Hadapi Kebijakan Tarif Trump, Prabowo Sebut Potensi Pasar Domestik dan Pasar Baru (1)

Pasar domestik yang besar disebut bisa atasi tarif Trump, selain upaya membuka pasar-pasar baru. Fundamental ekonomi Indonesia juga diyakini cukup kuat.

07 Apr 2025 12:28 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nina Susilo, Cyprianus Anto Saptowalyono, Sutta Dharmasaputra, Iqbal Basyari, Nino Citra Anugrahanto

Saat berbincang dengan sejumlah pemimpin media di kediaman pribadinya di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Minggu (6/4/2025), Presiden Prabowo Subianto menjawab berbagai masalah, termasuk perihal kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Presiden AS Donald Trump dan antisipasi guncangan pada pasar modal. Berikut petikannya yang akan menjadi tulisan pertama dari tiga tulisan hasil wawancara dengan Presiden.

Bagaimana mengatasi masalah kebijakan tarif Trump?

Nanti mungkin kita akan mengalami dampak yang berat, terutama yang bisa kena (dampak) adalah industri tekstil, sepatu, garmen, dan furnitur. Ini berat karena ini padat karya.

Tapi kita akan cari jalan keluar, kita harus berani mencari pasar baru. Kita ini terlalu manja juga, sih. Kita, tuh, selama ini tertarik oleh ekonomi Amerika. Benar? Karena ini, kan, sistem ekonomi yang Amerika ajarkan kepada kita.

Free market, globalization, there are no borders. Mereka ajarkan kepada kita. Kita murid yang setia. We follow what they teach us, all the time. The 60s, the 70s, the 80s, the 90s, 98, 99, kita ikut. Paling setia, paling loyal. Sekarang kita harus bangun, kita harus dewasa. Dan tidak hanya kita, Eropa, negara ASEAN, semua, Australia, semua!

Oh, kalau begitu, sekarang situasi berubah. Dan memang benar, situasi berubah. Dan itu yang saya sudah ingatkan bertahun-tahun. Tolong, tolong buka rekam digital saya, rekam jejak saya. Saya sudah ingatkan, ”Saudara-saudara sekalian, Indonesia harus berdiri di atas kaki kita sendiri.” Tapi orang bilang, ”Oh, retorika.”

Tidak (beretorika), saya dari dulu memperjuangkan, saya sudah sadar, saya sudah mengerti bahwa suatu saat, nobody is going to help us, tidak ada yang akan bantu kita, kecuali diri kita sendiri. Dan ini realitas. Tidak ada yang bantu India, tidak akan ada yang bantu Vietnam, tidak akan. Setiap negara harus mengurus dirinya sendiri.

Presiden Prabowo Subianto berbincang dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres (kanan), PM Malaysia Anwar Ibrahim (kedua dari kanan), dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa (kedua dari kiri) sembari menanti sesi pertama KTT G20 di Rio de Janeiro, Brasil, Senin (18/11/2024) dimulai.

Namun, banyak orang mengatakan juga bahwa Amerika memaksa semua negara untuk cari pilihan lain. Kanada sudah mengatakan, Anda baca, Anda dengar pidatonya Perdana Menteri Kanada, ”Kalau Amerika tidak mau memimpin, Kanada akan memimpin.”

Bayangkan Kanada nanti sama Eropa Barat (yang memimpin). Saya akan berangkat juga ke Eropa, awal Mei. Saya akan ketemu Perdana Menteri (Malaysia) Anwar (Ibrahim), nanti (Minggu) sore. Kita koordinasi.

Kemarin Menko Perekonomian Pak Airlangga dari Kuala Lumpur (untuk) koordinasi. Nanti menteri-menteri ASEAN juga akan koordinasi. Dan kita terus hubungan, negosiasi. Saya akan kirim Pak Airlangga ke Washington. Kita sudah punya kontak dengan tokoh-tokoh di Washington. Kita akan diskusi. Kita akan negosiasi.

Namun, satu hal yang ingin saya sampaikan. Amerika sebenarnya punya hak karena dia ingin membela kepentingan nasional dia. Bayangkan negara-negara lain punya surplus 300 miliar dollar AS, 200 miliar dollar AS, 100 miliar dollar AS. Benar enggak? Kita ini termasuk surplus yang tidak terlalu besar, 18 miliar dollar AS.

Namun, maksud saya juga, pengusaha-pengusaha kita juga harus-istilahnya-punya long term planning dan tidak tergantung pada satu pasar yang enak. Kita harus berani.

Infografik Potensi Indonesia dan Afrika terkait Konferensi Asia-Afrika di Bali

Kenapa kita tidak ke Afrika? Afrika itu the new emerging market of the world. Jumlah penduduknya besar. Resources-nya banyak. Kebutuhannya banyak.

Ada pengusaha-pengusaha kita yang berani ke Afrika. Salim Group, dia di mana-mana di Afrika itu. Mereka sekarang hobinya makan Indomie. Dan mereka kira Indomie itu makanan mereka. Ada di Nigeria, di Turki, di Mesir. Jadi, we have to look for new market (kita harus mencari pasar baru).

Yang kita concern hanya garmen, sepatu. (Populasi) kita 300 juta jiwa, lho, sebentar lagi, kita sebesar Amerika. Jadi, nanti sepatunya kita jual saja di antara kita. Pakaian, kita punya anak sekolah 75 juta mungkin. Mereka butuh sepatu. Mereka butuh pakaian; pakaian olahraga, pakaian pramuka.

Ini nanti saya harus kumpul dengan tokoh-tokoh industri. Kita bicara, kita cari jalan keluar dan kita berusaha memitigasi kesulitan yang akan ditimbulkan (akibat kebijakan tarif resiprokal AS). Dan, kesulitan ini akan kena seluruh dunia.

Bagaimana memastikan kebijakan tarif Trump tidak mengguncang ekonomi Indonesia?

Tapi ini, ya, sekarang terjadi apa? Shifting. Orang lagi cari teman, cari kawan. Kita juga bingung sebetulnya. Tapi dalam arti, kita mengerti bahwa mereka concern bahwa ekonomi mereka tidak produktif. Dia (Amerika) masih kuasai teknologi. Tapi di bidang lain, bidang mobil. Mereka sudah bisa kalah jauh mungkin dengan China.

Iya, kan? Elektronik, telepon. Iya, kan? Kita sekarang siapa yang pakai telepon buatan Amerika, mungkin, ya? Apple masih. Teknologi dia masih unggul. Jadi, ini nanti ada equilibrium baru, ya.

Robot menu dipamerkan dalam Pameran Inovasi dan Teknologi Indonesia (INTI) 2024 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (13/8/2024). Pameran ini juga dirangkai dengan berbagai kegiatan seminar, diskusi, workshop, dan konferensi yang mengetengahkan berbagai topik menarik seperti teknologi AI, Internet of Things (IoT), cloud computing, IT security, serta digital infrastructure.

Saya sendiri juga sangat prihatin. Tapi, ya, ini fakta yang dihadapi seluruh dunia. Hanya saya percaya basic kita kuat. Whatever happens, saya kira kita survive. Apa (saja krisis) yang sudah pernah kita survive. Krisis-krisis berkali-kali. (Tahun) ’68, ’98, 2008. (Krisis akibat) Covid, ya, kita hadapi. Dan kita bisa atasi.

Tapi, kuncinya kalau ada kerukunan. Jadi, saya juga prihatin. Saya juga mau dialog. Saya mau ketemulah sama siapa. Mari kita bahas.


Apa langkah pemerintah agar saat pasar dibuka setelah liburan nanti relatif tenang?

Pasar saham itu dipengaruhi oleh mekanisme pasar. Kadang-kadang naik, kadang-kadang turun. Ada siklus dan itu berjalan. Orang yang masuk pasar saham, dia itu cari untung secepat-cepatnya. Ini kalau kita bedakan dengan direct investment.

Kalau (orang yang berinvestasi langsung) ini dia punya rencana, ”Saya bikin pabrik bahan bakunya ini; bahan baku bauksit, nikel, batubara. Ini bahan baku, ini pabrik, ini distribusi, marketing, ini untung saya lima tahun, 10 tahun, 30 tahun”. Jadi kita bedakan.

Kalau saya lihat fundamental kita kuat. Apa yang terjadi di pasar saham, kita punya kekuatan dan kita akan investasi.

Orang selalu bicara kalau pasar saham jatuh. Kalau pasar saham naik, orang diam, ya, kan. Waktu sempat beberapa hari yang lalu, kan, turun, (orang bilang) ekonomi Indonesia kacau, gelap, gagal. Begitu beberapa hari naik lagi, diam, enggak ada yang komentar.

Suasana galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (24/3/2025). Sebelumnya, IHSG kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Senin (24/3). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan sempat menyentuh level terendahnya di 5.967 pada perdagangan sesi pertama atau anjlok 4,57 persen di awal pekan ini. Analis menilai, dinamika ini terjadi akibta perspektif negatif investor terhadap keuangan negara belakangan ini. Dari dalam negeri, ambruknya IHSG terjadi menjelang pengumuman struktur pengurus Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Namun, pada pukul 10.36 WIB, indeks kembali bergerak naik ke level 6.097. Sebanyak 553 saham terkoreksi, 75 saham menguat dan 151 saham lainnya stagnan. Sepanjang hari ini tercatat volume transaksi sebanyak 14,66 miliar dengan turnover Rp 14,16 triliun dan frekuensi transaksi mencapai 1.067.827 kali. Pada penutupan hari ini IHSG terkoreksi sebesar 96,961 poin ke level 6.161,21 atau melemah 1,55 persen. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Sekarang pasar saham di Amerika turun jauh sekali, tetapi pandangannya (Presiden AS) Trump, ”Oh enggak (apa-apa), ini iya (turun), tapi pada saatnya akan naik lagi.” Karena, dia melakukan hal-hal yang dia anggap memperkuat ekonomi Amerika.

Ini jawaban saya soal pasar modal. Jadi, makanya, saya tuh enggak terlalu takut sama pasar modal. Karena Indonesia punya kekuatan. Itu yang kita sadari.

Kita jangan punya rasa rendah diri. Kita kayaknya diprogram, bangsa kita, elite kita juga, bahwa kita ini lemah, kita kalah, kita ini dijajah. (Padahal), Kita ini hebat, hebat, hebat!

Lho (negara) kita (punya) utang besar. Utang kita dibandingkan dengan banyak negara, utang kita salah satu yang secara perbandingan itu terkecil di dunia. Hanya empat, lima negara (yang utangnya) lebih kecil dari kita, ya, kan.

Tabel menunjukkan posisi peringkat utang Indonesia berdasarkan lembaga pemeringkat internasional. Sumber: Kementerian Keuangan.

Inflasi kita terendah di dunia. Orang-orang ingin belajar bagaimana Indonesia mengendalikan inflasi. Anda lihat inflasi Turki 44 persen. Dia sudah hebat ini. (Inflasi) Dia turun dari 85 persen. Argentina 117 persen, (inflasi) dia sudah turun, enggak tau (mungkin dari) 300 persen.

Jadi, kita ini jangan terlalu takut. Bahwa dunia ini tidak baik-baik saja, kita penuh dengan kesulitan, terus terang saja kita koreksi diri, ya. Sebagai bangsa, selama 30 tahun ini kita banyak melakukan blunder, kita akui saja.

Jangan salah(-kan) siapa presiden (-nya). Masa satu presiden bertanggung jawab atas semua? Ini banyak blunder. Dan ini juga salah, saya juga (sampaikan), ”Hai, para teknokrat, hai para profesor, hai para guru besar, kenapa kau tidak koreksi? Kenapa kau tidak ingatkan pada saat dilakukan penyimpangan-penyimpangan? Pada saat dilakukan blunder-blunder?”



Kerabat Kerja

Penulis:

Nina Susilo, Cyprianus Anto Saptowalyono, Sutta Dharmasaputra, Iqbal Basyari, Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .