Kapolresta Semarang Kombes Irwan Anwar meminta maaf atas tindakan Aipda Robig yang menembak mati Gamma. Irwan siap menerima konsekuensi atas tindakan anak buahnya.
03 Des 2024 12:25 WIB · Politik & Hukum
Dalam rapat dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (3/12/2024), Kepala Kepolisian Resor Kota Besar atau Kapolresta Semarang Komisaris Besar Irwan Anwar membeberkan kronologis peristiwa penembakan yang menewaskan Gamma Rizkynata Oktafandy (17) di Semarang.
Dari barang bukti seperti CCTV, rekaman video di telepon genggam sejumlah anak sebelum penembakan, hingga keterangan saksi, terduga pelaku penembakan Aipda Robig disebut empat kali menembak. Selain Gamma, ada dua anak lain yang terluka akibat tembakan tersebut. Sebelum penembakan, sempat terjadi tawuran antargeng yang diduga melibatkan Gamma.
Dalam penjelasan Irwan, sebelum peristiwa penembakan, persisnya sekitar pukul 23.00 WIB, Sabtu (23/11/2024), ada komunikasi di antara dua geng di Semarang untuk bertemu dan beradu atau tawuran di depan perumahan Paramount Village, Semarang. Kedua geng dimaksud ialah geng Seroja dan geng Tanggul. Komunikasi untuk tawuran melalui media sosial dan berlanjut melalui telepon genggam pun direalisasikan.
Sekitar pukul 00.10 WIB, Minggu (24/11/2024), tawuran terjadi. Namun, kedua geng sudah bertemu dan beradu di dekat PT ISTW, sebelum lokasi perumahan Paramount Village.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/02/80ad2711-084f-4609-9528-b8ab67c9b18b_jpg.jpg)
Semula tawuran disepakati dengan tangan kosong, tetapi di lapangan, geng Seroja mengeluarkan senjata tajam yang kemudian diikuti geng Tanggul.
Setelah itu, anggota geng Seroja tercerai-berai. Dua anggota geng dengan menggunakan sepeda motor lari ke arah Gunungpati dengan dikejar oleh tiga sepeda motor yang dikendarai oleh anggota geng Tanggul. Mereka semua disebut membawa senjata tajam.
Di tengah kejar-kejaran itu atau sekitar pukul 00.10 WIB, mereka berpapasan dengan Aipda Robig dari Polsek Gunungpati, Semarang, yang dalam perjalanan pulang, di depan Alfamart, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Motor Aipda Robig bahkan sempat harus keluar dari badan jalan akibat kejar-kejaran itu, plus anggota geng membawa senjata tajam.
Ia pun memutuskan untuk menghentikan kendaraannya seraya berharap para pesepeda motor tersebut kembali melalui jalan yang sama. Benar saja, mereka kembali, tetapi tinggal tersisa tiga pesepeda motor karena motor yang dibawa oleh anggota geng Seroja kabur masuk ke gang yang berada sekitar 100 meter dari lokasi Alfamart.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/03/4abd6120e967a0daf969b2707c26f8f0-semarang_4.png)
Saat ketiga motor melintas dengan kecepatan tinggi itulah, Aipda Robig melepaskan empat tembakan dari senjata apinya.
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jateng Ajun Komisaris Besar Helmi mengatakan, tembakan pertama merupakan tembakan peringatan ke atas. Aipda Robig juga sempat berteriak, menjelaskan bahwa dirinya polisi, tetapi tidak digubris.
Ia pun melepaskan tembakan kedua. Tembakan ini yang mengenai Gamma dan menewaskannya. Dari video yang direkam dengan telepon genggam pelaku tawuran, Gamma disebut berada di sepeda motor berwarna merah.
”Proyektil bersarang di bawah usus. Proyektil peluru ini kita kirim ke Puslabfor bersama barang bukti senjata api. Hari ini, kami dapat keterangan dari dokter puslabfor soal kesesuaian senjata api dan proyektil tersebut. Malam nanti, kami olah TKP (tempat kejadian perkara) untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi. Setelah olah TKP dan mendapat keterangan ahli, barulah kami tetapkan tersangka dalam kasus ini,” ujar Helmi.
Selanjutnya, untuk tembakan ketiga tidak mengenai satu pun pengendara sepeda motor. Baru pada tembakan keempat kembali mengenai pesepeda motor. Dua orang yang menggunakan sepeda motor yang sama dan berada di posisi terakhir, tertembak. Keduanya adalah berinisial MS (16) yang terkena luka tembak di tangan dan APH (17) yang keserempet tembakan di dada.
Tak hanya para korban penembakan, menurut Irwan Anwar, pengendara sepeda motor dari geng Seroja juga terluka akibat sabetan senjata tajam geng Tanggul. Hal ini terjadi saat anggota geng Tanggul mengejar anggota geng Seroja. Dalam video yang diambil polisi dari tangan anggota geng Seroja yang dikejar, salah satu anggota yang dibonceng juga membawa celurit.
Lebih lanjut Irwan Anwar mengatakan, pascapenembakan, Aipda Robig membawa para korban yang terkena tembakannya ke RS Karyadi, Semarang, untuk mendapatkan pertolongan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/03/9c7cdfc2-e085-450e-89f5-5520c582a6bb_jpg.jpg)
Kabid Propam Polda Jateng Kombes Aris Supriyono mengatakan, dari hasil pemeriksaan, Aipda Robig mengakui empat kali tembakan yang dikeluarkannya.
”Penembakan tidak terkait pembubaran tawuran, dan anggota ini benar-benar mau pulang dari kantor, dan bertemu satu kendaraan yang dikejar tiga kendaraan. Terduga pelanggar (Aipda Robig) lalu menunggu tiga orang itu putar balik (di Alfamart) sehingga terjadi penembakan,” tambahnya.
Robig kini tengah dalam penempatan khusus atau prosedur yang diterapkan kepada anggota Polri yang diduga melanggar disiplin atau kode etik. Menurut rencana, menurut Aris, hari ini sudah mulai digelar sidang kode etik terhadapnya, tetapi diputuskan ditunda besok.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/03/fb39b951-14d8-424a-b79b-7a585c16552b_jpg.jpg)
Atas tindakan anggotanya yang dinilainya tidak profesional, Irwan Anwar mengucapkan belasungkawa, khususnya kepada keluarga Gamma atas berpulangnya siswa SMKN 4 Semarang itu.
”Kami sebagai atasannya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya keluarga, atas segala tindakan dari anggota saya yang sudah mengabaikan prinsip-prinsip penggunaan kekuatan, abai dalam menilai situasi, teledor dalam menggunakan senjata api, dan telah mengambil tindakan berlebihan, tindakan yang tidak perlu,” ujar Irwan Anwar.
”Sepenuhnya saya siap bertanggung jawab. Saya siap dievaluasi, apa pun bahasanya, saya siap menerima konsekuensi dari peristiwa ini,” tambahnya.
Penulis:
Dian Dewi PurnamasariEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .