Prabowo ke Pakistan Bahas Isu Iklim

Presiden RI dan Pakistan antara lain akan membahas isu iklim kala bertemu di Islamabad. Indonesia sedang merasakan dampak perubahan iklim dalam bencana di Sumatera.

08 Des 2025 11:13 WIB · Internasional

BIRO PERS SEKRETARIAT PRESIDEN

Oleh Kris Mada

JAKARTA, KOMPAS — Kedutaan Besar Pakistan di Jakarta mengumumkan lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Islamabad, Pakistan. Kunjungan pada 8-9 Desember 2025 itu disebut diikuti sejumlah menteri dan pejabat tinggi RI.

Kedubes Pakistan mengumumkan rencana lawatan itu pada Minggu (7/12/2025). Sementara media Pakistan, Dawn, melaporkan, Prabowo mendarat di Islamabad pada Senin (8/12/2025) siang waktu setempat.

Lawatan kali ini merupakan kunjungan perdana Prabowo ke Pakistan. Pada 2018, Presiden Joko Widodo menyambangi Pakistan.

Prabowo disebut datang untuk memenuhi undangan Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shehbaz Sharif. Selain Sharif, Prabowo akan diterima Presiden Asif Ali Zardari dan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir.

Dalam pertemuan dengan Zardari dan Sharif, menurut Kedubes Pakistan, Prabowo terutama akan membahas soal kerja sama RI-Pakistan. Isu perubahan iklim termasuk menjadi salah satu rencana bahasan.

Indonesia tengah menghadapi dampak nyata perubahan iklim. Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sudah hampir dua pekan terendam banjir. Bencana itu menewaskan hampir 1.000 orang dan menghilangkan ratusan orang lainnya.

Presiden Prabowo Subianto ketika meninjau dapur umum korban bencana banjir dan longsor di Kabupaten Bireuen, Aceh, Minggu (7/12/2025).

Kedubes Pakistan melanjutkan, RI-Pakistan sejak lama berhubungan dekat pada berbagai sektor. Jakarta-Islamabad memiliki dan berbagi aneka nilai dan prinsip bersama. ”Lawatan Presiden Prabowo menjadi kesempatan penting untuk mendalamkan relasi bilateral dan meningkatkan kerja sama saling menguntungkan,” demikian Kedubes Pakistan.

Sementara Dawn mengutip pernyataan pejabat di Kementerian Luar Negeri Pakistan. Aneka isu akan dibahas untuk meningkatkan relasi Jakarta-Islamabad.

Militer dan intelijen RI-Pakistan pernah amat dekat. Di tengah serbuan Uni Soviet ke Afghanistan, Indonesia mengirimkan bantuan ke Afghanistan lewat Pakistan.

Pengiriman itu antara lain dibahas dalam buku karya jurnalis Kompas, Julius Pour. Kepada Pour, mendiang LB Moerdani menceritakan bahwa bantuan itu antara lain senjata yang dibeli Indonesia dari Israel. Pengiriman itu disebut ”Operasi Karpet Terbang”.

Kini, relasi Pakistan-Afghanistan memburuk. Beberapa kali terjadi baku tembak di perbatasan kedua negara. Aparat Pakistan baku tembak dengan Taliban dan milisi terafiliasi dengan Taliban.

Baku tembak terbaru pecah pada Jumat pekan lalu. Islamabad-Kabul saling menyatakan jadi sasaran serangan tanpa alasan. ”Pakistan memulai menyerang Afghanistan di Kandahar, Spin Boldak, dan pasukan Emirat Islam terpaksa membalas,” kata juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, soal serangan itu.

Taliban menyebut pemerintahannya sebagai Emirat Islam Afghanistan. Nyaris tidak ada negara mana pun mengakui pemerintahan Taliban yang kembali menguasai mayoritas Afghanistan sejak 2021.

Sementara juru bicara kantor PM Pakistan, Mosharraf Zaidi, menyebut, baku tembak pada Jumat malam terjadi akibat serangan Taliban. ”Balasan yang cepat, tepat, dan intensif telah diberikan oleh angkatan bersenjata kita,” katanya.

Warga di lokasi baku tembak menyebut, tembakan dan ledakan terdengar sejak pukul 22.30 waktu setempat. warga mendengar suara tembakan selama dua jam.

Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Kandahar, Ali Mohammed Haqmal, menyebut Pakistan menggunakan artileri berat. Sebagian rumah di Kandahar rusak akibat mortir Pakistan. Ledakan juga terdengar di Chaman, Pakistan. Tidak ada korban jiwa dalam baku tembak pada Jumat lalu. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan