OPINI

Piala Dunia dan Salam Perdamaian dari Seattle

Hajatan Piala Dunia telah menekan budaya AS, yaitu dari gemar berperang menjadi lebih damai. Kedamaian itu terlihat jelas di Seattle.

24 Jun 2026 10:56 WIB · Olahraga

Kompas/Supriyanto

Oleh Ubaidillah Nugraha

Seattle, Amerika Serikat, telah banyak bersolek menyambut Piala Dunia 2026. Gegap gempita kejuaraan sepak bola terbesar sejagat itu telah terasa di kota ini, mulai dari pernak-pernik Piala Dunia yang bermunculan di seluruh penjuru kota, yaitu dari Bandara Tacoma saat pesawat mendarat, hingga melewati stasiun kereta ringan (LRT) Westlake. LRT ini akan membawa penggemar sepak bola sampai ke pusat kota.

Berbeda dengan kota-kota di AS lainnya, kota Seattle sangat mudah diakses. LRT dengan tiket hanya 3-4 dolar AS akan membawa kita ke pusat kota selama tidak lebih dari 30 menit saja. Bahkan, kita bisa langsung turun di depan Stadion Lumen Field, arena Piala Dunia. Taksi pun jadi tidak terlalu diperlukan.

Terlepas mudahnya aksesibilitas, ada hal yang unik dari rangkaian penyelenggaraan Piala Dunia di kota yang menyajikan enam pertandingan ajang akbar itu. Kota itu menjelma panggung multikultural dengan menyambut para pendukung negara-negara mayoritas Muslim lintas benua, seperti Bosnia-Herzegovina (Eropa), Qatar (Asia), dan Mesir (Afrika). Hadir pula suporter dua seteru klasik, Iran dan Amerika Serikat, yang masing-masing berhadapan dengan Australia dan Mesir di kota ini.

Pada saat yang sama, alotnya perundingan perjanjian damai perang AS dan Israel dengan Iran di Swiss menambah ketegangan yang berpotensi mengusik konsentrasi dunia pada sepak bola. Belum lagi ditambah serangan baru Israel ke Lebanon yang sempat membuat Iran mengancam akan menutup kembali Selat Hormuz dan menarik diri dari perundingan.

Siapkah kota ini menyambut kegembiraan festival di tengah tensi perang yang belum benar-benar mereda? Masyarakat menanti dengan harap-harap cemas, apa yang sesungguhnya akan terjadi?

Fans wearing shirts in the colours of the US flag walk in the streets of Boston , on the eve of the 2026 World Cup football tournament Group C football match between Morocco and Scotland at Boston Stadium in Boston, on June 19, 2026. (Photo by FRANCK FIFE / AFP)

Alih-alih terdampak tensi tinggi, Seattle tetap tenang dan damai, jauh dari ketegangan, apalagi didukung cuaca cerah musim panas dan angin dari waterfront yang menyejukkan. Sungguh cocok untuk pengunjung dari negara beriklim tropis seperti saya.

Silakan tengok pertandingan AS versus Australia. Lagu ”Take Me Home, Country Roads” membahana saat dinyanyikan serentak oleh 70.000 penonton di stadion setelah pertandingan itu berakhir. Kehangatan itu adalah sesuatu yang sudah lama tidak dirasakan masyarakat AS yang lelah dengan berita perang dan kekisruhan politik.

Politisi Partai Republik menggambarkan kekagumannya lewat Instagram dengan takarir, ”Inilah Amerika Serikat yang kita butuhkan”.

”Kemenangan tuan rumah atas Australia, 2-0, telah membangkitkan patriotisme penduduk, tetapi, kali ini, kepada tim nasional,” ujar Matt Calkins, kolumnis Seattle Times.

”Peluang AS menjuarai Piala Dunia hampir tidak ada. Akan tetapi, kalau melihat militansi fans membela timnas, kemungkinan itu harus selalu dibuka,” tulisnya kemudian.

Tabula rasa

Sepak bola atau soccer di AS memang telah menjadi tabula rasa, olahraga baru yang banyak diinginkan orangtua untuk dimainkan oleh anaknya karena jauh dari kekerasan fisik olahraga tradisional seperti american football. Sepak bola juga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, usia, dan jender.

Infografik riset Piala Dunia di tengah ketegangan politik antarnegara.

Menurut Franklin Foer dalam bukunya, How Soccer Explains the American Culture Wars, sepak bola berpotensi mengurangi budaya masyarakat AS yang senang berperang menjadi masyarakat yang lebih damai. Pernyataannya itu tecermin di Seattle jelang laga Iran melawan Belgia.

Di Fanzone Pacific Place, tengah kota Seattle, puluhan pendukung Iran melambaikan bendera nasional dan berjabatan tangan dengan pendukung AS yang lalu lalang. Tak ada prasangka di antara mereka, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kedua negara yang tengah bermusuhan dalam perang di Timur Tengah itu.

Quote

Vox populi pedilium, vox dei, suara masyarakat pencinta sepak bola adalah suara Tuhan yang akan mendamaikan dunia.

Situasi itu berbeda sekali dengan apa yang ada di pikiran para penguasa yang lebih memperlihatkan hasrat bermusuhan dan menguasai. Maka, Piala Dunia kembali mendamaikan dunia sekaligus membuka mata masyarakat betapa kondisi geopolitik adalah kesepakatan di antara pihak-pihak yang kadang jauh dengan realitas masyarakat.

Dampak ekonomi

Kedamaian itu turut membuat gonjang-ganjing ekonomi juga mereda. Piala Dunia terbukti sangat ampuh memberikan rehat, menurunkan harga minyak dunia, menyusul gonjang-ganjing mata uang, sama seperti Piala Dunia sebelumnya.

Menurut Simon Kuper dalam bukunya, Soccernomics, ajang global itu bahkan turut menurunkan tingkat bunuh diri di Eropa selama kejuaraan digelar.

Kuper baru-baru ini juga menulis artikel di Financial Times bertajuk ”Power Play” yang mengkritisi FIFA, badan sepak bola dunia. Menurut dia, FIFA begitu berpihak kepada penguasa, betapapun otoriternya para penguasa tersebut. Piala Dunia pun kerap menjadi ”Sportwashing” dengan menggunakan sepak bola sebagai lambang perdamaian untuk menutupi kebijakan rezim yang otoriter.

FIFA President Gianni Infantino attends the World Cup Group D soccer match between the United States and Paraguay in Inglewood, Calif., near Los Angeles, Friday, June 12, 2026. (AP Photo/Andre Penner)

Piala Dunia, dalam sejarahnya, pernah diselenggarakan rezim represif Benito Mussolini (Italia) pada tahun 1934, junta militer Argentina pada 1978, Rusia pada masa Vladimir Putin pada 2018, dan pemerintahan Donald Trump di AS tahun ini. Bahkan, FIFA tidak segan memberikan Trump sebuah penghargaan yang tidak perlu, FIFA Peace Prize, sebagai hiburan tidak terpilihnya sang Presiden AS menjadi peraih hadiah Nobel.

Namun, apakah sepak bola kehilangan marwahnya menyusul banyaknya kebijakan tidak populer FIFA? Pertanyaan ini justru harus dijawab miliaran penikmat sepak bola itu sendiri. Apakah kondisi ini juga yang dirasakan oleh masyarakat?

Jawabannya, tidak juga. Tidak ada satu pun orang yang bisa mendikte Piala Dunia, baik itu seorang presiden negara maupun presiden FIFA. Tidak Mussolini, tidak juga Putin ataupun Trump.

Meski konon eskalasi konflik Iran-AS turun menyambut Piala Dunia, Trump tidak serta-merta bisa mengambil pujian untuk situasi ini semata karena negaranya menjadi salah satu tuan rumah. Trump boleh mengusulkan sebaiknya Italia diundang untuk menggantikan Iran, tetapi siapa yang benar-benar menyimak perkataannya? Hampir tidak ada.

Piala Dunia adalah milik kita semua, betapapun itu dicoba untuk ditunggangi oleh penguasa. Penonton tahu betul siapa penunggang yang benar-benar mencintai sepak bola dan masyarakat yang menggemarinya.

Vox populi pedilium, vox dei, suara masyarakat pencinta sepak bola adalah suara Tuhan yang akan mendamaikan dunia. Perdamaian dunia terdekat dapat kita lihat kasatmata di jalan-jalan Seattle setiap pertandingan berlangsung. Ribuan orang—tanpa peduli negara asal, etnis, dan agamanya—akan turun ke jalan berbaur merayakan perdamaian.

Penggemar sepak bola berkumpul di pusat kota Seattle, Kamis (16/6/2022) untuk merayakan penunjukan Seattle sebagai salah satu lokasi tuan rumah Piala Dunia 2026. FIFA mengumumkan 16 kota penyelenggara Piala Dunia 2026 yang berada di tiga negara yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. ***Soccer fans gather along the downtown Seattle waterfront to cheer the awarding of FIFA 2026 World Cup games to Seattle, Thursday, June 16, 2022, in Seattle. (Dean Rutz/The Seattle Times via AP)

Fans Irak bernyanyi bersama fans Iran, pendukung Bosnia tersenyum bertemu kawannya dari Kroasia. Kemenangan Spanyol pun turut dirayakan Arab Saudi ketika Lamine Yamal bersujud setelah menciptakan gol seolah ingin menyampaikan syukur kepada pencipta perdamaian yang sama, Sang Ilahi.

Hati siapa saja bakal terenyuh saat menjadi saksi mata fenomena-fenomena mengharukan ini, momen yang menunjukkan dunia sedang berhenti sejenak untuk damai.

Perasaan damai itu hidup dalam diri warga Seattle, seperti Dustin, pelayan di restoran cepat saji Dingfelder’s Delicatessen, yang pikirannya tidak diusik oleh perang. Baginya, perang itu hanya urusan para penguasa dan orang-orang berkuasa.

Begitu juga Ozan, sopir taksi asal Turki yang menetap dan bekerja di Seattle selama tujuh tahun terakhir. Ia dihidupi kota yang tetap ramah terhadap pendatang itu meskipun Trump terus mempertebal sentimen anti-imigran dengan jargon ”American first”.

Piala Dunia telah mengingatkan kembali umat manusia bagaimana hidup selayaknya dilakukan. Dalam hal ini, Seattle telah memerankan perannya sebagai salah satu duta terbaik kemanusiaan itu.

Ubaidillah Nugraha, Staf Ahli Ketua Umum PSSI 2020-2021 dan penulis buku Republik Gila Bola


Kerabat Kerja

Penulis:

Ubaidillah Nugraha
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar