Prabowo Kumpulkan Menteri Bahas Kebijakan Subsidi

Rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto untuk menindaklanjuti program Prabowo yang disampaikan saat pidato di MPR, 20 Oktober lalu.

30 Okt 2024 11:25 WIB · Politik & Hukum

Oleh Iqbal Basyari - [email protected]

Presisen Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan) didampingi Menko Polkam Budi Gunawan saat sidang kabinet paripurna perdana di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/10/2024). Rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dihadiri semua anggota kabinet Merah Putih yang berjumlah 48 menteri serta 12 pejabat setingkat menteri. Dalam arahannya, Prabowo menekankan salah satunya percepatan pengentasan kemiskinan di Tanah Air. Kompas/Hebdra A Setyawan

JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri Kabinet Merah Putih ke Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/10/2024), untuk membahas kebijakan soal subsidi.

Informasi yang dihimpun Kompas, Presiden diagendakan menggelar rapat tersebut di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/10/2024) pukul 14.00. Rapat terbatas perdana itu juga akan dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Sejumlah menteri yang dipanggil adalah menteri koordinator dan menteri teknis yang terkait dengan kebijakan subsidi. Di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Menteri Perdagangan Budi Santoso.

Selain itu, Prabowo juga mengundang Komisaris dan Direktur Utama PT Pertamina serta Komisaris dan Direktur Utama PT PLN.

Presiden Prabowo Subianto beri hormt saat dikumandangkannya lagu Indonesia Raya saat pelantikan wakil menteri (wamen) kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/10/2024). Tidak seperti di era pemerintahan sebelumnya yang jumlah wamen hanya satu sampai dua orang, di kabinet Prabowo ini, seorang menteri bisa didampingi hingga tiga wamen. Jika jumlah wamen ini diakumulasi dengan jumlah menteri dan Kepala lembaga di luar koordinasi kementerian koordinator (kemenko), berarti total ada 109 orang di kabinet Prabowo-Gibran. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

Rapat tersebut merupakan tindak lanjut dari pidato perdana Presiden Prabowo setelah mengucapkan sumpah dan janji Presiden di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Saat itu, Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya akan memastikan seluruh bantuan dan subsidi untuk masyarakat kelas bawah tepat sasaran.

”Semua subsidi dan bantuan kepada rakyat yang masih dalam kesulitan harus dipastikan sampai kepada mereka yang membutuhkan,” kata Prabowo kala itu.

Prabowo menegaskan bahwa pemerintah akan berani meneliti dan memantau alur bantuan serta subsidi agar lebih tepat sasaran. Bahkan, jika diperlukan, pemerintah akan mengubah subsidi agar langsung diberikan kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan. Pemberian subsidi juga akan memanfaatkan teknologi dan digitalisasi.

Dengan demikian, Prabowo optimistis bahwa subsidi dan bantuan akan mencapai setiap keluarga yang membutuhkan. ”Tidak boleh ada aliran bantuan yang tidak sampai kepada mereka yang membutuhkan,” ucap Prabowo.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (tengah) bersama (duduk kiri ke kanan) Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator (Menko) Pangan Zulkifli Hasan, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menkopolkam Budi Gunawan sebelum dimulainya sidang kabinet paripurna perdana di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/10/2024). Rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dihadiri semua anggota kabinet Merah Putih yang berjumlah 48 menteri serta 12 pejabat setingkat menteri. Dalam arahannya, Prabowo menekankan salah satunya percepatan pengentasan kemiskinan di Tanah Air. Kompas/Hebdra A Setyawan

Sebelumnya, sebagian ekonom memperkirakan subsidi energi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM) akan meningkat. Hal ini disebabkan fluktuasi harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

Dosen Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti, Jakarta, Pri Agung Rakhmanto, Minggu, berpendapat, perkembangan geopolitik serta kondisi pasokan dan permintaan (supply and demand) minyak yang selama ini relatif dikondisikan ketat cenderung berpotensi membuat harga minyak dunia akan kembali di atas asumsi makro APBN 2024/2025, yang sebesar 82 dollar AS per barel.

”Itu berpotensi meningkatkan defisit APBN karena subsidi energi dan kompensasi BBM (bahan bakar minyak) yang meningkat. Juga defisit neraca perdagangan migas. Dampak negatif terhadap ketahanan ekonomi energi akan lebih besar daripada positifnya. Sebab, di sisi hulu, itu belum akan cukup menjadi insentif yang memadai untuk memacu investasi dan menambah penerimaan, sedangkan di hilir akan langsung memperbesar subsidi-kompensasi energi,” paparnya.

Anjungan eksplorasi minyak bumi wilayah kerja migas yang dikelola Energi Mega Persada Tbk di Kabupaten Siak, Riau, Rabu (18/9/2024). Pada semester I-2024, realisasi produksi siap jual (lifting) minyak Indonesia hanya 576.000 barel minyak per hari (Barrel of Oil Per Day/BOPD). Adapun target lifting minyak bumi dalam RAPBN 2025 sebanyak 600.000 barel per hari. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Pri Agung menambahkan, dalam kaitannya dengan visi swasembada energi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, reformasi sistem subsidi menjadi langkah yang harus segera diimplementasikan. Artinya, reformasi subsidi dari subsidi harga barang ke orang penerima subsidi diharapkan akan lebih tepat sasaran.

”Bisa dikatakan, dari demand side management, itu merupakan salah satu prasyarat untuk mewujudkan swasembada energi,” kata Pri Agung.

Lebih jauh Pri Agung menilai, dampak lain yang perlu diwaspadai dan telah menjadi permasalahan akut ialah terkait dengan defisit neraca perdagangan migas. Defisit tersebut akan memperlemah posisi nilai tukar rupiah yang dapat memberi dampak ekonomi yang lebih luas. Untuk mencapai swasembada energi, pekerjaan rumah besarnya ialah dengan membenahi sektor migas.

Warga menukarkan tabung gas LPG ukuran tiga kilogram saat mereka membeli pada salah satu di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Jalan Veteran, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (22/2/2023). Awal tahun 2023 ini kebijakan pembelian gas ukuran tiga kilogram harus menyertakan KTP Elektronik atau e-KTP sebagai salah satu bentuk pendataan. Hal ini dilakukan agar distrbusinya tepat sasaran dan tidak disalahgunakan. terdapat tiga jenis konsumen yang diperbolehkan menggunakan LPG tiga kilogram yaitu rumah tangga, usaha mikro, petani, dan nelayan. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 22-02-2023

Hasil studi ReforMiner Institute pada 2021 menunjukkan, kebutuhan devisa impor migas berpotensi meningkat signifikan jika Indonesia tak dapat lagi memproduksi migas di dalam negeri.

Rata-rata kebutuhan devisa impor migas selama 2015-2022 sekitar Rp 290 triliun per tahun. Dengan menggunakan acuan skenario konsumsi migas Rencana Umum Energi Nasional dan tiga skenario Outlook Energy, kebutuhan devisa impor migas pada 2050 akan menjadi Rp 2.500 triliun-Rp 3.500 triliun per tahun.

Tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir membuat lifting minyak bumi anjlok menjadi sekitar 577.000 barel per hari. Padahal, kebutuhan nasional sekitar 1,6 juta barel per hari.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iqbal Basyari
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi undefined