Gempa meratakan desa-desa dan menewaskan lebih dari 800 orang.
02 Sep 2025 11:10 WIB · Internasional
Foto terbaru yang dirilis kantor berita AP dan AFP menunjukkan dampak dan daruratnya keadaan di Afghanistan. Kontur di perbukitan menyebabkan hanya helikopter yang sementara bisa menjangkau lokasi gempa. Warga yang selamat menggendong korban luka ke tanah lapang agar bisa mendapat perawatan medis saat helikopter bantuan mendarat.
Beberapa warga yang parah di bawa ke daerah lain dengan helikopter. Adapun korban yang masih berjalan dipapah oleh warga lain menjauh dari lokasi gempa. Di tanah datar yang agak luas, korban dikumpulkan untuk memudahkan mendapat perawatan. Batang-batang kayu didirikan sebagai tempat gantungan cairan infus. Bangku panjang dan tempat tidur digunakan sebagai pengganti tandu untuk mengangkut korban.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/8886b076-4c66-47d1-88de-3981bf1bd02a_jpg.jpg)
Diperkirakan masih banyak korban di reruntuhan rumah-rumah. Regu penolong yang sangat terbatas jumlahnya bersama warga yang selamat berusaha mengevakuasi dan mencari korban yang masih hidup. Korban tewas, beberapa di antaranya anak-anak, dibungkus dengan kain kafan putih dan dikuburkan oleh penduduk desa.
Gempa bermagnitudo 6,0 pada Minggu (31/8/2025) malam mengguncang kota-kota di Provinsi Kunar, dekat kota Jalalabad di provinsi tetangga Nangarhar. Gempa mengakibatkan kerusakan parah. Beberapa desa yang paling parah terkena dampak di Kunar masih tidak dapat diakses karena putusnya akses jalan.
Warga Afghanistan yang putus asa berjuang di antara puing-puing untuk mencari orang-orang terkasih yang hilang setelah gempa bumi kuat menewaskan sekitar 800 orang dan melukai lebih dari 2.500 orang di Afghanistan timur.
Seorang warga di Ddistrik Nurgal, salah satu daerah yang paling parah terkena dampak di Kunar, mengatakan hampir seluruh desa hancur. Banyak anak dan warga lansia yang tertimbun reruntuhan. Menurut Survei Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa terjadi tepat sebelum tengah malam yang berpusat 27 kilometer di timur-timur laut Jalalabad pada kedalaman 8 kilometer.
Rekaman menunjukkan tim penyelamat membawa orang-orang yang terluka dengan tandu dari bangunan yang runtuh dan ke helikopter. Sementara itu, orang-orang dengan panik menggali puing-puing dengan tangan mereka.
Bangunan-bangunan di Afghanistan sebagian besar terbuat dari beton dan bata, sementara rumah-rumah di daerah perdesaan dan pinggiran kota terbuat dari bata lumpur dan kayu. Gempa menyebabkan banyak korban karena kontruksi rumah yang buruk.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/e1349484-a0dd-487e-883f-4a9380e6d5ea_jpg.jpg)
Afghanistan sering dilanda gempa bumi, terutama di pegunungan Hindu Kush, dekat pertemuan lempeng tektonik Eurasia dan India.Pada bulan Oktober 2023, provinsi Herat bagian barat dihancurkan oleh gempa bumi berkekuatan 6,3 skala Richter, yang menewaskan lebih dari 1.500 orang dan merusak atau menghancurkan lebih dari 63.000 rumah.
Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter melanda provinsi timur Paktika pada bulan Juni 2022, menewaskan lebih dari 1.000 orang dan menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Selain bencana, Afghanistan tengah berjaung menghadapi krisis ekonomi dan krisis kemanusiaan setelah perang selama beberapa dekade. Sejak kembalinya Taliban pada tahun 2021, bantuan luar negeri ke Afghanistan telah dipotong, yang melemahkan kemampuan negara miskin tersebut untuk menanggapi bencana.
Afghanistan juga termasuk salah satu negara termiskin di dunia. Sekitar 85 persen penduduk Afghanistan hidup dengan kurang dari satu dolar sehari, menurut Program Pembangunan PBB. Masuknya jutaan warga Afghanistan yang dipaksa kembali ke negaranya oleh negara tetangga Pakistan dan Iran dalam beberapa tahun terakhir membuat situasi ekonomi yang berat bagi pemerintah. Kini AFghanistan menunggu uluran tangan internasional untuk mengatasi bencana alam ini. (AP/AFP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan