Postecoglou, Korban Teranyar Disorientasi Tottenham Hotspur

Pemecatan Postecoglou cukup masuk akal di satu sisi. Namun, di sisi lain, itu kembali memperlihatkan disorientasi Spurs sebagai salah satu klub papan atas.

07 Jun 2025 08:07 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Pelatih Ange Postecoglou sempat berjanji ke para penggemar Tottenham Hotspur, musim ketiganya akan lebih baik lagi dibandingkan musim kedua. Janji itu terdengar realistis, tetapi tidak akan pernah terwujud. Postecoglou didepak hanya dua pekan setelah mengantar Spurs juara untuk pertama kali dalam 17 tahun terakhir.

Spurs mengumumkan perpisahan dengan sang pelatih lewat rilis di situs resmi klub, pada Jumat (6/6/2025) WIB. Klub mengucapkan terima kasih kepada Postecoglou karena berhasil meraih trofi Liga Europa pada musim ini. Namun, prestasi itu akan menjadi kontribusi terakhirnya bersama “Si Lili Putih”.

Alasan utama Postecoglou dipecat adalah hasil di Liga Inggris. Mereka finis di peringkat ke-17 atau yang terendah sepanjang sejarah klub di Liga Primer Inggris. “Meski memenangkan Liga Europa merupakan salah satu momen terhebat, kami tidak dapat mendasarkan keputusan dengan emosi sesaat,” jelas pihak klub.

Pemilik Spurs Daniel Levy tidak puas dengan inkonsistensi yang ditampilkan Son Heung-min dan rekan-rekan sepanjang musim. Mereka bermain cukup baik di Liga Europa, tetapi sangat buruk di liga domestik. Adapun liga domestik yang memainkan 38 laga dalam semusim lebih dijadikan tolak ukur performa klub.

Spurs mencatatkan rekor 11 menang, 5 seri, dan 22 kalah pada musim 2024-25. Mereka bermain sangat ofensif dan menjadi salah satu tim tersubur dengan 64 gol, tetapi kemasukan 65 gol pada saat bersamaan. Spurs hanya menghasilkan 38 poin, menurun drastis dibandingkan musim pertama Postecoglou (66 poin).

Tottenham Hotspur manager Ange Postecoglou celebrates with the trophy in front of fans after the final whistle in the UEFA Europa League final against Manchester United at the Estadio de San Mames in Bilbao, Spain, Wednesday, May 21, 2025. (Nick Potts/PA via AP)

Sebagai konteks, penurunan tersebut turut dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya badai cedera yang mendera skuad Spurs sepanjang musim. Dari bek Micky van de Ven sampai sang penyerang Son bergantian memasuki ruang perawatan. Menurut The Athletic, hanya bek sayap Pedro Porro yang bermain lebih dari 75 persen dalam keseluruhan menit Spurs di Liga Inggris. Mayoritas pemain di bawah 50 persen.

Cedera sering kali dihubungkan dengan keberuntungan. Namun, di Spurs, ada faktor lain yang diduga berperan besar terhadap badai cedera tersebut. Itu adalah gaya main ofensif ala Postecoglou atau “Angeball” yang membutuhkan fisik prima sepanjang 90 menit. Para pemain selalu menampilkan garis pertahanan ekstra tinggi dan menekan intens setelah kehilangan bola, bahkan dalam posisi unggul.

Skuad “Si Lili Putih” sering dipaksa berlari lebih banyak dan sering dibandingkan tim lawan. Catatan pada awal musim lalu, Oktober 2024, yang dikeluarkan BBC Sport bisa sedikit menggambarkan kerja keras para pemain Spurs. Spurs tercatat sebagai tim dengan jumlah sprint terbanyak, 1.078 kali, setelah dua bulan liga berjalan.

Seperti bukan kebetulan, mayoritas para pemain Spurs menderita masalah otot. Masalah itu biasanya berkaitan dengan manajemen beban kerja yang terlampau besar di lapangan, tidak sekadar tentang nasib buruk. Artinya, Postecoglou secara tidak langsung berkontribusi terhadap badai cedera yang dialami klub.

Selanjutnya, tentang kesinambungan “Angeball”. Apakah sistem itu bisa membawa konsistensi untuk Spurs bersaing di papan atas? Hal itu belum bisa dibuktikan oleh Postecoglou. Dia belum menemukan ekulibrium antara gaya bermain ofensif dan soliditas pertahanan timnya, seperti yang terlihat dalam dua musim terakhir.

Tottenham's head coach Ange Postecoglou speaks with Son Heung-min during the Europa League final soccer match between Tottenham Hotspur and Manchester United at the San Mames Stadium in Bilbao, Spain, Wednesday, May 21, 2025. (AP Photo/Manu Fernandez)

Spurs memang finis di peringkat kelima pada musim lalu. Akan tetapi, jumlah kemasukan mereka sangat banyak dengan mencapai 61 gol. Tidak ada tim yang bisa bersaing juara dengan kemasukan sebanyak itu. Gaya main Spurs terlalu terbuka untuk bisa mengamankan tiga poin dengan konsisten di setiap pekan.

Adapun laga final Piala Europa menjadi paradoks bagi Postecoglou. Sang pelatih mengantarkan gelar juara itu dengan gaya bermain pragmatis ketika menghadapi Manchester United. Dia selalu dibanggakan berkat “Angeball”, tetapi justru tidak yakin dengan cara tersebut dalam laga terpenting klub.

Disorientasi Spurs

Keputusan Levy untuk mendepak Postecoglou mungkin terlihat masuk akal. Namun, pandangan berbeda akan muncul jika ditarik dari perspektif lebih lebar. Satu dekade terakhir, misalnya. Pemecatan Postecoglou hanya menunjukkan disorientasi Spurs sebagai klub “Enam Besar Klasik” yang masih terjerat status medioker.

Prioritas Spurs saat merekrut Postecoglou dan beberapa musim terakhir adalah mendatangkan trofi. Mereka membutuhkan gelar juara untuk mengakhiri paceklik gelar sejak 2008. Oase diperlukan demi mengembalikan kepercayaan diri seisi klub maupun penggemar.

Postecoglou berhasil menciptakan oase tersebut, tetapi dipecat tidak lama setelah mendatangkan trofi. Sang pelatih bahkan tidak diberikan kesempatan sedikit lagi untuk memulai musim ketiga di Spurs. Padahal, dia sedang berada dalam momentum terbaik sepanjang melatih “Si Lili Putih” dalam dua musim terakhir.

Disorientasi Spurs terlihat semakin jelas jika melihat nasib pelatih-pelatih sebelumnya. Mauricio Pochettino dipecat hanya beberapa bulan setelah mengantar klub ke final Liga Champions pertama. Sementara itu, Jose Mourinho didepak tepat enam hari sebelum laga final Piala Liga Inggris.

Manajer Tottenham Hotspur Jose Mourinho (kiri) bereaksi ketika gelandang Manchester United Daniel James (kedua dari kiri) terjatuh bersama dengan gelandang Tottenham Hotspur Harry Winks (kedua dari kanan) pada pertandingan Liga Inggris antara Manchester United melawan Tottenham Hotspur di Stadion Old Trafford, Manchester, Kamis (5/12/2019) dini hari.

Mourinho tidak akan pernah melupakan insiden paling ajaib dalam kariernya tersebut. “Satu-satunya klub yang belum begitu saya cintai adalah Tottenham. Mungkin karena stadion kosong akibat pandemi Covid-19 atau Levy yang tidak membiarkan saya menang di final dan meraih trofi,” katanya pada Mei 2023, sekitar dua tahun setelah dipecat.

Tidak ada yang benar-benar tahu keinginan Levy. Spurs sudah mengganti empat pelatih dalam enam tahun terakhir, tidak termasuk pelatih interim. Ada pelatih bertipe pragmatis yang lebih mengutamakan hasil, seperti Mourinho dan Antonio Conte. Ada pula Postecoglou yang membawa permainan ofensif nan menghibur. Namun, semua berujung dipecat sebelum memasuki musim ketiga.

Ucapan blak-blakan Conte beberapa hari sebelum dipecat mungkin ada benarnya. Dia mengisyaratkan, klub susah maju karena sang pemilik seperti sudah menerima status medioker selama ini. Itu yang membuat karier Conte tercoreng bersama “Si Lili Putih”, saat nyaris selalu mampu menorehkan tinta emas di setiap klub yang didatangi.

Spurs terkenal dengan slogan “to dare is to do” yang mengaitkan keberanian dan tindakan. Masalahnya, mereka berani mengambil keputusan berisiko, tetapi lebih sering terjerumus ke arah yang salah. Keberanian itu sering muncul pada saat tidak perlu, seperti saat ini. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .