Hujan dan angin sepanjang Desember 2024 dinilai menjadi faktor pendorong turunnya tingkat polusi udara, terutama PM 2,5, di wilayah Jakarta.
25 Des 2024 13:22 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Polusi udara di Jakarta dinilai berkurang karena intensitas hujan sepanjang Desember 2024. Namun, warga tetap perlu memperhatikan kondisi kualitas udara sebelum beraktivitas, khususnya aktivitas luar ruang, agar aman dari paparan polusi.
Hujan sepanjang Desember 2024 dianggap menurunkan tingkat polusi udara, terutama PM 2,5 di Jakarta. PM 2,5 adalah konsentrasi partikel udara berukuran lebih kecil dari 2,5 mikrogram.
Situs pemantau kualitas udara Jakarta, yakni https://udara.jakarta.go.id/, mencatat, kualitas udara masuk kategori baik dan sedang di 31 stasiun pemantau pada Rabu (25/12/2024). Kategori ini mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 14 Tahun 2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Nilai ISPU Jakarta hingga Rabu siang berkisar 15-79. Merujuk beleid tersebut, nilai ISPU 0-50 masuk tingkat kualitas udara sangat baik sehingga masyarakat baik melakukan kegiatan di luar. Sementara nilai ISPU 51-100, berarti kualitas udara masih dapat diterima sehingga masyarakat masih bisa melakukan aktivitas di luar ruangan.
Apabila nilai ISPU di atas 100, kualitas udara masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya. Dalam kondisi ini, warga tidak dianjurkan beraktivitas di luar ruangan hingga wajib mengenakan masker.
Situs pemantau kualitas udara lainnya, yakni IQAir, melaporkan kualitas udara Jakarta masuk kategori sedang dengan tingkat PM 2,5 mencapai 19,5 mikrogram per meter kubik. Jumlah ini jauh dari ambang batas Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni rata-rata PM 2,5 per 24 jam sebesar 15 mikrogram per meter kubik.
Kondisi kualitas udara yang membaik ini dimanfaatkan warga untuk lebih banyak beraktivitas di luar ruangan. Mereka juga bisa menghirup udara tanpa terhalang masker.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/25/4b48877a-dad3-3138-bcb6-5b79b3fd1c33_jpg.jpg)
Lisda (30), pekerja kantoran di Jakarta, merasa lebih leluasa untuk jalan-jalan tanpa khawatir debu. Ia juga bisa mendapatkan bonus langit bersih dan pemandangan tak terhalang polusi.
”Senang beraktivitas di luar kalau udara bagus begini. Tidak perlu khawatir kesehatan terganggu. Apalagi kalau daya tahan tubuh turun, waswas keluar rumah, Gampang sakit,” kata Lisda.
Ia sekarang lebih peduli dengan kondisi kualitas udara dan dampaknya. Hal termudah yang dia lakukan ialah rutin mengecek pemantauan kualitas udara. Kemudian, ia mengikuti anjuran, seperti mengenakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.
Singgih (31) pun demikian. Warga Jakarta Timur ini lebih leluasa bepergian. ”Udara rasanya lebih segar. Padahal, biasanya kering dan berdebu,” kata Singgih.
Ia berharap pemerintah pusat dan daerah bisa kompak dalam mengendalikan polusi udara. Meskipun warga sepertinya sudah terbiasa berdampingan dengan polusi, mereka punya hak untuk mendapatkan udara bersih dan sehat.
”Lahir besar di Jakarta memang sudah terbiasa dengan polusi, tetapi apa peran pemerintah. Kan, tidak mungkin begini terus kotanya,” selorohnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/06/12/1c0537bd-a5ed-4ab5-93a6-9172a22a6084_jpg.jpg)
Ketua Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Ana Turyanti menyebut, data konsentrasi polutan udara, terutama PM 2,5, cenderung rendah menjelang akhir tahun 2024 ini. Sepanjang bulan Desember, konsentrasi PM 2,5 tertinggi ada pada akhir pekan pertama atau 7 Desember 2024. Setelah itu, kualitas udara cenderung membaik.
Menurut Ana, memasuki pekan kedua hingga akhir Desember ini, kualitas udara membaik dan konsentrasi polutan, khususnya partikulat, berada di bawah baku mutu harian. Hal tersebut didukung oleh peningkatan curah hujan dan kecepatan angin.
”Di samping itu, pada pekan kedua Desember, aktivitas masyarakat sudah berkurang jelang akhir semester anak-anak sekolah, dilanjutkan dengan libur jelang Natal dan Tahun Baru sehingga sebagian masyarakat melakukan perjalanan keluar kota atau tinggal di rumah saja,” kata Ana secara terpisah.
Kendati begitu, ia menyarankan warga untuk tetap memperhatikan kondisi kualitas udara agar aman dari paparan polutan. Salah satu caranya dengan mengenakan masker serta membatasi aktivitas di luar ruang jika tidak terlalu diperlukan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto menambahkan bahwa langkah pengendalian pencemaran udara terus berlangsung. Selain memperketat pengawasan terhadap sumber emisi bergerak dan tidak bergerak, pemerintah daerah di sekitar Jakarta didorong untuk lebih ketat dalam mengawasi industri di wilayah masing-masing.
”Kami juga memperketat uji emisi bagi pemilik kendaraan bermotor di Jakarta dan mengampanyekan perubahan perilaku masyarakat dengan beralih menggunakan moda transportasi publik, bersepeda, atau berjalan kaki untuk mobilisasi jarak dekat. Pelibatan masyarakat berperan penting dapat memperbaiki kualitas udara,” kata Asep.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .