Paus Leo XIV mendorong kaum muda Katolik untuk berani radikal dalam berbuat baik.
03 Agt 2025 13:51 WIB · Internasional
Ratusan ribu kaum muda Katolik dari seluruh dunia mengelu-elukan Paus Leo XIV saat menghadiri dan memimpin ibadah malam Yubileum Pemuda di Lapangan Tor Vergata, Roma, Sabtu (2/8/2025). Paus Leo tiba dengan helikopter dan mendarat tak jauh dari lokasi berkumpulnya kaum muda dari 150 negara. Sebelum mendarat, helikopter berkeliling melihat perkemahan yang menjadi tempat tinggal para pemuda.
Dalam khotbahnya saat memimpin ibadat malam, Paus Leo mendesak ratusan ribu kaum muda yang berkumpul agar berani membuat pilihan radikal untuk berbuat baik. Perkataan ini disambut gemuruh tepuk tangan lautan manusia yang berkumpul di lapangan. Sepanjang hari, truk-truk tangki air berkeliling menyemprotkan air untuk membantu mendinginkan diri dari suhu 30 derajat celsius.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/03/668e5382-d1d9-4771-a200-c4b6815357fe_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/03/9e3cbb2a-a782-4214-b854-027aee3b5c9a_jpg.jpg)
Paus Leo juga menunjukkan kefasihannya berbicara dalam bahasa Spanyol, Italia, dan Inggris tentang bahaya media sosial, nilai persahabatan sejati. Paus juga menekankan perlunya keberanian untuk membuat pilihan radikal, seperti pernikahan atau janji agama. ”Persahabatan sungguh dapat mengubah dunia. Persahabatan adalah jalan menuju perdamaian,” ujarnya.
Paus pertama asal Amerika Serikat ini juga kembali menekankan pentingnya misionari Injil yang menjadi saksi atas keadilan dan perdamaian di dunia. Paus Leo kembali ke lapangan untuk memimpin misa Minggu pagi sekaligus menutup acara.
Selama seminggu terakhir, kelompok-kelompok muda Katolik dari seluruh dunia berdatangan ke Vatikan. Mereka berpartisipasi dalam ziarah yang telah berlangsung berabad-abad ke pusat agama Katolik. Anak-anak muda ini menyusuri jalanan berbatu dengan kaus oblong dan sandal, berdoa Rosario, dan menyanyikan lagu rohani diiringi gitar, drum bongo, dan rebana yang bergoyang-goyang.
Dengan menggunakan bendera negara masing-masing untuk melindungi diri dari terik matahari, mereka menguasai seluruh piazza untuk konser rock Kristen dan ceramah inspiratif. Mereka juga rela berdiri berjam-jam di Circus Maximus untuk antre mengaku dosa kepada 1.000 pastor yang menyampaikan sakramen pengakuan dalam belasan bahasa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/03/ed962acc-d0ad-421a-bfb4-adbc7b661692_jpg.jpg)
”Ini sesuatu yang spiritual, yang hanya bisa Anda alami setiap 25 tahun sekali,” kata Francisco Michel, seorang peziarah dari Meksiko. Ia juga merasa beruntung memiliki kesempatan bertemu dengan Paus Leo.
Kegiatan ini berawal dari festival Katolik Woodstock yang diresmikan dan dipopulerkan oleh Santo Yohanes Paulus II di Roma pada tahun 2000 di Lapangan Tor Vergata, di tempat yang sama. Saat itu, di hadapan sekitar 2 juta orang, Yohanes Paulus II menyampaikan kepada para peziarah muda bahwa mereka adalah ”penjaga fajar” di awal milenium ketiga.
Kedatangan ratusan ribu kaum muda dan peziarah ini membuat kota Roma penuh sesak. ”Agak berantakan, tetapi inilah yang menyenangkan dari Yubileum,” kata Chloe Jobbour, seorang Katolik asal Lebanon berusia 19 tahun.
Ia berada di Roma bersama lebih dari 200 anggota muda Komunitas Ucapan Bahagia, sebuah kelompok karismatik yang berbasis di Perancis. Ia juga bercerita pengalaman memesan makanan cepat saji yang antre hingga dua jam karena banyaknya pesanan. Namun, pengalaman itu tak menyurutkan niatnya untuk terus mengikuti semua agenda kegiatan.
Peron kereta bawah tanah penuh sesak, demikian juga dengan halte bus dan jalan-jalan umum di Roma. Penduduk mengantisipasi dengan berangkat kerja lebih pagi atau mengambil rute alternatif untuk menghindari kemacetan yang terjadi.
”Anda menganggap invasi sebagai sesuatu yang negatif. Namun, ini invasi yang positif,” ujar Rina Verdone, seorang warga yang tinggal di dekat Lapangan Tor Vergata. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan