Trofi lambang tim terbaik kejuaraan dunia bulu tangkis beregu campuran yunior Piala Suhandinata beralih dari Indonesia ke tangan China. Indonesia kalah 0-2 di final.
11 Okt 2025 20:56 WIB · Olahraga
GUWAHATI, SABTU — Tim bulu tangkis yunior Indonesia kesulitan mengimbangi China dalam final kejuaraan Piala Suhandinata 2025. Kekalahan ini menjadi cermin untuk persaingan kategori individu.
Indonesia kalah dari China dengan skor 0-2 pada final yang berlangsung di National Centre of Excellence, Guwahati, India, Sabtu (11/10/2025). Hasil tersebut berkebalikan dengan final Piala Suhandinata 2024 ketika Indonesia mengalahkan China, yang menjadi tuan rumah, dalam laga perebutan gelar juara.
Setahun lalu, Indonesia menang dengan skor 110-103 yang menggunakan sistem skor estafet untuk mencapai 110 poin. Pertandingan terdiri atas lima nomor yang berlangsung dalam dua putaran. Dengan demikian, setiap atlet memiliki target meraih 11 poin dan kelipatannya.
Format penghitungan skor estafet juga digunakan dalam persaingan di Guwahati pada 6-11 Oktober. Bedanya, persaingan kali ini berlangsung dalam tiga set (masing-masing lima nomor) untuk mencapai target 45 poin pada setiap set. Maka, setiap atlet harus memenangi sembilan poin di setiap partai. Tim pemenang adalah mereka yang memenangi dua set.
Performa baik ketika mengalahkan India, 2-0, pada semifinal tak terlihat pada skuad Indonesia di final. Indonesia kalah 30-45 pada set pertama, lalu 44-45 pada set kedua.
Dari total sepuluh partai, hanya dua yang dimenangi atlet Indonesia, yaitu dari pemain ganda putri dan ganda putra pada set kedua. Riska Anggraini/Rinjani Kwinara Nastine membuka harapan bagi tim ”Merah Putih” untuk membuat pertandingan berjalan tiga set.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/10/19881cc6503f8698456f8a4b9477a098-WhatsApp_Image_2025_10_10_at_18.00.06.jpeg)
Tampil pada partai pertama, mereka unggul 9-5 atas Cao Zi Han/Chen Fan Shu Tian. Riska/Rinjani bermain dengan tempo yang lebih cepat, terutama di depan net, dibandingkan pada set pertama ketika kalah 8-9.
Dengan sistem skor estafet, keunggulan dengan selisih empat poin seharusnya menjadi keuntungan bagi Indonesia untuk bisa dipertahankan pemain lain pada partai berikutnya. Rinjani, yang bermain di nomor ganda campuran, kembali tampil baik ketika berpasangan dengan Ikhsan Lintang Pramudya pada partai kedua. Dia cekatan memotong pukulan lawan di bagian depan lapangan.
Namun, Ikhsan tak bisa mengimbangi partnernya dengan berkali-kali membuat unforced error. Padahal, persaingan yang hanya memperebutkan sembilan poin berlangsung cepat dengan durasi (pada umumnya) kurang dari sepuluh menit.
Keunggulan empat poin dari ganda putri sempat diperlebar menjadi enam poin ketika Ikhsan/Rinjani memimpin 13-7, tetapi setelah itu lawan mendekat dengan cepat. China, yang mengandalkan Chen Jun Ting/Cao Zi Han, bahkan berbalik unggul dari ketertinggalan 11-14 menjadi menang 18-14. Kekalahan Ikhsan/Rinjani (5-13) membuat Indonesia berbalik tertinggal dengan selisih empat poin.
Selisih tersebut bertahan hingga partai keempat. Tunggal putri Thalita Ramadhani Wiryawan dan tunggal putra Mohammad Zaki Ubaidillah bermain imbang dengan lawan mereka, masing-masing, dengan skor 9-9.
Maka, dengan ketertinggalan 32-36, Indonesia menaruh harapan pada ganda putra, Raihan Daffa Edsel Pramono/Muhammad Rizki Mubarrok, untuk menggantikan formasi Raihan/Alexius Ongkytama Subagio yang kalah pada set pertama.
Sorakan kubu Indonesia terdengar lantang kembali ketika Raihan/Rizki menyeimbangkan persaingan pada skor 41-41. Mereka bahkan berbalik unggul pada posisi 42-41, 43-42, dan saat match point 44-43.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/10/56de603bebea667fcb28733373eda54f-WhatsApp_Image_2025_10_10_at_18.00.36.jpeg)
Akan tetapi, pertandingan berakhir ketika China menambah dua angka beruntun melalui kesalahan Raihan/Rizki. Kesempatan Indonesia, setidaknya, untuk memperpanjang napas pun hilang bersamaan dengan perayaan yang dilakukan skuad China di lapangan.
Pemain-pemain Indonesia menyesali kekalahan tersebut dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk menghadapi tugas berikutnya di tempat yang sama. Setelah bersaing pada ajang beregu campuran, mereka akan tampil dalam kategori perorangan yang berlangsung 13-19 Oktober.
Zaki, yang menjadi semifinalis tunggal putra pada 2024, membawa harapan besar untuk meraih gelar juara bagi Indonesia seperti yang dilakukan Alwi Farhan pada 2023. Apalagi, ajang di Guwahati ini menjadi kejuaraan dunia yunior terakhir bagi Zaki yang akan berusia lebih dari 19 tahun ketika ajang yang sama digelar pada 2026. Sementara kejuaraan dunia yunior hanya bisa diikuti atlet berusia 19 tahun ke bawah.
Hal serupa dialami Rinjani yang memiliki kesempatan terakhir di Guwahati. Di Nanchang 2024, Rinjani menjadi semifinalis ganda putri saat berpasangan dengan Isyana Syahira Meida.
Persaingan individu akan lebih menantang karena berlangsung dengan sistem skor pada umumnya, yaitu best of three games dengan 21 poin. Kemampuan yang sesungguhnya setiap pemain pun diuji.
Riska Anggraini/Rinjani Kwinara Nastine-Cao Zi Han/Chen Fan Shu Tian 8-9
lkhsan Lintang Pramudya/Rinjani Kwinnara Nastine-Chen Jun Ting/Cao Zi Han 15-18 (Ikhsan/Rinjani kalah 7-9)
Thalita Ramadhani Wiryawan-Si Ya Li Yu 20-27 (Thalita kalah 5-9)
Mohammad Zaki Ubaidillah-Liu Yang Ming Yu 27-36 (Zaki kalah 7-9)
Raihan Daffa Edsel Pramono/Alexius Ongkytama Subagio-Chen Jun Ting/Liu Jun Rong 30-45 (Raihan/Alexius kalah 3-9)
Riska Anggraini/Rinjani Kwinara Nastine-Cao Zi Han/Chen Fan Shu Tian 9-5
lkhsan Lintang Pramudya/Rinjani Kwinnara Nastine-Chen Jun Ting/Cao Zi Han 14-18 (Ikhsan/Lintang kalah 5-13)
Thalita Ramadhani Wiryawan-Si Ya Li Yu 23-27 (skor Thalita-Si 9-9)
Mohammad Zaki Ubaidillah-Liu Yang Ming Yu 32-36 (skor Zaki-Liu 9-9)
Raihan Daffa Edsel Pramono/Muhammad Rizki Mubarrok-Chen Jun Ting/Liu Jun Rong 44-45 (Raihan/Rizki unggul 12-9)
Indonesia dalam Kejuaraan Dunia BWF Beregu Campuran Yunior
2025 : final
2024 : juara
2023 : final
2022 : semifinal
2019 : juara
2018 : semifinal
2017 : peringkat kelima
2016 : peringkat kelima
2015 : final
2014 : final
2013 : final
2012 : peringkat keempat
2011 : peringkat ketujuh
2010 : peringkat keempat
2009 : peringkat kelima
2008 : peringkat ketujuh
2007 : peringkat keenam
2006 : peringkat keempat
2004 : peringkat ketiga
2002 : peringkat ketiga
2000 : peringkat ketiga
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar