Sudah Piala Dunia Antarklub dengan format baru, di Amerika Serikat pula. Dua kombinasi itu mulai dipercaya sebagai ide terburuk yang muncul di sepak bola modern.
01 Jul 2025 08:00 WIB · Olahraga
Langit seperti terbagi dua di Amerika Serikat. Cuaca panas dan badai petir bisa muncul bersamaan di berbagai kota penyelenggara Piala Dunia Antarklub 2025. Dua kondisi cuaca ekstrem itu sama-sama mengganggu kenyamanan para klub peserta.
Chelsea nyaris menjadi korban dari ketidakpastian cuaca tersebut. Tepatnya dalam laga 16 besar di Stadion Bank of America, Charlotte, Minggu (29/6/2025) WIB. Mereka berhasil menang, 4-1, atas Benfica, tetapi harus melewati laga yang berlangsung selama lebih dari empat jam.
Pertandingan sangat lama karena terdapat penundaan 113 menit. Laga dihentikan sementara pada menit ke-86, saat Chelsea unggul, 1-0, akibat ancaman petir di sekitar stadion. Awalnya penundaan diperkirakan hanya 30 menit, lalu terus mundur karena kondisi tidak kunjung membaik.
Para pemain Chelsea kebingungan. Mereka terus menunggu di ruang ganti, sambil memanaskan tubuh dengan berkendara sepeda statis. Di sisi lain, skuad Benfica sudah terbiasa. Laga Benfica versus Auckland City di Orlando saat babak grup juga ditunda dua jam akibat masalah serupa.
Setelah laga dilanjutkan, Chelsea kehilangan sentuhan. Mereka kecolongan dari Benfica di injury time. Laga pun berlanjut ke babak tambahan. ”Jujur, menurut saya itu adalah lelucon. Itu bukan sepak bola. Itu sesuatu yang baru. Saya sulit memahaminya,” kata Pelatih Kepala Chelsea Enzo Maresca.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/29/8d5cedae-3f8e-4dfe-9ddb-b2a3c8e4fe86_jpg.jpg)
Beruntung, Chelsea unggul jumlah pemain sejak awal babak tambahan karena pemain Benfica Gianluca Prestianni diganjar kartu merah. Cole Palmer dan rekan-rekan kembali mengklaim kemenangan yang semula sudah di depan mata mereka, sebelum ancaman petir datang.
”Saya memahami ada alasan keselamatan di balik itu, tetapi jika Anda menunda sekian banyak laga maka mungkin tempat ini tidak cocok untuk menyelenggarakan kompetisi. Berapa laga yang ditunda seperti ini di Eropa? Nol. Itu menjadi masalah personal bagi saya,” tegas Maresca.
Sampai saat ini, sebanyak enam pertandingan di lima kota ditunda akibat hujan deras ataupun ancaman petir. Dua penundaan yang melibatkan Benfica tercatat paling lama. Laga lainnya adalah Palmeiras versus Al-Ahly di New Jersey (40 menit), Salzburg versus Pachuca di Cincinnati (90 menit), dan Boca Juniors versus Auckland City di Nashville (50 menit).
Arsene Wenger, Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, berkata, penundaan tidak bisa dihindari. ”Itu memang tidak ideal. Saya setuju karena anda pasti ingin jalannya laga mengalir dari awal hingga menit terakhir. Tetapi, ketika menyelenggarakan kompetisi, Anda harus mengutamakan keamanan,” ujarnya.
Sialnya, Chelsea juga menjadi korban cuaca panas ekstrem. Mereka harus bermain di tengah suhu hampir 40 derajat celsius dalam laga grup versus Esperance de Tunis di Philadelphia. Uniknya, saat laga ditunda akibat petir, suhu di sekitar stadion masih cukup panas dan lembap. ”Iklim di sini sangat menyulitkan,” kata bek Chelsea, Reece James.
Solusi dari tuan rumah sangat terbatas. Hanya ada beberapa stadion yang memiliki atap, salah satunya Stadion Mercedes-Benz di Atlanta. Kebanyakan tidak punya atap. Sementara itu, terdapat jeda hidrasi di setiap pertengahan babak untuk mengatasi cuaca panas.
Cuaca ekstrem di AS adalah masalah besar. Problem itu kemungkinan akan dihadapi lagi di Piala Dunia 2026. Namun, menurut pelatih ternama Juergen Klopp, itu tidak lebih buruk dari keberadaan Piala Dunia Antarklub pada musim panas. Semua masalah bermula dari perubahan format turnamen.
Menurut Klopp, tidak seharusnya turnamen berlangsung di tengah jeda pergantian musim. Apalagi kompetisi menggunakan sistem turnamen penuh. Setiap klub harus melewati perjalanan di babak grup dan bersaing sejak 16 besar di babak gugur. Hal tersebut mengurangi waktu istirahat pemain.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/28/01736a5d-71c3-4c5c-b97f-41a193a995ce_jpg.jpg)
”Tahun lalu ada Piala Amerika dan Piala Eropa (di musim panas). Tahun ini ada Piala Dunia Antarklub. Lalu, tahun depan ada Piala Dunia. Pada akhirnya, semua hanya tentang pertandingan. Tidak ada yang peduli aspek-aspek di sekitarnya (seperti pemain),” tutur Klopp.
Klopp membandingkan pesepak bola dengan pebasket NBA. ”Pemain NBA yang mendapatkan gaji lebih besar, punya waktu istirahat empat bulan dalam setahun. (Pesepak bola) tidak punya waktu nyata untuk pemulihan baik dari sisi fisik maupun mental,” lanjutnya.
Skuad Paris Saint-Germain menjadi contoh. Mereka baru bermain di final Liga Champions pada akhir Mei. Sekitar dua pekan berselang, tim asuhan pelatih Luis Enrique itu sudah berlaga di Piala Dunia Antarklub. Jika melaju sampai partai puncak, PSG akan tampil hingga medio Juli. Artinya, mereka hanya punya jeda kurang dari sebulan sebelum laga pertama musim depan.
Terlepas dari keresahan Klopp, banyak pihak yang masih mendukung keberadaan Piala Dunia Antarklub. Salah satunya Manajer Manchester City Josep Guardiola. Dia menyukai konsep yang mempertemukan klub terbaik dari seluruh bagian dunia dalam empat tahun sekali.
Konsep baru itu membuat turnamen lebih bergengsi. Tidak seperti biasanya yang digelar setahun sekali dalam waktu sangat singkat. Menurut Guardiola, City beruntung karena bisa bermain di ajang sebesar itu. Termasuk, punya kesempatan bertemu pendukung dari beragam negara dan kultur.
Meskipun begitu, patut dinanti, apakah Guardiola akan konsisten dengan sikap itu. Apakah pernyataannya masih sama ketika para pemainnya hilang satu per satu akibat badai cedera, seperti kesialan yang menerpa City pada musim lalu. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase