Indonesia mengalahkan Malaysia 3-2 dalam Kejuaraan Asia Bulu Tangkis Beregu Campuran. ”Merah Putih” menjadi juara Grup B.
13 Feb 2025 17:31 WIB · Olahraga
QINGDAO, RABU — Apa pun bisa terjadi di lapangan. Istilah yang biasanya menggambarkan momen tak terduga itu terjadi saat tim bulu tangkis Indonesia melawan Malaysia. Skuad Indonesia harus membawa momen positif dan negatif dari laga itu saat menjalani perempat final Kejuaraan Asia Beregu Campuran di Qingdao, China.
Tim ”Merah Putih” menjalani pertandingan terakhir penyisihan Grup B pada Kamis (13/2/2025) setelah dipastikan lolos ke perempat final sehari sebelumnya. Namun, Komang Ayu Cahya Dewi dan kawan-kawan membawa misi lebih baik dibandingkan sekadar lolos, yaitu menjadi juara Grup B. Target tersebut bisa tercapai hanya dengan memenangi dua dari lima nomor.
Sebaliknya, Malaysia menjalani tugas wajib menang jika ingin tampil di perempat final, Jumat. Jika tidak, tiket babak delapan besar dari grup yang sama didapat Hong Kong yang dikalahkan Indonesia 0-5 pada Selasa, lalu menang 3-2 atas Malaysia.
Indonesia akhirnya mengakhiri langkah Malaysia dengan kemenangan 3-2. Dua negara yang memiliki sejarah panjang dalam persaingan bulu tangkis dunia itu mengalami momen naik-turun dalam ajang yang merupakan kualifikasi zona Asia untuk kejuaraan Piala Sudirman di Xiamen, China, 27 April-4 Mei.
Dengan masing-masing tiga tim yang bersaing dalam format round robin pada empat grup, hanya dua peringkat teratas setiap grup yang lolos ke perempat final. Tahap awal pada fase gugur ini mempertemukan juara grup dengan peringkat kedua dari grup berbeda melalui undian yang digelar setelah semua laga penyisihan grup selesai.
Kekuatan Indonesia dan Malaysia dari atlet yang dibawa terlihat jelas berdasarkan statistik prestasi: Indonesia unggul pada tunggal dan ganda putri. Sementara nomor andalan Malaysia adalah ganda campuran dan tunggal putra. Ganda putra menjadi nomor dengan kekuatan berimbang meskipun Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin baru berpasangan sejak Agustus 2024. Adapun andalan Malaysia, Man Wei Chong/Tee Kai Wun, datang sebagai semifinalis Malaysia Terbuka dan juara Indonesia Masters, pada Januari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/13/3eda80d88f5e9fb2b49282edf8b4794c-WhatsApp_Image_2025_02_13_at_12.12.14.jpeg)
Namun, keunggulan dari statistik di atas kertas, bahkan di lapangan, tak selalu bisa dijadikan patokan hasil sebelum pertandingan benar-benar berakhir. Indonesia, khususnya pemain tunggal putra, Yohanes Saut Marcellyno, mendapat pelajaran berharga itu.
Saut bermain pada partai ketiga melawan Leong Jun Hao setelah Indonesia unggul 2-0. Walaupun lawannya memiliki lebih banyak pengalaman dalam bermain di arena BWF World Tour dan kejuaraan beregu, Saut hampir membuat Indonesia menang dalam tiga partai beruntun ketika membuat match point, 20-17, pada gim kedua. Akan tetapi, sebuah momen yang tak sesuai ekspektasi membuyarkan fokusnya hingga Saut pun kalah dengan skor 21-11, 20-22, 12-21.
”Saat match point, ada situasi yang harusnya bola keluar, tetapi saya ambil, itu membuat fokus saya buyar. Selanjutnya, saya jadi merasa tidak yakin dan itu terbawa ke gim ketiga. Saya kecewa tidak bisa menyumbangkan poin bagi Indonesia,” kata Saut, yang tidak bermain saat melawan Hong Kong karena Indonesia menurunkan Alwi Farhan.
Sebelum momen match point yang didapat Saut, peluang Indonesia unggul dalam tiga laga awal dibuka oleh kemenangan Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti pada partai pertama. Indonesia mencuri nomor ganda campuran ini dari Malaysia setelah Dejan/Fadia mengalahkan Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie 17-21, 21-13, 21-18.
Becermin dari peta persaingan dunia, Malaysia seharusnya tak kehilangan nomor ganda campuran. Mereka memiliki empat pasangan pada peringkat 20 besar dunia, termasuk dua pasangan yang dibawa ke Qingdao, yaitu Goh/Lai yang menempati ranking keempat dunia dan Hoo Pang Ron/Chen Su Yin di posisi ke-15. Sementara Dejan/Fadia dan Rinov Rivaldy/Lisa Ayu Kusumawati baru berpasangan sejak Januari 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/13/8d7633f163143564b3f02de74b2cd85e-WhatsApp_Image_2025_02_13_at_10.08.22.jpeg)
”Alhamdulillah, hari ini bisa menyumbang poin dan bermain dengan baik, tetapi pada awal kami masih meraba-raba harus bermain seperti apa. Menjelang akhir gim pertama, lalu pada gim kedua dan ketiga, kami akhirnya bisa mengatasi tekanan,” komentar Dejan.
Meskipun menang, ada catatan yang harus diperhatikan Dejan/Fadia jika bermain lagi pada laga-laga berikutnya. Mereka unggul hingga delapan angka, 12-4, pada gim ketiga, tetapi lawan bisa menyamakan skor pada posisi 16-16.
Goh/Lai mempercepat permainan setelah interval pada gim penentuan ini untuk mengatasi pola main Dejan/Fadia yang lebih lambat karena mencoba bertahan lebih dulu sebelum menyerang. Laju penambahan poin Goh/Lai akhirnya bisa dihentikan setelah Dejan dan Fadia saling mengingatkan untuk percaya diri. Selain itu, mereka berusaha untuk mengurangi kesalahan, hingga bisa kembali unggul sejak 17-16.
Selain ganda campuran, kemenangan juga didapat setelah mempertahankan nomor tunggal dan ganda putri yang memang seharusnya menjadi keunggulan Indonesia. Tanpa kehadiran ganda putri Malaysia ranking kelima dunia, Pearly Tan/Thinaah Muralitharan, Indonesia bisa memanfaatkan kesempatan tersebut.
Komang Ayu Cahya Dewi mengalahkan Karupathevan Letshanaa 21-12, 21-19 pada partai kedua. Sementara Rachel Alessya Rose/Meilysa Trias Puspitasari menang atas Go Pei Kee/Teoh Mei Xing 18-21, 21-7, 21-17 dalam laga selama 1 jam 26 menit. Adapun persaingan ganda putra berakhir dengan selisih tipis. Man/Tee menang 25-27, 21-17, 23-21 setelah menggagalkan dua match point Fikri/Daniel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/13/c6397ffbe912e7c5a552493540bbcf30-WhatsApp_Image_2025_02_13_at_13.47.08.jpeg)
”Puji Tuhan, senang bisa menyumbang poin kemenangan untuk Indonesia. Senang juga karena bisa lepas dari ketegangan. Jujur, kami tegang di pertandingan ini karena kami punya pengalaman kurang baik di posisi seperti ini. Kami sering kalah, sangat bersyukur saat menang hari ini,” tutur Rachel.
Pertandingan Rachel/Meilysa melawan Go/Teoh menjadi yang terlama dalam persaingan Indonesia melawan Malaysia. Kecuali tunggal putri, empat nomor lain masing-masing berdurasi lebih dari 1 jam sehingga total lima pertandingan berlangsung 5 jam 33 menit. Ditambah dengan waktu jeda di antara pertandingan, persaingan Indonesia dan Malaysia berjalan selama 6 jam 10 menit.
Kami sering kalah, sangat bersyukur saat menang hari ini.
Durasi tersebut lebih lama dibandingkan pertandingan Korea Selatan melawan India (3-2) yang selama 4 jam 28 menit di Grup D. Korea Selatan menjadi juara grup tersebut, diikuti India.
Dari grup lain, tim yang lolos ke perempat final dan menjalani perebutan juara grup pada Kamis malam adalah China dan Taiwan (Grup A) serta Jepang dan Thailand (Grup D). Empat tim semifinalis berhak tampil di Piala Sudirman.
Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti vs Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie 17-21, 21-13, 21-18
Komang Ayu Cahya Dewi vs Karupathevan Letshanaa 21-12, 21-19
Yohanes Saut Marcellyno vs Leong Jun Hao 21-11, 20-22, 12-21
Rachel Allessya Rose/Meilysa Trias Puspitasari vs Go Pei Kee/Teoh Mei Xing 18-21, 21-7, 21-17
Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin vs Man Wei Chong/Kai Wun Tee 27-25, 17-21, 21-23
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar Alexey