jujur, sepak bola mungkin menjadi gairah baru saya,” kata Wally, yang antusias menyambut Piala Dunia digelar di kotanya.

Tidak hanya anak sekolah yang bahagia. Bek tim nasional AS, Chris Richards, juga tidak sabar berlaga memperkuat negaranya. Bermain di kandang mungkin membawa tekanan tersendiri bagi skuad AS.

Namun, dia yakin tekanan itu justru dapat membentuk mental tim menjadi lebih kuat. ”Kami ingin mengubah wajah sepak bola di Amerika Serikat. Piala Dunia kali ini menjadi kesempatan untuk melakukannya. Bukan tidak mungkin kami bisa jadi juara,” ujar Richards, yang kini memperkuat tim Liga Primer Inggris, Crystal Palace.

Piala Dunia 2026 memang diproyeksikan menjadi titik balik terbesar perkembangan sepak bola di Amerika Utara. Turnamen ini tidak lagi ingin memosisikan soccer sekadar olahraga alternatif atau olahraga komunitas imigran.

Quote

Membuka negaramu kepada dunia, membiarkan dunia datang dan melihat negaramu yang indah, itu sesuatu yang istimewa.

Sepak bola mulai dipandang sebagai bagian dari industri hiburan modern sekaligus proyek baru bernilai miliaran dolar AS. Transformasi itu terlihat jelas di tubuh Major League Soccer (MLS), kompetisi sepak bola tertinggi di AS.

Pada era 2000-an hingga awal 2010-an, MLS sangat identik sebagai ”liga pensiunan”. Pemain-pemain veteran di Eropa, seperti David Beckham, Thierry Henry, dan Andrea Pirlo, datang ke AS ketika masa emas mereka nyaris usai. 

Fans watch from temporary stands at BMO Field, which were built to accommodate more fans for the 2026 World Cup, during first half MLS soccer between Toronto FC and Inter Miami CF, in Toronto on Saturday, May 9, 2026. (Frank Gunn /The Canadian Press via AP)

Kehadiran mereka memang membantu menaikkan popularitas liga, tetapi sekaligus memperkuat stigma MLS hanya tempat para pemain bintang menutup kariernya.

Lionel Messi

Perubahan besar mulai terlihat ketika Lionel Messi bergabung dengan Inter Miami. David Beckham menjadi salah satu pemilik tim ini. Datang dari Paris Saint-Germain di Perancis, pesona Messi masih sangat kuat dan dicintai publik global.

Di AS, kehadiran bintang Argentina itu dengan cepat membantu MLS menjangkau audiens muda, terutama komunitas Amerika Latin. Messi berkontribusi meningkatkan jumlah penonton siaran pertandingan MLS hingga 29 persen. Jerseinya juga menjadi yang terlaris selama tiga musim berturut-turut. 

Namun, pertumbuhan MLS sebenarnya sudah terlihat bahkan sebelum kedatangan Messi. Wakil Presiden Eksekutif MLS Camilo Durana mengatakan, liga kini berupaya menemukan tempat di persimpangan antara budaya, hiburan, dan olahraga.

”Yang kami temukan adalah setiap penggemar memiliki perjalanan yang berbeda. Beberapa menemukan produk kami melalui siaran televisi, beberapa datang ke stadion untuk pertama kalinya dan langsung jatuh cinta. Yang lain terhubung dengan cara berbeda,” kata Durana kepada The New York Post.

Oleh karena itu, MLS tidak hanya menjual pertandingan, tetapi juga pengalaman budaya populer. Liga bekerja sama dengan Apple melalui MLS Season Pass, menggandeng Tiktok untuk distribusi konten pendek, pendekatan lewat gim populer, hingga melibatkan rapper Doechii dalam kampanye promosi musim baru.

Infografik Pembagian Grup Piala Dunia 2026

Kombinasi efek superstar dan revolusi bisnis membuat lebih dari 11 juta penonton hadir ke stadion MLS dengan rata-rata 22.443 penonton per pertandingan pada musim lalu. Jumlah penonton tersebut meningkat 12 persen dibandingkan 2022.

”Inovasi seperti ini adalah cara lain yang kami coba untuk terhubung dengan berbagai jenis budaya karena kami pikir itu adalah cara untuk melibatkan penggemar baru,” ujar Durana.

Kegembiraan baru

Kebangkitan sepak bola juga terjadi di Kanada. Negara yang selama ini identik dengan hoki es mulai melirik sepak bola sebagai kegembiraan baru. Setelah Kanada kembali tampil di Piala Dunia 2022 seusai absen selama 36 tahun, euforia sepak bola di sana semakin tumbuh menjelang edisi 2026.

Menurut Reuters, petinggi Liga Primer Kanada menyebut Piala Dunia 2026 sebagai kesempatan besar membawa sepak bola ke arus utama olahraga Kanada. Perubahan itu terlihat dari munculnya generasi baru pemain Kanada di Eropa, seperti Alphonso Davies, Jonathan David, dan Moise Bombito.

”Membuka negaramu kepada dunia, membiarkan dunia datang dan melihat negaramu yang indah, itu sesuatu yang istimewa,” kata Davies, yang kini membela Bayern Muenchen di Bundesliga Jerman.

Untuk itu, Kanada diperkirakan menghabiskan biaya lebih dari 1 miliar dolar Kanada untuk menyelenggarakan turnamen. Sebanyak 13 pertandingan akan dimainkan di Toronto dan Vancouver selama turnamen berlangsung pada 11 Juni-19 Juli 2026.

Sebuah bendera Kanada raksasa, berukuran 160 x 80 meter dipasang untuk menunjukkan kebanggaan Kanada selama turnamen sepak bola Piala Dunia, terlihat dari pandangan udara di jalur ski di Gunung Grouse, di Vancouver Utara, British Columbia, Kanada, Kamis (4/6/2026). 

AP/The Canadian Press/Darryl Dyck *** Local Caption *** A giant Canadian flag, a 160 meters (525 feet) by 80 meters (262.5 feet) has been installed to showcase Canadian pride during the World Cup soccer tournament is seen in an aerial view on a ski run at Grouse Mountain, in North Vancouver, British Columbia, Thursday, June 4, 2026. (Darryl Dyck/The Canadian Press via AP)

Toronto menganggarkan sekitar 380 juta dolar Kanada untuk enam pertandingan, sementara British Columbia menyiapkan 578 juta dolar Kanada untuk tujuh pertandingan di Vancouver. Pemerintah Federal Kanada juga mengalokasikan hingga 145 juta dolar Kanada untuk keamanan turnamen.

Salah satu acara yang akan digelar adalah FIFA Fan Festival Toronto. Lokasinya di Fort York & the Bentway, 11 Juni-19 Juli. Di lapangan rumput digelar konser musik yang dihiasi semarak warna-warni bendera negara peserta hingga pertandingan yang disiarkan di layar besar. 

Multikultur

Wali Kota Toronto Olivia Chow mengatakan, sepak bola memiliki kekuatan menyatukan masyarakat multikultural Toronto, kota yang lebih dari separuh penduduknya lahir di luar Kanada.

”Inilah warisan sejati Piala Dunia FIFA. Bukan hanya pertandingan di lapangan, tetapi juga menginspirasi generasi muda, memperkuat komunitas, dan menciptakan peluang jangka panjang,” kata Chow.

Sementara di Mexico City, atmosfer Piala Dunia kian terasa lewat sejumlah pameran sepak bola. Berbeda dengan AS dan Kanada yang melihat sepak bola sebagai peluang membangun kultur baru, Meksiko justru memanfaatkan Piala Dunia untuk memperpanjang tradisi sepak bola yang sudah mengakar kuat.

Di Museo Yancuic, misalnya, sekitar 15.000 memorabilia sepak bola dipamerkan dalam Album Épico, termasuk koleksi milik Pelé, Diego Maradona, David Beckham, Lionel Messi, dan Cristiano Ronaldo.

Inter Miami forward Lionel Messi (10) holds the trophy as Inter Miami players celebrate winning an MLS Eastern Conference final soccer match against New York City FC, Saturday, Nov. 29, 2025, in Fort Lauderdale, Fla. (AP Photo/Rebecca Blackwell)

Di Museo Jumex, pameran Football & Art: A Shared Emotion menampilkan hampir 100 karya dari 60 lebih seniman lintas negara yang mengeksplorasi hubungan sepak bola dengan seni.

Kedua pameran itu menjadi bagian lebih dari 20 ruang di Mexico City yang menyiapkan program khusus menyambut Piala Dunia 2026. Kota tersebut diperkirakan menerima lebih dari 5 juta wisatawan selama turnamen berlangsung.

Mantan striker Meksiko, Javier Hernández, menyebut turnamen kali ini sebagai momen yang sangat spesial bagi negaranya. ”Negara kita serta Amerika Serikat dan Kanada, kombinasi ketiganya, akan sangat menakjubkan,” kata Hernández, pencetak 52 gol untuk Meksiko.

Dengan segala antusiasme dan harapan itu, Presiden FIFA Gianni Infantino yakin Piala Dunia 2026 menjadi turnamen terbesar sekaligus paling menguntungkan sepanjang sejarah. Skalanya mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. 

Pendapatan naik

Turnamen ini diikuti 48 tim dengan total 104 pertandingan di 16 kota tuan rumah di Amerika Utara. FIFA memperkirakan pendapatan sepanjang 2023-2026 mencapai 13 miliar dolar AS, naik 73 persen dibandingkan siklus empat tahun sebelumnya, 7,5 miliar dolar AS.

Di AS saja, Tourism Economics memperkirakan 1,24 juta wisatawan internasional akan datang ke kota-kota tuan rumah. Mereka diproyeksikan menghasilkan belanja wisata sebesar 6,4 miliar dolar AS meskipun dibayangi tingginya harga tiket.

Simulasi biaya yang harus dikeluarkan suporter sepak bola asal Indonesia untuk menyaksikan laga-laga Piala Dunia 2026 langsung di Amerika Serikat.

Harga tiket termahal dalam final Piala Dunia 2026 adalah laga final di Stadion MetLife, yaitu senilai 32.970 dolar AS (sekitar Rp 580 juta). Sebagai perbandingan, harga tiket termahal dalam final Piala Dunia 2022 Qatar adalah 1.600 dolar AS (Rp 28 juta). Calon penonton protes, tapi FIFA optimistis tiket ludes terjual.

Namun, di tengah euforia itu, tulisan Aaron Timms di The Guardian patut dicermati. Dalam artikelnya berjudul ”MLS at 30: A League at a Philosophical Crossroads as World Cup Looms”, Timms mengingatkan bahwa laju pesat sepak bola di AS tetap menyimpan pertanyaan besar.

Kedatangan Messi memang mempercepat pertumbuhan MLS, tetapi sekaligus memunculkan keraguan: apakah antusiasme itu akan bertahan dalam jangka panjang atau hanya bergantung pada kehadiran superstar global.

Piala Dunia 2026 bisa menjadi jawabannya. Di tengah ancaman panas ekstrem dan ambisi miliaran dolar AS, turnamen ini akan menjadi ujian terbesar sepak bola di Amerika Utara.

Apakah keberadaan soccer mampu sejajar dengan American football, basket, bisbol, ataupun hoki es atau hanya menjadi euforia menjelang pesta olahraga terbesar di dunia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti