Pilkada Jakarta 2024 bak David versus Goliath. Koalisi gemuk tidak maksimal meraih suara warga.
07 Des 2024 13:49 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Tokoh publik dan koalisi gemuk bukan jaminan kemenangan dalam Pilkada Jakarta. Keduanya saling melengkapi untuk meraih suara warga.
Hal itu tecermin dalam kontestasi Pilkada Jakarta 2024. Ada tiga pasangan calon yang bersaing, yaitu Ridwan Kamil-Suswono, Dharma Pongrekun-Kun Wardana, dan Pramono Anung-Rano Karno.
Sejauh ini berdasarkan rekapitulasi suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di enam wilayah administrasi kabupaten/kota se-Jakarta, pasangan nomor urut 3, Pramono-Rano, unggul dengan perolehan 2.183.239 suara atau 50,07 persen.
Mengekor di belakangnya pasangan nomor urut 1, Ridwan-Suswono yang mengumpulkan total suara 1.718.160 suara atau 39,41 persen. Kemudian, pasangan nomor urut 2, Dharma-Kun, dengan raihan 459.230 suara atau 10,52 persen.
Hasil ini mengejutkan banyak pihak. Apalagi Ridwan-Suswono disokong koalisi gemuk, KIM plus. Sebaliknya, Dharma-Kun maju lewat jalur perseorangan atau independen dan Pramono-Rano didukung PDI-P.
”Buat kami kalau sudah diputuskan kami dengar dan patuhi,” ujar Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera Mardani Ali Sera, Sabtu (7/12/2024).
Ia merespons anggapan bahwa Ridwan atau Kang Emil kurang cocok berkontestasi di Jakarta. Sebab, figurnya lebih populer dan dikenal warga Jawa Barat sebagai mantan Wali Kota Bandung dan Gubernur Jawa Barat.
”Kang Emil punya kapasitas dan integritas,” kata Mardani.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/02/e1788f72-30e5-44f5-a82d-c3be75ab1a2c_png.png)
Ketua DPW PKB Jakarta Hasbiallah Ilyas mengutarakan hal serupa. Pilkada Jakarta bukan hanya soal banyaknya dukungan partai, melainkan siapa figur yang berkontestasi.
Ia juga menyebutkan bahwa Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Jazilul Fawaid menyentil seluruh ketua DPW dan DPC karena merekomendasikan figur tidak sesuai keinginan warga. Bukan menyentil dukungan kepada Kang Emil dalam Pilkada Jakarta 2024.
”Jakarta beda dengan yang lain. Tergantung figur juga. Jadi tidak bisa semata-mata partai. Fenomena di Jakarta begitu,” kata Hasbiallah secara terpisah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/70543ad4-a942-4bbb-ba59-35b28fa9f8b1_jpeg.jpg)
Elektabilitas Pramono-Rano secara perlahan melewati Ridwan-Suswono sebelum pemungutan suara pada 27 November lalu. Sejumlah pengamat menyebut hal ini tidak lepas figur calon.
Hasil survei Litbang Kompas pada 20-25 Oktober 2024 menunjukkan, Pramono-Rano unggul dengan raihan 38,3 persen pemilih. Elektabilitasnya tidak berjarak signifikan dari Ridwan-Suswono dengan dukungan 34,6 persen pemilih.
Dharma-Kun meraih 3,3 persen pemilih. Sisanya masih terdapat 23,8 persen pemilih yang belum mengungkapkan pilihan dalam survei wawancara tatap muka terhadap 800 responden dengan margin of error (nirpencuplikan) sebesar 3,46 persen.
Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting, Saiful Mujani, menuturkan, Kang Emil sebagai petahana Gubernur Jawa Barat dan mantan Wali Kota Bandung punya elektabilitas tinggi di Jawa Barat. Sekalipun prestasinya tidak menonjol, tidak ada kesalahan besar atau menonjol.
”Keadaan demikian akan membuat petahana dipilih lagi seperti halnya gubernur sebelumnya. Pola semacam ini, peluang petahana lebih besar, berlaku umum di Tanah Air, kecuali ada kekuatan dan peristiwa khusus, seperti blunder besar, kinerja terlalu buruk, dan ada lawan dengan kekuatan luar biasa,” tutur Saiful pada Sabtu siang.
Hal tersebut berbeda dengan situasi di Jakarta. Ini ditambah secara suku bangsa, Jakarta lebih majemuk ketimbang Jawa Barat.
Menurut Saiful, suku Jawa dan Betawi dengan jumlah sekitar 60 persen lebih condong ke Pramono-Rano karena dinilai mewakili. Sementara di Jawa Barat mayoritas suku sunda sehingga homogen dan Kang Emil mewakilinya.
”Jakarta juga punya lapisan warga yang kritis terhadap pemerintah pusat dengan jumlah lebih besar. Para pendukung Anies dan Ahok adalah komponen besar dan kritis terhadap pemerintah pusat yang partainya mendukung Ridwan-Suswono,” kata Saiful.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/8fa603b4-c077-364f-aabd-418b7a165cc8_jpg.jpg)
Situasi ini berujung pada pendukung kedua mantan Gubernur DKI Jakarta itu mendukung Pramono-Rano. Keduanya berhasil mempersatukan pemilih yang kecewa dengan kinerja pemerintah pusat.
”Pasangan Pramono-Rano dianggap mewakili aspirasi mereka,” ujar Saiful.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno menyampaikan hal yang serupa. Kandang Kang Emil berada di Jawa Barat. Bahkan, dalam kondisi tutup mata pun ia bisa menang dalam pilkada di ”Bumi Pasundan”.
”Kang Emil kuat di Jawa Barat. Di Jakarta, Pramono-Rano unggul dari faktor figur dan mesin partai,” ujar Adi.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
neli trianaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan