Harmoni alam, musik, dan manusia dalam Forestra 2025.
01 Sep 2025 17:05 WIB · Musik
Di bawah keteduhan hutal Cikole, Lembang, Jawa Barat, pelan-pelan ratusan penonton berbaris antre menunggu arahan panitia, Sabtu (30/8/2025). Walaupun telah diberi tahu bahwa panitia menyediakan tikar atau alas duduk, beberapa di antara mereka masih membawa sendiri.
Menjelang sore, penonton yang berjumlah ribuan telah memadati area panggung. Kontur Cikole yang berundak dan tata panggung dibuat agar semua penonton dapat melihat pertunjukan dengan nyaman. Sebelumnya, sejak pukul 11.00 WIB, telah dilangsungkan diskusi dan pertunjukan musik di beberapa panggung di sekitar pintu masuk.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/01/5b6ad06c-4705-44b2-8ec0-1da9faccdea4_jpg.jpg)
Di panggung utama The Panturas menjadi penampil pertama Forestra 2025. Penonton bersenandung mengikuti suara sang vokalis. Penampilan energik mereka menghangatkan penonton yang mulai berdesakan di hamparan rumput. Penampilan tunggal Iksan skuter menyusul kemudian. Setelah itu, musik diistirahatkan untuk memberikan kesempatan kepada penonton beribadah shalat Magrib.
Hujan yang turun menjelang dimulainya pertunjukan pukul 19.15 WIB membuat panitia dengan berat hati mengumumkan untuk menunda pertunjukan demi keselamatan. Hamparan rumput menjadi berkilau oleh beraneka warna jas hujan yang dikenakan penonton. Hujan yang terus turun membuat duet Creative Director Jay Subyakto dan Music Director Erwin Gutawa tampil sendiri mengumumkan penundaan.
Saat hujan berganti rintik gerimis, pertunjukan kembali dilanjutkan, dimulai dengan mengheningkan cipta dan berdoa untuk kondisi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja.
Lagu ”Sabda Alam” karya almarhum Chrisye menjadi lagu pembuka orkestra. Penonton riuh menyambut dengan tepuk tangan. Kabut yang masih terlihat tebal membuat sorot lampu dan pandangan ke panggung agak berkurang Namun, hal itu tidak menyurutkan minat penonton. Menjelang malam, kabut menghilang.
The Sigit, Voiece of Baceprot Ensemble Tikoro, dan Raja Kirik makin menghangatkan penonton yang sebagian basah dan kedinginan. Penampilan VoB di tengah hutan membuat suasana berbeda. Sorot permainan lampu menambah pertunjukan makin megah. Saat Sal Priadi membawakan lagu ”Gala Bunga Matahari” yang dipersembahkan untuk pengemudi ojok daring yang menjadi korban kekerasan polisi, penonton berteriak lantang mengecam peristiwa itu.
Di rerimbunan pohon juga ditampilkan wajah Affan beserta pesan yang mendalam. Penyelenggara berharap Forestra 2025 tidak hanya menjadi perayaan musik dan seni, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang Affan Kurniawan. Dalam Instagramnya, Forestra menuliskan berterima kasih kepada penonton yang hadir dan turut mengheningkan cipta. Semoga Affan beristirahat dengan tenang dan semoga kisahnya terus menjadi bagian dari perjalanan Indonesia.
Penampilan Bernadya di kotak putih yang terletak dipanggung yang paling tinggi menjadi kejutan untuk penonton. Penyansi asal Surabaya ini menyanyikan lagu-lagu populernya, mulai dari ”Satu Bulan”, ”Kata Mereka Ini Berlebihan” dan ”Untungnya”, serta lagu penutup yang dinyanyikan sambil membuat tulisan ”Hidup Tetap Harus Berjalan”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/01/6c53e4a1-73d1-460a-818d-d9d85c881346_jpg.jpg)
Reza Artamevia menjadi pemuncak penampilan malam itu. Salah satu diva Indonesia itu menyanyikan lagu-lagi hitsnya sejak awal menjadi penyanyi. Penonton ikut menyanyikan saat Reza membawakan lagu ”Cintakan Membawamu Kembali”, ”Aku Wanita”, ”Dia”, dan lagu ”Berharap Tak Berpisah”.
Penampilan Om Leo Berkaraoke menjadi penutup pergelaran Forestra 2025, sebuah pertunjukan musik orkestra terbesar di Indonesia yang diadakan di hutan.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji